Menyoal Sepak Bola dan Klub Ideal Saya


Oleh: Riswanda AR Rasjid

Saya tidak tahu ini masih relevan atau tidak, tapi di masa saya kecil dulu kadar kejantanan seorang lelaki salah satunya ditentukan oleh suka tidaknya dia terhadap sepak bola. Mungkin terdengar seksis sekarang tapi memang nyatanya dulu seorang anak laki-laki harus bisa bermain bola, atau paling tidak, tahu soal seluk-beluk sepak menyepak bola. Kalau ada satu dua orang yang tidak suka bola, hampir pasti dia dianggap aneh bahkan ‘kurang macho’. Saya sendiri dulunya termasuk orang yang payah yang standar-standar saja dalam bermain bola dan saya banyak mendapat teman dari situ.

Tapi yang namanya zaman terus melaju dan berlalu, begitu juga nilai-nilai sosial dalam kehidupan manusia yang ikut berkembang. Sudah banyak anak laki-laki yang terang-terangan tidak suka bahkan benci bola. Tapi saya sedang tidak ingin membahas permasalahan ini. Selera itu macam pakaian, tergantung kita sreg atau tidak memilihnya. Sebagai orang yang dari orok sudah terkontaminasi virus bal-balan, kadang terlintas dalam pikiran saya tentang klub idaman dan impian yang saya ingin buat. Bukan sebagai idola (saya sudah lebih dulu suka Manchester United dari kecil, walaupun sekarang sedang mempertimbangkan kemungkinan lain melihat performa mereka yang bututnya minta ampun), hanya sekadar untuk berimajinasi tentang klub ideal yang saya harapkan benar-benar ada. Ideal di sini bisa berkaitan dengan bermacam aspek seperti sejarah, nilai-nilai yang dijunjung, bahkan mungkin sekadar persoalan logo klub atau seragam yang terlihat sangar. Kali ini, saya bakal mencoba membayangkan kira-kira seperti apa klub tersebut.

Nama Klub

“What is in a name?” Kutipan masyhur dari begawan sastra Inggris, William Shakespeare, ini menjadi pertanyaan kita yang paling sederhana mengenai sebuah klub. Apa nama klub tersebut? Apa makna yang terkandung di dalamnya? Banyak klub sepak bola, khususnya dari daratan Eropa, memiliki nama-nama yang bersifat mitologis dan legendaris. Ambil saja contoh Herakles yang dipakai oleh tim sepak bola Iraklis Thessaloniki (Yunani) dan Heracles Almelo (Belanda), Ares pada Aris Thessaloniki (Yunani), Aias atau Ajax yang tersemat di nama Ajax Amsterdam (Belanda), Spartacus (sering juga dieja Spartak) dalam nama Spartak Moskwa (Rusia), atau Hajduk (yang dalam mitologi Yugoslavia mirip seperti sosok Robin Hood) dalam nama Hajduk Split dari Kroasia. 

Nama sebuah klub sepak bola juga bisa saja berasal dari kata-kata generik macam United, City, Wanderers, Albion (keeempatnya umum di daerah Britania). Atau jika anda terlalu malas dan kurang kreatif dalam membikin nama, cukuplah menjiplak nama kota domisili klub dan mengimbuhkan akronim FC atau AFC, misalkan Liverpool FC dan Sunderland AFC. Namun selayaknya standar moral dan nilai sosial yang tak melulu sama, penamaan suatu klub dapat saja keluar dari pakem-pakem di atas tanpa harus menanggalkan identitas klub. Nama klub bagi para suporter adalah hal yang sakral dan harus dijunjung tinggi-tinggi. Saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar soal suporter Hull City yang menolak si pemilik mengganti nama klub menjadi Hull Tigers, kendati The Tigers sendiri adalah julukan klub kesayangan mereka. Ungkapan Shakespeare lainnya, “By any other name would smell as sweet” tidak berlaku di sini.

Saya sendiri bukan tipikal yang mau berpusing-pusing soal beginian. Kalaupun disuruh memilih, saya akan menyematkan nama “PS Angling Dharma” pada klub bikinan saya. Alasannya? Biar tidak seragam macam klub-klub Indonesia yang hampir semua memakai akronim Per-. Selain itu, saya juga bisa memberi penghormatan bagi raja legendaris asal kota saya, Angling Dharma. Lagipula orang Indonesia suka yang berbau sejarah ‘kan ya? Hehe.

Logo Klub

Identitas lainnya yang umumnya dimiliki suatu klub adalah logo. Logo di ranah kulit bundar sudah layaknya panji perang. Tiap-tiap klub memilih identitas logo yang mewakili daerah asal, kelas sosial, bahkan ideologi politik yang dianut klub tersebut. Sosok hewan yang menggambarkan kekuatan seperti singa, elang, banteng, harimau, buaya, beruang, gajah, dan lainnya sering digunakan sebagai penanda identitas klub. Contohnya saja AS Roma dengan capitoline wolf-nya yang juga merujuk dari legenda Romulus-Remus tentang berdirinya kota tersebut, Persebaya dengan legenda duet maut (bisa jadi bermakna harfiah, kalau anda tahu maksud saya) Hiu Sura dan Baya si Buaya, atau Liverpool dengan liverbird yang juga merupakan logo kota setempat. 

Logo bisa juga menggambarkan ideologi yang dianut sebagaimana duo Belgrade; Crvena Zvezda dan FK Partizan dengan bintang merah dan obor yang identik sebagai ikon komunisme Yugoslavia; Sparta Praha yang secara terang-terangan menjiplak perisai (dan nama) Sparta untuk melambangkan perlawanan mereka terhadap Turki Ottoman. Atau kalau anda ingin terlihat sedikit hipster dan edgy, anda bisa meniru apa yang dilakukan oleh Joinville dan Bangkok Glass yang sama-sama menyematkan gambar kelinci di logo mereka, yang saya pikir tidak cukup untuk menakutkan lawan mereka. Jujur saja, kelinci seringnya memunculkan kesan lucu dan imut di kepala kita. Tapi kecuali kelinci itu bisa bicara, apalagi dengan suara Ryan Reynolds. Mantap.

Menyoal logo bagi klub impian saya, saya akan memilih gambar naga. Alasannya? Lagi-lagi berhubungan dengan legenda Angling Dharma, yang diceritakan memiliki naga peliharaan bernama Naga Bergola. Lagi-lagi sejarah, eh? Halah, persetan. Saya lebih peduli dengan keselamatan diri saya. Daripada nanti diserang netizen Indonesia yang mengagungkan sejarah ‘kan? Yang jelas, menjiplak logo pemda sebagai logo klub adalah wujud nyata ke-boomers-an sebuah klub (Ehem: Persija, Persib, dan klub Indonesia lainnya).

Ideologi Klub

Jadi sampai mana kita? Oh, iya. Ideologi. Haduh. Sudah macam kuliah filsafat saja rasanya. Menyoal ideologi klub, jarang klub yang secara formal mendefinisikan ideologi mereka. Seringkali, suporter-lah yang mengidentifikasikan klub tersebut sebagai perwujudan ideologi mereka. Ambil contoh Boca Juniors di Argentina. Mereka berasal dari distrik La Boca yang merupakan distrik pelabuhan dan kental akan etos kelas pekerja serta multikulturalisme, yang pada akhirnya membuat pendukung Boca lebih cenderung libertarian dan egaliter. Sankt Pauli juga dapat menjadi contoh. Klub asal Hamburg ini memiliki latar belakang yang kurang lebih sama dengan Boca Juniors, sama-sama berasal dari distrik pelabuhan. Bedanya, Ultras Sankt Pauli relatif lebih beragam dan progresif. Bagaimana tidak? Stadion mereka, Millerntor, hanya sepelemparan batu dari kawasan esek-esek terkemuka di Jerman, Reeperbahn, di mana orang-orang yang dicap begundal dan punk tumplek blek jadi satu dengan ideologi anarko-libertarian mereka. Hasilnya, Sankt Pauli justru lebih terkenal dengan suporter mereka yang anti-fasis, anti-homofobik, anti-komersialisme, dan begitu terbuka pada para pengungsi. 

Lain halnya dengan pendukung Zenit Saint Petersburg di Rusia. Mereka terang-terangan menolak adanya pemain berkulit gelap di skuat mereka dengan alasan “menjaga kemurnian klub”. Atau kalau mau lebih ekstrim, lihat Beitar Jerussalem. Pendukung garis keras klub asal Israel ini, La Familia, dengan bangganya mendaku sebagai “ultras paling rasis di dunia”, di mana mereka pernah memboikot pertandingan Beitar karena klub tersebut merekrut pemain muslim. The Guardian sampai-sampai membikin dokumenter khusus untuk melihat betapa sayap kanan-nya pendukung klub ini. 

Oke. Jadi saya harus memilih ideologi klub saya juga ya? Baiklah. Saya akan mengutip kata-kata ketua Ultras Livorno, Brigate Autonome Livornesi, ketika ditanya soal ideologi klub mereka: KIRI. SELALU KE KIRI. Cristiano Lucarelli pasti terpaksa mandi wajib setelah mendengar pernyataan saya barusan.

Susunan dan Formasi Pemain

Membayangkan siapa saja yang akan turun di lapangan dan formasi yang dipergunakan, selalu menyenangkan. Banyak pertimbangan yang harus diambil macam kemampuan individu, strategi pelatih, atau hal remeh macam lebat tidaknya rumput lapangan. Tapi saya sedang tidak ingin membahas persoalan lebat atau tidak lebat, melainkan kemampuan individu dan strategi.

Untuk formasi, saya memilih formasi 4-3-3. Mengapa? Sederhana. Karena formasi itu adalah favorit saya di gim PES dan FIFA. Itu saja? Sebentar! Selain hal di atas, saya menyukai formasi ini karena cukup cair dalam permainan dan seimbang dalam menyerang serta bertahan. Empat bek (2 bek tengah dan 2 fullback), ditambah 2 gelandang bertahan, satu gelandang serang, dua penyerang sayap untuk masing-masing sisi, dan satu striker. Formasi ini juga menuntut para pemain di dalamnya untuk memikul tanggung jawab yang sama dalam bertahan dan menyerang. Sama rata. Sama rasa. Sesuai ideologi klub.

Pelatih yang saya pilih untuk menggawangi tim impian saya ini adalah El Loco Himself, Marcelo Bielsa. Dia adalah pelatih yang oleh Pep Guardiola sebut sebagai pelatih terbaik di dunia, terlepas dari lemari trofinya yang lebih lengang daripada jalanan Jakarta kala lebaran. Dia pelatih yang perfeksionis, selalu menuntut yang terbaik. Gaya mainnya juga sesuai dengan selera saya. Dia adalah mahaguru strategi pressing intensitas tinggi sepanjang pertandingan. Ketika pemain kehilangan bola, Bielsa selalu menyuruh pemainnya segera merebut bola sembari misuh-misuh di pinggir lapangan. Bayangkan apabila timnas Indonesia dilatih olehnya. Pemain timnas pasti sudah merengek minta dipulangkan saja dari pemusatan latihan.

Karena ini tim khayalan, mungkin saya bisa menurunkan siapapun, baik pemain yang masih aktif maupun sudah pensiun. Ya ‘kan? Baiklah mungkin saya akan batasi pemain yang masih aktif. Posisi pertama adalah kiper, posisi saya bermain dulu (Abaikan saja. Silakan lanjut membaca). Posisi ini sering tidak dianggap dalam permainan macam saya yang sering diabaikan gebetan. Dalam urusan penyebutan formasi saja, posisi ini tidak masuk hitungan! Lihat saja ketika susunan formasi disebutkan. 4-4-2, 3-4-3, 5-3-2, semuanya jika dijumlahkan hanya 10! Kiper adalah posisi marjinal! Refleks, kelenturan, dan kekuatan tubuh adalah beberapa hal dasar yang harus dimiliki oleh seorang kiper selain pengambilan keputusan dan distribusi bola yang baik. Sosok yang cocok sebagai starting bagi saya adalah Manuel Neuer.

Rasanya sudah terlalu banyak pundit yang menganalisis gaya main Neuer. Silakan baca saja analisis mereka atau cobalah bermain Footbal Manager untuk tahu. Panjang nanti ceritanya. Hal yang pasti adalah dia memiliki reflek dan distribusi yang bagus, plus leadership. Selanjutnya duet bek tengah. Dalam formasi 4-3-3, posisi ini biasanya diisi oleh satu bek bertipikal garang, seorang komandan defensif murni dan satu bek flamboyan yang nyaman memainkan bola di kakinya. Pada akhirnya saya memilih duet maut asal Italia, Giorgio Chiellini dan Leonardo Bonucci. Chiellini adalah monster untuk urusan bertahan. Gaya mainnya tanpa ampun dan basa-basi. Benar-benar tipikal bek ortodoks. Sedangkan partnernya, Bonucci, lebih bertipikal ball-playing defender. Kemampuan passing-nya kelas wahid. Tak heran klub mereka, Juventus, begitu digdaya di Italia meskipun di Eropa masih sering mentok.

Berikutnya adalah fullback. Posisi marjinal lainnya. Posisi yang dulu sering diserahkan buat mereka yang tidak cukup kuat untuk jadi bek tengah tapi juga tidak cukup lincah untuk jadi pemain sayap. Tapi sebagaimana hari dan masa yang terus berlalu, posisi ini jadi kian penting. Kini posisi ini sering diisi oleh pemain dengan kemampuan bertahan dan menyerang sama baiknya. Mengapa? Karena tuntutan permainan masa sekarang yang menuntut mereka untuk overlap kala menyerang dan sesegera mungkin turun ketika bertahan. Pokoknya tidak cocok buat tipikal pemain timnas kita yang ketika babak pertama garang tapi begitu masuk menit-menit akhir lemas seperti kerupuk basah. Posisi ini saya percayakan pada Marcelo di kiri dan Trent Alexander-Arnold di kanan. Marcelo tidak perlu dipertanyakan lagi performa dan pengalamannya di level klub. Yang pasti Florentino Perez harus bancakan besar-besaran saat pemain timnas Brazil tersebut pensiun. Trent, di sisi lain masih kalah secara pengalaman. Namun soal skill dan kecerdasan, keduanya boleh diadu. Ditambah fakta bahwa Trent masih berusia 21 tahun. Masa depannya masih cukup panjang.

Kini kita sampai di posisi gelandang bertahan. Posisi yang sering dibilang sebagai “Bagian Bersih-bersih” karena mereka adalah pemutus alur serangan lawan sebelum masuk sepertiga akhir lapangan. Saya sering menganggap mereka sebagai bek yang tidak kebagian tempat di belakang karena kemampuan defensif mereka yang bagus, intelejensia untuk membaca permainan lawan yang di atas rata-rata, serta (untuk beberapa kasus spesial) kemampuan mengumpan yang mumpuni. Untuk posisi ini saya akan memberikannya pada N’golo Kante dan Casemiro. Kante, yang meskipun secara postur terlihat seperti anak SMP ketika di lapangan adalah salah satu gelandang bertahan terbaik di dunia dalam 5 tahun terakhir. Kemampuan tekel dan daya juang serta work rate-nya sangat luar biasa. Casemiro, di sisi lain, sebetulnya memiliki atribut yang kurang lebih sepadan dengan tandemnya tersebut. Tapi nilai lebih yang dia miliki adalah passing-nya yang cukup mumpuni. Selain itu dia bisa menjadi wild card ketika skor buntu dengan tendangan geledeknya.

Posisi selanjutnya adalah gelandang serang. Otak serangan tim. Jenderal di lini depan. Dia menjadi pemain depan pertama yang menerima bola dan membagikannya ke segala penjuru. Biasanya pemain di posisi ini memiliki kecerdasan dan visi yang sangat berguna dalam permainan. Selain itu, pemain di posisi ini biasanya juga memiliki gocekan yang bagus. Posisi ini saya berikan pada Mesut Özil. Terlepas dari performanya yang menurun beberapa tahun belakangan, Özil masih menjadi salah satu gelandang serang favorit saya. Visi, olah bola, dan kecerdasan yang ia miliki di atas rata-rata. Rasanya tidak salah saya memberikan kesempatan bagi dia.

Sekarang kita beralih ke penyerang sayap. Ini adalah salah satu posisi yang sering menjadi sorotan dalam pertandingan. Tentu saja karena pemain di posisi ini biasanya memiliki gocekan dan akselerasi maut yang dapat membuat pertahanan lawan kocar-kacir. Di masa sekarang, penyerang sayap juga memiliki finishing yang hampir setara dengan striker, selain tentunya umpan silang berbahaya (sebagaimana diperlihatkan penyerang sayap ortodoks yang hanya bertugas melepas umpan silang). Posisi ini saya berikan pada Lionel Messi di kiri dan Jadon Sancho. Messi adalah fenomena yang terjadi 100 tahun sekali. Rasanya belum bakal ada yang mampu menggantikannya sampai 100 tahun ke depan. Sancho sendiri masih sangat muda, 19 tahun. Tapi statistiknya selama memakai seragam Borussia Dortmund sudah cukup mentereng. Gabungan tipikal sayap ortodoks dan modern. Sangat mematikan. 

Terakhir, adalah juru gedor alias striker. Dalam formasi ini saya memilih striker dengan paket komplit. Selain atribut ofensif, dia juga harus bisa menjadi orang pertama yang memutus serangan lawan sebelum masuk separuh lapangan. Dan orang yang menurut saya cocok mengenakan nomor 9 (nomor kebesaran striker) adalah Romelu Lukaku. Ketika bermain dia seperti debt collector dengan fisik tinggi besar. Bagi pemain lawan, Lukaku bagaikan sosok kakak kelas yang menyebalkan dan sulit ditandingi. Oh, dan ia sedang dalam performa terbaik di Internazionale. Sahih sudah pilihan saya.

Jadi kira-kira seperti itu tim impian saya. Anda setuju? Bah, ra urus dapuranmu nek ra setuju. Hehe. Namanya juga tim impian. Tiap orang punya preferensi masing-masing.

Untuk info tambahan mengenai logo klub sepakbola:

https://sport.detik.com/aboutthegame/pandit/d-2428806/bau-kapitalisme-pada-logo-klub-sepakbola

https://sport.detik.com/sepakbola/pandit/d-2429729/melawan-di-lapangan-hijau-lewat-nama-dan-logo

Seluk beluk mengenai Sankt Pauli:

https://sport.detik.com/sepakbola/pandit/d-2188591/tengkorak-st-pauli-bagian-1?a991101mainnews=

https://sport.detik.com/sepakbola/pandit/d-2188599/tengkorak-st-pauli-bagian-2

Menyoal Ultras La Familia Beitar:


Penulis: Riswanda AR Rasjid, bocah tua nakal. Hopeless romantic yang tetap cinta Manchester United meskipun performa mereka begitu menggoda buat selingkuh. Beralamat di @benrasjid di Twitter dan Instagram.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *