1982


Oleh: Aldinza Muhammad

Ini adalah satu dari sekelumit kesialan yang menimpanya. Ia harus naik bus kelas ekonomi. Bertahan di tengah hawa panas dan bau kecut penumpang lain yang sepertinya sudah biasa hidup dengan suasana neraka macam itu. Meski ia gunakan masker tebal menutupi wajahnya, bau itu tetap berhasil menelusup masuk ke lubang hidungnya, membuat perutnya sesekali mual dan memberontak ingin mengeluarkan semangkuk sup yang ia makan dua jam sebelumnya.

Ia duduk di kursi paling depan, tepat di belakang sopir yang kepayahan mengemudikan bus reyot yang lebih mirip seonggok kaleng berjalan. Posisi duduknya saat itu membuatnya terpaksa menghadap rembesan keringat yang menempel di punggung kaos si sopir. Entah demi tuhan atau demi setan, ia melihat kaos itu seperti melihat hamparan peta suatu negara. Keringat si sopir yang kelebihan berat badan itu bahkan telah menghijau, mengerak membentuk pola yang menarik untuk diamati, tapi menjijikkan untuk didekati.

Gadis itu, lahir ketika tuhan sedang menang lotere, mengalahkannya. Begitu ia keluar dari rahim ibunya yang sempit, ia disambut ruang bersalin kelas satu di sebuah rumah sakit termahal di kotanya. Bidan yang mengangkat bayi itu pertama kali nyaris melemparkannya kembali karena ia pikir ia sedang menggendong seorang bidadari. Cantik sekali. Takjubnya. Bayi yang kelak akan dianamai ibunya Diana itu, memekikkan tangis seketika, seolah ia tak rela harus turun ke bumi yang busuk ini. Dan memikirkan dirinya harus menghirup udara yang sama dengan yang dihirup segala makhluk yang melata-lata di atasnya, membuat si bayi menangis semakin nyaring. Namun, dengan ketaktahudirian yang biasa, penduduk bumi seolah sepakat, mereka tersenyum menyambut kedatangan si bayi hari itu. Bahkan sang ibu, tak sabar ingin membesarkannya dan menjadikannya gadis paling memesona di dunia.

Bagaimanapun, bayi yang dirawat dan diberi makan enak akan tumbuh sehat meski si bayi sendiri lebih menginginkan mati. Di ulang tahunnya yang ke lima belas, si bayi yang telah jadi gadis adiratna itu menerima kado yang melimpah. Kebanyakan dari para putra teman ibunya yang juga kaya raya, yang berharap bisa mengail hati si gadis. Dan tak satupun terlihat berhasil. Pesta ulang tahun itu sangat megah, dihelat di rumahnya yang tak kalah indah. Khas orang kaya. Pernak-pernik menghiasi tembok dan pilar-pilar raksasa. Lampu-lampu hias digantungkan, menyeberang dari satu jendela ke jendela lainnya. Makanan dihidangkan tanpa sungkan, menguarkan aroma sedap mengundang selera. Jika rumah itu ibarat tubuh orang, maka pintu dapur adalah lubang dubur yang terus menerus mengeluarkan makanan untuk disajikan, lalu dimakan, dan kemudian dikeluarkan jadi kotoran. Dan di antara lautan makanan itu, sebuah kue tart setinggi orang dewasa berdiri kokoh menunggu untuk dibelah. Itulah hari dimana ia bertemu dengan laki-laki yang kelak membuatnya harus berpayah-payah naik bus kelas ekonomi, menilik dengan jijik kerak keringat dari punggung kaos seorang sopir, yang menurutnya lebih mirip seekor tapir.

Bis peyot itu telah memasuki jalur tol. Memungkinkan dirinya dipacu dengan kecepatan paling binal. Meski peyot, bus ekonomi tetap saja bus ekonomi, lengkap dengan kengawurannya dalam bermanuver dan berlenggak-lenggok, apalagi di jalan tol yang lebar, seolah tak peduli perut penumpang dibuatnya jadi mual. Si gadis masih menahan-nahan muntah yang sesekali meninggi sampai ke kerongkongannya. Ia mengambil sebotol minyak telon dari tas pinggang kecilnya, lalu ia oleskan di leher dan jidatnya, berharap hal itu bisa menghentikan mual dan jijiknya, atau setidaknya menundanya.

Laki-laki yang akan ditemuinya itu kemungkinan adalah bajingan dari para bajing. Dengan kekayaan milik orang tuanya, ia beli buku-buku mahal dan ia bangun perpustakaannya sendiri di rumahnya. Kepemilikannya terhadap buku-buku membuat laki-laki itu jadi sok tahu, dan tak ada yang tahu, apakah sesungguhnya ia memang banyak tahu atau tidak, sebagaimana tak ada yang tahu buku-buku di perpustakaannya itu ia baca atau hanya ia pajang sampai berlumut debu. Dan jika benar buku-buku itu ia baca, maka kuat dugaan, hal itu untuk tujuan tercela.

Pertemuan itu berawal saat si laki-laki sedang berdiri di depan sebuah meja pesta yang panjang dengan berbagai makanan terhampar di atasnya. Pikirannya sedang sibuk memilih makanan apa yang akan pertama-tama ia masukkan ke perutnya, untuk kemudian ia cerna, hingga makanan itu moksa menjadi tinja. Dan jika makanan-makanan itu punya jiwa (belum ada yang bisa memastikan ini), mereka akan ketakutan setengah mati karena ditodong tatapan tajam seorang laki-laki ber-rahang monyong dengan gigi besar dan perut lapar. Tak semua makanan tertarik untuk moksa menjadi kotoran. Di antara banyak makanan di meja itu, hanya semangkuk acar di pojok meja yang punya cukup kebijakansanaan untuk pasrah jika hari itu ia harus moksa dan berakhir di WC yang basah.

Tapi makanan-makanan itu rupanya sedang beruntung. Si monyong tiba-tiba teralihkan perhatiannya pada seorang gadis yang menuruni tangga. Dan makanan-makanan itu bisa melihatnya dengan jelas dari muka si monyong, bahwa seketika itu, lapar di perut si monyong telah hilang. Tapi bukan berarti si monyong tiba-tiba jadi kenyang, laparnya hanya berpindah dari perut ke pangkal selangkangan.

Si monyong bukan satu-satunya yang dibuat melamun. Kehadiran gadis itu membuat seruangan ternganga seperti orang linglung. Selangkah demi selangkah si gadis menuruni tangga, menebarkan pesona seolah mawar menguar aromanya, dan semua laki-laki di ruangan itu adalah serangga yang tak sabar ingin mengerubutinya. Dan pada akhirnya, gerombolan serangga tak tahu diri itu memang mengerubuti si gadis, menanyainya ini dan itu, bergantian menyapanya, dan mencoba menggodanya. Si gadis sendiri bersikap seperti batu yang dipaksa tersenyum menanggapi kelakuan para serangga, menghasilkan senyuman yang sebenarnya lebih mirip orang lagi mengejan buang kotoran. Tapi karena senyum itu bercokol di wajahnya, bukan di wajah orang lain, serangga-serangga itu tetap saja dibikin terpesona, menatapi si gadis dengan tatapan yang menggelikan, seperti orang yang baru disulap menjadi tolol dalam sekejap.

Itulah saat di mana mereka bertama kali bertatap muka, Diana dan si monyong. Meski hanya sekelebat, si monyong diam-diam telah mematrikan wajah Diana di sanubarinya. Dengan tetap mematung di depan meja yang menghamparkan makanan di atasnya, si monyong tersenyum. Dan tak ada yang tahu itu senyum kagum atau senyum seorang keparat yang sedang ingin berbuat jahat.

Yang jelas, sejak pesta ulang tahun memuakkan itu, Diana sering mendapatkan kiriman surat tak bertuan. Surat-surat itu berisi puisi-puisi dengan kata-kata indah. Di zaman itu, surat sudah nyaris tak dipergunakan lagi. Orang-orang kaya berinteraksi menggunakan telepon genggam, orang-orang menengah menggunakan telepon rumah, orang-orang miskin mengandalkan mulutnya, hanya orang tolol yang masih menggunakan surat, begitu pikir si gadis.

Tapi sepertinya, si laki-laki memang benar-benar si tolol kesurupan yang mengira surat-surat itu akan menjadi kiriman-kiriman penuh perasaan. Tentu saja, surat-surat itu tak pernah dibalas si gadis, membacanya saja ia enggan. Namun di suatu sore, ketika matahari mulai lelah melayang, dituntun rasa bosan, si gadis membukai surat-surat yang telah menumpuk hampir selemari itu. Ia bacai omong kosong itu. Dan tanpa sadar si gadis yang saat itu telah berumur delapan belas tahun, menyunggingkan sepotong senyum dari wajahnya. Dan tak ada yang tahu itu senyuman geli atau senyuman bahagia, sebagaimana tak ada yang tahu bahwa perlahan-lahan, sang dewi sedang terjebak dalam perangkap yang disiapkan dengan sabar oleh seekor bajing yang telah lama menahan kencing.

Sudah tiga tahun, surat-surat itu tak henti-hentinya datang bagai hujan di akhir masa tanam. Ia bahkan tak tahu dengan apa surat itu sampai di jendela kamarnya, kadang di atas ranjangnya, kadang di meja belajarnya. Barangkali si pengirim meminta bantuan tuhan untuk mengirimkannya. Sejak sore penuh kebosanan yang berbuah senyum indah waktu itu, si gadis mulai rajin membacai surat-surat yang datang kepadanya, memunculkan senyum-senyum lain dan senyum-senyum baru. Jika si pengirim melihat reaksinya waktu itu, saking bahagianya, mungkin ia bisa mati berdiri, atau jika ia tidak mati, setidaknya kemaluannya pasti berdiri.

Kenyataannya, surat itu terus saja datang, menghujani kamarnya tanpa ampun, bertahun-tahun. Dan sialnya ,si gadis jadi seperti ketagihan membacai surat-surat itu. Seiring waktu, isi surat itu tak hanya puisi dan sajak saja. Banyak cerita-cerita aneh yang diceritakan melalui surat itu dan Membuat si gadis tertawa sampai suaranya terdengar menggema di lorong-lorong rumah besarnya, membuat para pelayan bingung dan menduga-duga, apa jangan-jangan tuannya itu tiba-tiba menjadi gila. Namun, salah seorang pelayan paling muda mengatakan, mungkin tuannya itu sedang jatuh cinta, dan dengan cepat pelayan yang lain, yang paling tua dan telah jadi janda berkata, berarti ia telah memulai kegilaannya.

Bagi si gadis, bisa dikatakan hanya isi surat-surat itu yang menurutnya penting di dunia ini. Sampai pada tahap ini, si gadis telah menjadikan membaca surat-surat ajaib itu sebagai pekerjaan rutinnya di tiap hari menjelang senja. Berguling-guling di kasur empuknya sambil cekikian menentang sepucuk surat di hadapannya. Kadang selesai membaca sepucuk, si gadis akan bangkit dan berdiri di depan kaca dan menatapi kecantikannya yang tak bercela. Dan hal itu mengingatkan padanya betapa ia tak sudi dilahirkan, namun sejak surat-surat itu, ia mulai berpikir apakah mungkin ia jatuh cinta pada seseorang. Dan perlahan-lahan ia mulai penasaran dengan bajingan yang telah membuat hatinya berdebar di tiap waktu langit menghamparkan warna keemasan.

Sebagaimana sepucuk surat pada umumnya, ia diciptakan untuk menyampaikan pesan dari tuan yang menulisinya. Meski ia tak setuju pada perkataan yang ditulis si tuan, ia tak boleh memrotes apalagi sampai diam-diam mengubahnya. Itu sudah prinsip yang diajarkan turun temurun oleh nenek moyang surat ketika mereka masih berupa lempengan tanah liat. Dan sore itu, surat itu ditulisi sederet huruf yang menghasilkan satu kalimat singkat berujung tanda tanya. Tak ada yang tahu apa yang dituliskan di tubuh si surat kecuali surat itu sendiri dan penulisnya, atau barangkali tuhan juga tahu, angin juga tahu, langit juga tahu, pohon dan batu juga tahu, dan semua benda-benda kecuali manusia telah tahu isi surat itu. Memang hanya manusia yang dikutuk menanggung kerahasiaan, sebagai gantinya ia diberi akal untuk mengungkapnya.

Surat itu diantar ke sebuah kantor pos yang tampak usang bangunannya, dijaga oleh seorang petugas dengan kemeja yang empat kancingnya terbuka. Si petugas sedang merokok dan bermalas-malasan di balik meja kerjanya. Dan dengan nada tak meyakinkan, ia berjanji akan mengurus surat itu dan mengirimkannya ke tujuan yang tertera. Maka demikianlah hari itu si surat dikirim menuju alamat yang telah dituliskan. Ia hanya bisa berdoa agar tukang pos yang mengirimkannya tidak tersesat. Sekilas ia mengingat, bahwa alamat yang akan ia tuju itu ada di tempat yang jauh, tempat yang sama sekali berbeda dengan tempat si pengirim berada, baik udara maupun suasananya. Sebuah tempat yang bahkan entah benar-benar ada, atau tidak.

Dengan rasa canggung yang aneh, untuk pertama kalinya, si gadis mengirim sepucuk surat balasan dari ratusan bahkan ribuan surat yang bertahun-tahun tak henti-henti menghujaninya. Entah keyakinan macam apa yang hinggap di kepalanya, ia tiba-tiba merasa yakin tentang siapa pengirim surat-surat tak bertuan itu. Ia yakin pengirim surat itu hadir di ulang tahunnya yang ke lima belas. Seorang laki-laki yang gigih dan sabar. Dan demi kegigihan dan kesabaran itu, ia merasa suratnya layak untuk dibalas. Maka ia panggil pelayannya, dan meminta daftar tamu yang hadir di pesta ulang tahunnya lima tahun lalu.

Kesabaran dan kegigihan adalah kunci keramat untuk membuka pintu hati perempuan. Begitu yang ia pelajari dari buku-buku miliknya. Sepulang dari pesta ulang tahun putri kenalan ibunya, ia bergegas menuju perpustakaan pribadinya. Mencabut beberapa buku, membacanya bergantian, mengambil sepucuk kertas, lalu menuliskan sesuatu di atasnya. Itu adalah surat pertamanya yang akan melayang ke kamar si gadis yang telah membuat ngilu pangkal selangkannya. Gadis itu harus menjadi miliknya, harus kawin dengannya, harus tidur dengannya, begitu pikirnya. Dan ia tak peduli jika itu membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk meluluhkan hati si gadis yang tatapannya sedingin es batu itu. Ia akan sabar menunggu. Dan entah itu berasal dari buku-buku yang ia baca atau hanya hasil buah pikir dari otaknya yang kecil, ia putuskan mengirimi si gadis surat-surat tanpa ampun,tanpa rasa malu, tanpa nama, dan tanpa alamat pengirim. Para wanita menyukai sosok misterius, kata sebuah buku yang entah ditulis oleh bajingan tolol sok tahu dari belahan dunia bagian mana.

Waktu berlalu, dan ia tahu bahwa surat-surat darinya tak menunjukkan tanda-tanda akan digubris oleh si gadis. Kesabaran dan kegigihan adalah kunci keramat untuk membuka pintu hati perempuan. Kalimat itu ia ucapkan perlahan-lahan sebagai pengingat agar dirinya sabar. Sebenarnya, ia bisa saja berbuat seperti penjahat, mengendap-endap ke kamarnya, lalu diam-diam menidurinya dan menghilang sebelum si gadis sempat memekik dan menghardik. Atau bisa juga, diam-diam, ia campur obat perangsang ke dalam makan malam si gadis dan tinggal menunggu reaksi yang terjadi sambil bersembunyi di dalam kamar, tepat di bawah kasur atau di dalam lemari. Tapi hal menjijikkan itu tak ia lakukan, bahkan ia pendam dalam-dalam. Yang ia inginkan bukan persetubuhan sesaat. Ia ingin si gadis dan dirinya kawin, hidup bersama dalam cinta, dan melihat wajah si gadis di tiap bangun tidurnya setelah semalaman melakukan persetubuhan paling gila. Maka ia memilih sabar dan menunggu. Ia percaya, seperti kata buku-buku, kesabaran dan kegigihan adalah kunci keramat untuk membuka pintu hati perempuan.

_

Berbekal keyakinan, Diana memutuskan diam-diam pergi dari rumahnya. Ia akan menemui si pengirim surat yang bertahun-tahun tak lelah menghujaninya dengan puisi, sajak, dan akhir-akhir ini cerita aneh yang lucu. Ia tak pernah sepenasaran itu dengan sesuatu. Maka seusai sarapan pagi, ia menyelinap pergi dengan menenteng tas kecil dan sepucuk kertas bertuliskan alamat yang ia salin dari daftar tamu pesta ulang tahunnya lima tahun lalu. Sebenarnya, ia bisa saja meminta tolong supirnya untuk mengantarkannya. Namun, sebisik ide tolol masuk melalui telinga kanannya sebangun tidur. Ia akan mencari si laki-laki sendiri. Dan itu akan menjadi pencarian dan pertemuan yang manis.

Tak ada tujuan lain yang ia tuju kecuali terminal bus. Ia ingat, terminal bus adalah tempat di mana orang mengawali kepergian. Di terminal, ia sodorkan sepucuk kertas bertuliskan alamat ke kenek bus.

“Aku mau ke sini.”

Dan si kenek hanya menunjuk ke arah sebuah halte dengan bus peyot berhenti di depannya. Bus menggelisahkan itu lah satu-satunya kendaraan yang bisa membawa si gadis menuju alamat yang diburunya. Si gadis mulai berpikir bagaimana mungkin pesta ulang tahunnya bisa didatangi tamu dengan alamat rumah seterpencil itu.

Begitulah, bagaimana si gadis bisa sampai terjebak dalam kotak kaleng berjalan itu, menabahi keputusannya sendiri karena pergi sendiri. Meski di dalam hatinya ia yakin, perjalanan sial ini akan membuahkan hasil yang setimpal.

Bus tua itu telah selesai berlenggak-lenggok di jalan tol. Ia tampak kelelahan dipaksa dipacu dengan kecepatannya ketika ia masih muda. Tujannya sudah dekat. Dan sebentar lagi ia bisa beristirahat. Satu demi satu penumpang turun. Termasuk si gadis yang tampak terhuyung-huyung. Melihat si gadis, bus tua itu langsung tahu, bahwa gadis itu sedang menjalani sebuah perjuangan yang menurutnya berawal dari ketololan.

Akhrinya si gadis sampai di depan pintu sebuah rumah yang alamatnya tertera persis dengan yang ada di kertas kecilnya. Saat itu hari sudah sore, biasanya di waktu itu ia sedang asyik membaca surat yang bertahun-tahun secara ajaib muncul di kamarnya. Tapi hari itu,ia tak melakukannya, karena ia sedang berada di depan rumah si penulis. Muncul pikiran dibenaknya, ia akan menyuruh si penulis untuk membacakan langsung kisah-kisah aneh atau lucu yang sering ia kirim. Ia akan menginap di rumah itu untuk mendengarkannya sepanjang hari. Dan barangkali bisa sambil menyandar di pundaknya atau tertidur di pangkuannya.

Di rumahnya, si monyong telah menyelesaikan suratnya untuk hari itu. Ia juga telah menyiapkan cara ajaib untuk mengirimkannya tepat langsung ke kamar si gadis buruannya, seperti hari-hari biasanya. Setelah melipat si surat dan memasukannya ke amplop, ia menentengnya menuju pintu keluar rumahnya.

Di luar dugaan, si gadis tak berani mengetuk pintu di hadapannya. Ada perasaan berdebar yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dan itu membuatnya semakin yakin bahwa ia memang jatuh cinta pad si pengirim.

_

Meski kota itu bukan kota besar dan letaknya terpencil, rumahnya bisa dikatakan cukup besar. Penghasilannya sebagai penulis di berbagai media, serta honorarium dari buku-buku yang ditelurkannya membuatnya menjadi laki-laki yang cukup kaya di kota kecil tersebut. Ia sudah sangat bersyukur kepada tuhan atas apa yang dimilikinya, namun sore itu ia kedatangan tamu yang membuatnya tak bisa berkata-kata selain puja syukur setinggi-tingginya. Seorang gadis dengan kecantikan melebihi daya khayalnya, datang seperti tanpa sebab seperti begitu saja diutus malaikat.Ia ingat pernah melihat gadis itu dalam sebuah pesta. Tapi ia tak pernah ingat jika mereka pernah berkenalan atau bahka berbincang. Didatangi gadis secantik itu, ia tak bisa tidak menelan ludahnya. Dengan kewajaran yang dibuat-buat, si penulis memersilahkan si gadis masuk. Sore itu, mereka bercengkerama akrab seperti dua orang yang sedang kasmaran. Sedang di tempat lain, seorang laki-laki ber-rahang monyong sedang dalam perjalanan mengirim suratnya yang ke 1982.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *