Isabel Allende

Aksi Pembalasan

oleh Isabel Allende

Pada siang yang khidmat, saat Dulce Rosa Orellano dinobatkan sebagai Ratu Karnival dengan mahkota bunga melati, para ibu dari kandidat lain bergumam kalau kemenangannya tidak adil, karena dia adalah putri tunggal dari pria paling berkuasa di seluruh provinsi, Senator Anselmo Orellano. Mereka mengakui bahwa gadis ini mempesona dan permainan piano serta tariannya tiada tandingan, tapi ada pesaing-pesaing lain yang jauh lebih cantik dan turut memperebutkan hadiah. Mereka melihatnya berdiri di panggung dengan gaun organdi dan mahkota bunganya, dan sembari melambaikan tangan kepada kerumunan, mereka mengutuk gadis itu melalui gemeretak gigi mereka. Demi alasan itu, sebagian dari mereka merasa senang ketika berbulan-bulan kemudian malapetaka memasuki rumah Orellano, menabur benih kematian yang membutuhkan waktu tiga puluh tahun lamanya untuk dituai.

Di malam pemilihan ratu, pesta dansa diadakan di Balai Kota Santa Teresa, dan para pemuda dari desa-desa paling terpencil datang untuk bertemu Dulce Rosa. Dia begitu bahagia dan menari dengan begitu anggun sehingga banyak yang gagal memahami bahwa dia bukan yang paling cantik, dan ketika mereka kembali ke tempat asalnya, mereka semua menyatakan bahwa mereka belum pernah melihat wajah seperti wajahnya. Oleh karena itu dia mendapatkan reputasi yang tidak pantas untuk kecantikannya, dan kesaksian berikutnya tidak pernah bisa membuktikan sebaliknya. Cerita-cerita berlebihan tentang kulitnya yang bercahaya dan matanya yang jernih disampaikan dari mulut ke mulut, dan setiap orang menambahkan sesuatu dari imajinasi mereka masing-masing. Penyair-penyair dari kota-kota seberang menggubah soneta untuk seorang gadis khayalan bernama Dulce Rosa.

Desas-desus tentang kecantikan yang berkembang di dalam rumah Senator Orellano juga sampai ke telinga Tadeo Cespedes, yang tidak pernah bermimpi dia bisa bertemu dengan gadis itu, mengingat selama dua puluh lima tahun dia tidak pernah memiliki waktu untuk mempelajari syair atau untuk melihat perempuan. Dia hanya peduli dengan Perang Saudara. Semenjak dia mulai bercukur dia telah membawa senjata di tangannya, dan dia telah lama hidup di tengah suara ledakan mesiu. Dia telah melupakan kecupan ibunya dan bahkan lagu-lagu misa. Dia tidak selalu memiliki alasan untuk pergi berperang, karena selama beberapa periode gencatan senjata tidak ada musuh dalam jangakuan kelompok gerilyanya. Tetapi bahkan di masa damai yang dipaksakan, dia hidup seperti perompak. Dia adalah lelaki yang terbiasa dengan kekerasan. Dia menjelajah negeri ke setiap arah, melawan musuh-musuh yang terlihat saat dia menemukan mereka, dan bertarung dengan bayang-bayang saat ia dipaksa menciptakannya. Dia akan terus menjalani kehidupannya seperti itu jika partainya tidak memenangkan pemilihan presiden. Dalam semalam dia beralih dari keberadaannya yang samar-samar menjadi pemegang kekuasaan, dan seluruh dalih untuk melanjutkan pemberontakan telah berakhir baginya.

Misi terakhir Tadeo Cespedes adalah ekspedisi hukuman melawan Santa Teresa. Dengan seratus dua puluh tiga pria, ia memasuki kota di bawah bayang-bayang kegelapan untuk memberi pelajaran dan melenyapkan pemimpin-pemimpin oposisi. Mereka menembakki jendela-jendela gedung, menghancurkan pintu gereja, dan menunggangi kuda mereka tepat menuju altar utama, membantai Pastor Clemente saat dia berusaha menghalangi jalan mereka. Mereka membakar pepohonan yang ditanam oleh Perkumpulan Perempuan di alun-alun; di tengah seluruh keributan pertempuran, mereka terus berlari kencang menuju rumah Senator Orellano yang berdiri megah di puncak bukit.

Setelah mengunci putrinya di kamar pada sudut terjauh patio dan melepaskan anjing-anjing, Senator menunggu Tadeo Cespedes di hadapan lusinan pelayannya yang setia. Tepat saat itu ia menyesal, sebagaimana yang telah ia rasakan sepanjang hidupnya, tidak memiliki keturunan laki-laki yang dapat membantunya mengangkat senjata dan mempertahankan kehormatan rumahnya. Dia merasa begitu renta, tapi dia tidak memiliki waktu untuk memikirkan itu, karena dia telah mengintai lereng bukit, di mana kilatan mengerikan dari seratus dua puluh obor meneror malam kala mereka maju. Dia menyalurkan amunisi terakirnya dalam kesunyian. Semua telah disampaikan, dan setiap dari mereka tahu bahwa sebelum pagi datang, dia harus mati seperti pria sejati di medan pertempuran.

“Pria terakhir yang bertahan akan membawa kunci ke kamar di mana putriku disembunyikan dan melaksanakan kewajibannya,” ucap sang Senator saat dia mendengar tembakan pertama.

Seluruh pria itu telah ada sejak Dulce Rosa lahir dan memeganginya saat ia baru mulai berjalan; mereka yang menceritakan kisah-kisah hantu padanya di siang hari pada musim dingin; mereka telah mendengarkan permainan pianonya dan mereka telah bertepuk tangan sembari menangis di hari penobatannya sebagai Ratu Karnival. Ayahnya dapat mati dengan damai, karena gadis itu tidak akan jatuh ke tangan Tadeo Cespedes hidup-hidup. Satu hal yang tidak pernah terpikirkan oleh Senator Orenallo ialah, terlepas dari kecerobohannya dalam pertempuran, dia bisa menjadi yang terakhir mati. Ia melihat teman-temannya gugur satu persatu dan akhirnya menyadari bahwa tak ada gunanya untuk terus melawan. Sebuah peluru bersarang di perutnya dan penglihatannya kabur. Dia nyaris tidak dapat membedakan bayangan-bayangan yang memanjat dinding tinggi di sekitar rumahnya, tapi dia masih memiliki kesadaran untuk menyeret dirinya menuju patio ketiga. Anjing-anjing mengenali aromanya terlepas dari keringat, darah, dan kesedihan yang menutupinya dan bergeser untuk membiarkannya lewat. Dia memasukkan anak kunci ke dalam gembok dan melalui kabut yang mengaburkan, matanya melihat Dulce Rosa menunggunya. Gadis itu mengenakan gaun organdi yang sama dengan yang ia kenakan untuk Karnival dan telah menghiasi rambutnya dengan bunga-bunga dari mahkota.

“Inilah waktunya, anakku,” ucapnya, menarik pelatuk revolvernya saat genangan darah menyebar di sekitar kakinya.

“Jangan bunuh aku, ayah,” jawabnya dalam suara tegas. “Biarkan aku hidup agar aku bisa membalaskan dendam kita berdua.”

Senator Anselmo Orellano melihat wajah lima-belas-tahun putrinya dan membayangkan apa yang akan dilakukan Tadeo Cespedes padanya, tapi ia melihat kekuatan yang besar dalam mata bening Dulce Rosa, dan dia tahu bahwa putrinya akan selamat untuk menghukum pembunuhnya. Gadis itu duduk di atas kasur dan dia mengambil tempat di samping putrinya, mengarahkan revolver ke arah pintu.

Saat suara riuh dari anjing-anjing yang sekarat lenyap, gerbang di seberang pintu hancur, baut beterbangan, dan kelompok pertama laki-laki itu melesak ke dalam kamar. Sang Senator berhasil melepaskan enam tembakkan sebelum kehilangan kesadaran. Tadeo Cespedes mengira ia bermimpi saat melihat seorang malaikat bermahkotakan bunga melati memeluk pria tua yang sekarat di lengannya. Tapi ia tidak merasakan sedikitpun belas kasihan bahkan untuk melihat kedua kali. Ia telah dimabuk kebengisan yang dilebur dengan berjam-jam pertempuran.

“Perempuan ini milikku,” ucapnya sebelum satu pun anak buahnya bisa menyentuh perempuan itu.

Hari Jumat yang kelam tiba, diwarnai dengan kilauan api. Kesunyian begitu pekat di atas bukit. Erangan terakhir telah hilang saat Dulce Rosa dapat berdiri dan berjalan menuju air mancur di taman yang di hari sebelumnya masih dikelilingi bunga-bunga magnolia. Sekarang tidak ada apa-apa selain kolam yang berantakan di tengah puing-puing. Setelah melepaskan beberapa potongan organdi yang tersisa dari gaunnya, dia berdiri telanjang di hadapan puing air mancur. Dia merendam dirinya ke dalam air dingin. Matahari terbit di belakang pohon-pohon birch, dan sang gadis menyaksikan air yang berubah menjadi merah saat ia membersihkan darah yang mengalir dari antara dua kakinya bersama darah sang ayah yang telah mengering di rambutnya. Setelah ia bersih, dengan tenang, dan tanpa air mata, ia kembali ke puing-puing rumah untuk mencari sesuatu yang dapat membungkus dirinya. Setelah mengambil selembar kain linen, ia pergi keluar untuk memungut yang tersisa dari Senator. Mereka telah mengikat Senator di belakang kuda dan menyeretnya naik turun bukit sehingga yang tersisa dari dirinya hanyalah gundukan kain yang menyedihkan. Namun dituntun oleh cinta, si anak perempuan dapat mengenali ayahnya tanpa keraguan. Ia membungkus ayahnya dalam kain dan duduk di sampingnya untuk menyaksikan fajar tumbuh menjadi hari. Begitulah tetangganya dari Santa Teresa menemukannya saat mereka akhirnya berani naik ke vila Orellano. Mereka membantu Dulce Rosa mengubur ayahnya dan memadamkan sisa-sisa api. Mereka memohon kepadanya untuk pergi dan hidup bersama ibu baptisnya yang berada di kota lain di mana tak ada yang mengetahui kisahnya, tapi dia menolak. Akhirnya mereka membentuk kru untuk membangun kembali rumahnya dan memberinya enam anjing buas untuk menjaganya.

Sejak saat mereka membawa ayahnya, yang masih hidup, dan Tadeo Cespedes menutup pintu di belakang mereka dan melepaskan sabuk kulitnya, Dulce Rosa hidup untuk dendam. Dalam tiga puluh tahun berikutnya, pikiran itu membuatnya terjaga di malam hari  dan mengisi hari-harinya, tapi itu tidak benar-benar melenyapkan tawanya atau menghilangkan watak baiknya. Reputasi akan kecantikannya meningkat saat para penyair berkelana dan memproklamirkan pesona khayalinya hingga ia menjadi legenda hidup. Ia bangun setiap pagi pukul empat dan mengawasi perkebunan dan pekerjaan rumah, mengelilingi propertinya dengan menunggang kuda, melakukan jual beli, tawar menawar seperti seorang Syria, mengembangbiakkan ternak, dan menanam bunga-bunga magnolia dan melati di tamannya. Di siang hari ia akan melepaskan celana panjang, sepatu bot, dan senjata-senjatanya, lalu mengenakan gaun-gaun cantik yang datang dari ibukota dalam peti-peti aromatik. Saat matahari terbenam, para pengunjung mulai berdatangan dan akan menemukannya sedang bermain piano sementara para pelayan menyiapkan nampan-nampan dengan manisan dan gelas-gelas berisi orgeat. Mereka bertanya-tanya bagaimana mungkin gadis itu tidak berakhir menggunakan baju pengekang di rumah sakit jiwa atau sebagai novisiat bersama para biarawati Karmelit. Meskipun begitu, karena sering diadakan pesta di vila Orellano, seiring berjalannya waktu orang-orang berhenti membicarakan tragedi itu dan menghapus Senator yang terbunuh dari ingatan mereka. Beberapa pria terhormat yang memiliki ketenaran dan kekayaan berhasil mengatasi rasa jijik mereka atas pemerkosaan itu dan, tertarik dengan kecantikkan dan kelembutan Dulce Rosa, meminangnya untuk menikah. Dulce Rosa menolak mereka semua. Baginya, satu-satunya misinya di muka bumi hanyalah balas dendam.

Tadeo Cespedes juga tidak dapat melupakan malam itu dari kepalanya. Rasa mabuk dari semua pembunuhan dan euforia dari pemerkosaan itu meninggalkannya begitu ia berjalan menuju ibukota beberapa jam kemudian untuk melaporkan hasil ekspedisi hukumannya. Pada saat itulah, ia mengingat sang anak yang berbalut gaun pesta dan bermahkotakan bunga melati, yang menahannya dalam keheningan di ruangan gelap dengan udara yang dipenuhi bau mesiu. Dia melihatnya sekali lagi di penghujung adegan, berbaring di lantai, separuh terselimuti oleh kainnya yang memerah, tenggelam dalam pelukan ketidaksadaran yang penuh kasih, dan ia terus melihat gadis itu seperti itu setiap malam dalam hidupnya sesaat sebelum ia tertidur. Perdamaian, pelaksanaan pemerintahan, dan kekuasaan mengubahnya menjadi pria mapan dan pekerja keras. Seiring berjalannya waktu, ingatan tentang Perang Sipil memudar dan orang-orang mulai memanggilnya Don Tadeo. Ia membeli peternakan di sisi lain pegunungan, mengabdikan dirinya untuk menegakkan keadilan, dan berakhir menjadi walikota. Jika bukan karena hantu Dulce Rosa yang tak kenal lelah, ia mungkin telah sampai pada suatu derajat kebahagiaan. Tapi pada seluruh wajah wanita yang berpapasan dengannya, ia melihat wajah sang Ratu Karnival. Bahkan lebih buruk, lagu-lagu oleh para pujangga terkenal, seringkali memiliki bait-bait yang menyebut namanya, tidak mengizinkan Tadeo Cespedes untuk mengusir Dulce Rosa dari dalam hatinya. Gambaran perempuan muda ini tumbuh dalam dirinya, menaklukkan ia sepenuhnya, hingga pada suatu hari ia tidak dapat lagi menahannya. Dia berada di kepala meja perjamuan panjang yang sedang merayakan ulang tahunnya yang ke lima puluh lima, dikelilingi oleh teman-teman dan para koleganya, saat ia pikir ia melihat seorang anak terbaring telanjang di antara bunga-bunga melati yang bermekaran di atas taplak meja, dan ia paham bahwa mimpi buruk itu tidak akan meninggalkannya dalam kedamaian bahkan hingga kematiannya. Dia memukul meja dengan tinjunya, menyebabkan piring-piring bergetar, lalu meminta topi dan tongkatnya.

“Kemana anda pergi, Don Tadero?” tanya Prefek.

“Untuk memperbaiki beberapa kerusakan lama,” ucapnya sambil lalu tanpa berpamitan pada siapa pun.

Tak perlu baginya untuk mencari perempuan itu, ia selalu tahu bahwa perempuan itu dapat ditemukan di rumah yang sama di mana kemalangannya terjadi, dan ke arah sanalah ia membawa mobilnya. Saat itu jalan raya yang bagus telah dibangun dan jarak tampak lebih pendek. Pemandangannya telah berubah selama beberapa dekade yang telah berlalu, namun begitu ia berbelok pada tikungan terakhir di dekat bukit, villa itu muncul tepat seperti yang ia ingat sebelum pasukannya merampasnya dalam serangan itu. Di sanalah tembok-tembok kokoh yang terbuat dari batu kali yang telah ia hancurkan dengan muatan dinamit, di sana peti-peti kayu kuno yang telah ia bakar, di sana pohon-pohon tempat ia menggantung tubuh para kaki tangan Senator, di sana patio tempat ia membantai anjing-anjing. Ia menghentikan kendaraannya seratus meter dari pintu dan tidak berani melanjutkan karena ia merasa jantungnya meledak dalam dadanya. Ia akan berbalik dan kembali ke tempat asalnya, saat sebuah sosok yang dikelilingi oleh lingkaran cahaya dari roknya muncul di taman. Ia menutup matanya, berharap dengan segala kemungkinan, perempuan itu tidak dapat mengenalnya. Pada senja yang lembut, dia merasa bahwa Dulce Rosa Orellano sedang berjalan ke arahnya, melayang di sepanjang jalan taman. Don Tadero memperhatikan rambutnya, wajahnya yang terang, harmoni gerak tubuhnya, pusaran gaunnya, dan ia pikir ia telah ditangguhkan dalam mimpinya yang bertahan selama tiga puluh tahun.

“Akhirnya kau datang, Tadeo Cespedes,” ucap Dulce Rosa saat ia melihatnya, tak mengizinkan dirinya tertipu oleh pakaian walikota Don Tadeo dan rambut abu-abunya yang terhormat, karena ia tetap memiliki tangan perompak yang sama.

“Kau telah mengejarku tiada henti. Dalam hidupku, aku tidak dapat mencintai siapa pun selain dirimu,” ia bergumam, suaranya tercekat karena malu.

Dulce Rosa memberikan helaan napas puas. Akhirnya waktunya telah datang. Namun, ia melihat ke dalam mata pria itu dan gagal menemukan satu pun jejak seorang pembunuh, hanya ada air mata yang segar. Ia mencari kebencian dalam hatinya yang telah ia tumbuhkan selama tiga puluh tahun, tapi ia tak dapat menemukannya. Ia membangkitkan ingatan saat ia meminta ayahnya untuk membuat pengorbanan dan membiarkannya hidup agar ia dapat memikul tanggungjawabnya;  ia menghidupkan kembali pelukan pria yang telah ia kutuk berkali-kali, dan mengingat pagi hari di mana ia terbungkus sisa-sisa tragis dalam selembar kain linen. Ia menghampiri rencana balas dendamnya yang sempurna, tapi tidak merasakan kebahagiaan yang ia harapkan; sebaliknya, ia merasakan kesedihan yang mendalam. Tadeo Cespedes mengambil tangannya dengan lembut dan mencium telapaknya, membasahinya dengan air mata. Maka ia mengerti dengan perasaan ngeri, bahwa dengan memikirkan Tadeo Cespedes setiap saat, dan merasakan hukumannya dahulu, perasaannya telah berbalik dan ia telah jatuh cinta padanya.

Keesokan harinya, mereka berdua membuka pintu yang menahan perasaan cinta dan, untuk pertama kalinya sejak takdir kejam mereka ditentukan, membuka diri mereka untuk menerima keberadaan satu sama lain. Mereka berjalan mengelilingi taman sambil membicarakan diri mereka sendiri tanpa mengabaikan apapun, bahkan malam fatal yang telah memutarbalikkan arah kehidupan mereka. Saat malam tiba, Dulce Rosa bermain piano dan Tadeo Cespedes menyulut rokok, mendengarkan permainan perempuan itu sampai ia merasakan tulangnya melunak dan kebahagiaan membungkusnya bagai selimut dan melenyapkan mimpi-mimpi buruk di masa lalu. Setelah makan malam, ia pergi ke Santa Teresa di mana tiada satu pun orang yang masih mengingat cerita lama yang mengerikan itu. Ia menyewa sebuah kamar dari hotel terbaik dan mulai merencanakan pernikahannya. Ia mengingkan pesta yang meriah, mewah, dan ramai, suatu pesta yang akan diikuti oleh seluruh kota. Ia menemukan cinta pada usia di mana laki-laki lain telah kehilangan khayalan mereka, dan itu mengembalikan semangat mudanya. Ia ingin mengililingi Dulce Rosa dengan kasih sayang dan keindahan, memberikannya segala sesuatu yang dapat dibeli oleh uang, untuk melihat apakah ia bisa membayar masa lalunya atas kejahatan yang telah ia lakukan sebagai seorang pemuda. Terkadang rasa panik merasukinya. Ia mencari dalam wajah perempuan itu gelagat dendam terkecil, tapi yang ia lihat hanyalah cahaya cinta dan itu mengembalikan kepercayaan dirinya. Dengan demikian, satu bulan kebahagiaan berlalu.

Dua hari sebelum pernikahan, saat mereka telah menata meja-meja untuk pesta di taman, menyembelih burung dan babi untuk perjamuan, dan memotong bunga untuk dekorasi rumah, Dulce Rosa Orellano mencoba gaun pernikahannya. Ia melihat pantulan dirinya dalam cermin, seperti yang ia lakukan di hari penobatannya sebagai Ratu Karnival, dan menyadari bahwa ia tak bisa lagi menipu hatinya terus menerus. Ia tahu bahwa ia tidak dapat melanjutkan dendam yang telah ia rencanakan karena ia telah jauh cinta pada si pembunuh, tapi ia juga tidak bisa menenangkan hantu si Senator. Ia meminta penjahit untuk keluar, mengambil gunting, dan pergi menuju kamar pada patio ketiga yang selama ini dibiarkan kosong.

Tadeo Cespedes mencarinya di setiap tempat, memanggilnya dengan putus asa. Gonggongan anjing-anjing menuntunnya ke sisi lain dari rumah itu. Dengan bantuan para tukang kebun, ia mendobrak pintu berpalang dan memasuki ruangan di mana tiga puluh tahun sebelumnya ia melihat seorang malaikat bermahkotakan bunga melati. Ia menemukan Dulce Rosa Orellano sebagaimana yang ia lihat dalam mimpinya setiap malam dalam kehidupannya, terbujur kaku dalam gaun organdi berlumuran darah yang sama. Ia sadar bahwa untuk membayar kesalahannya, ia harus hidup hingga usia sembilan puluh tahun dengan ingatan tentang satu-satunya perempuan yang dapat jiwanya cintai.

*Diterjemahkan secara partikelir oleh Bilqis Nabila, Project Manager Officer CSR sebuah perusahaan tambang dan penggemar seblak Bandung, dari buku “Short Stories by Latin American Women: The Magin and The Real” terbitan Arte Publico Press (1990)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *