Art and Healing: Interview dengan Kenzaburo Oe


Dialihbahasakan oleh: Aldinza Muhammad

Selamat datang kembali di Berkeley. Dimana anda lahir, dan dimana anda tumbuh?

Aku lahir di salah satu pulau kecil di kepulauan Jepang pada tahun 1935. Aku harus menekankan bahwa perang antara USA dan Jepang dimulai ketika aku berumur enam. Dan ketika aku berumur sepuluh tahun, aku melihat perang itu telah usai. Jadi, masa kecilku terjadi selama waktu perang. Itu adalah hal yang sangat penting.

Di keluarga anda, apakah anda adalah orang pertama yang menjadi penulis?

Ini adalah masalah yang sangat rumit. Keluargaku telah hidup (di pulau itu) selama lebih dari dua ratus tahun. Beberapa leluhurku ada yang jurnalis. Jadi, jika mereka dulu menerbitkan tulisannya, kupikir mereka akan menjadi penulis pertama (di keluarga). Tapi sayangnya, atau untungnya, mereka tidak menerbitkannya, maka jadilah aku orang pertama yang menerbitkan apa yang aku tulis; tapi ibuku selalu berkata “Kalian laki-laki di keluarga kita, selalu menulis hal-hal yang sama saja”

Anda pernah bilang dalam sebuah wawancara: “Tindakan untuk berusaha mengingat dan tindakan untuk menciptakan mulai saling berkelindan, dan itulah alasan kenapa aku mulai menulis novel.”

Ya. Jika boleh kutambahkan: Aku mulai menulis dengan metode imajinasi, berdasarkan imajidansi, dan menuju imajinasi.

Buku apa yang anda baca ketika muda?

Aku tidak membaca banyak buku sebelum aku berumur sembilan tahun. Aku tertakjub-takjub dengan dongeng-dongeng dari nenekku. Ia bercerita tentang hampir semua tentang keluargaku dan distrikku,; jadi itu sudah cukup buatku. Aku tidak butuh buku apapun waktu itu. Namun suatu hari, terjadi sebuah diskusi antara ibuku dan nenekku. Dan ibuku bangun sangat awal di esok pagi harinya, dan ia mengemas satu kilogram nasi –kita makan nasi- dan ia pergi ke kota kecil di pulau kami lewat hutan. Ia baru pulang ketika larut malam. Ia memberi saudara perempuanku boneka kecil, dan beberapa kue untuk adik laki-lakiku, dan ia mengeluarkan dua kotak buku. Buku satu, buku dua. Aku menemukan Huckleberry Finn-nya Mark Twain. Waktu itu aku tidak tahu siapa itu Mark Twain, Tom Sawyer atau Huckleberry Finn, tapi ibuku bilang –dan itu adalah perbincangan pertamaku dengan ibuku tentang literatur, dan sepertinya perbincangan terakhir juga. Ia berkata, “Ini adalah novel terbaik untuk anak-anak dan untuk orang dewasa. Begitulah kata ayahmu” (di tahun sebelum ayahku meninggal) “Aku membawakan buku ini untukmu, tapi wanita yang menukarkan buku ini dengan nasi tadi bilang, “Hati-hati. Penulisnya Amerika. Sekarang perang antara U.S dan Jepang sedang terjadi. Guru akan merampas buku ini darimu, Nak. (Katakan padanya) jika gurumu bertanya siapa penulisnya, kamu harus menjawab bahwa Mark Twain adalah pseudonim dari seorang penulis Jerman.”

Berdasarkan pidato nobel anda, anda juga membaca buku yang berjudul The Wonderfull Advantures of Nils.
Ya, seorang penulis feminin Swedia yang sangat terkenal (Selma Lagerlöf), menulis buku itu, sebuah buku untuk anak-anak Swedia agar mereka belajar atlas dari negaranya sendiri. (Di buku ini) sejenis pesulap yang berkeliling negri di belakang seekor angsa kecil. Itu juga sangat, sangat menakjubkan. Jadi, di masa kecilku, hanya ada dua buku kesayangan, dan aku terus membacanya lagi dan lagi. aku mengingat hampir semua kalimat di dua buku itu.

Dan ada satu kalimat yang berkesan untuk anda, ketika sang pengembara di buku itu kembali ke rumah, ia berkata, “Aku menjadi manusia kembali.”

Ya, sang pahlawan menjadi bocah berukuran kecil karena sihir peri dan ia tidak percaya ada kemungkinan ia bisa menjadi manusia berukuran normal (lagi). Ketika ia kembali ke rumahnya, diam-diam ia pergi ke dapur. Ayahnya menemukannya. Kemudian gairah, yang sangat manusiawi dan baik, tumbuh di dalam diri sang pahlawan; kemudian dengan sangat natural, ia tumbuh menjadi manusia berukuran normal. Kemudian ia berteriak, “Ibu, aku kembali menjadi manusia.” Itu sangat penting untuk kutambahkan.

Anda menyebut diri anda sebagai penulis dari pinggiran. Sebagian, anda merujuk pada asal anda namun juga bermaksud lebih dari itu. Jelaskan apa yang anda maksud ketika anda berkata “Aku adalah penulis dari pinggiran.”

Aku lahir di pulau kecil, dan Jepang sendiri adalah wilayah pinggiran dari Asia. Itu sangat penting. Beberapa orang-orang kami yang sangat terkenal percaya Jepang adalah pusat dari Asia. Diam-diam mereka berpikir Jepang adalah pusat dari dunia. Aku selalu berkata bahwa aku adalah penulis dari pinggiran –distrik pinggiran, Jepang yang merupakan pinggiran dari Asia, dan negara pinggiran di planet ini. Aku mengatakan ini dengan bangga. 

Litaratur harus ditulis dari pinggiran menuju pusat, dan kita bisa mengkritisi pusat. Kredo kami, tema kami, dan imajinasi kami, adalah manusia pinggiran. Orang yang ada di pusat tidak punya apapun untuk ditulis. Dari pinggiran, kita bisa menulis cerita tentang manusia dan cerita ini bisa mengekspresikan kemanusiaan di pusat, jadi ketika aku bilang kata pinggiran, itu adalah kredo terpentingku.

Di “A Healing Family”, anda mengutip Flannery O’Connor ketika ia bicara tentang kebiasaan seorang novelis, latihan yang terakumulasi, apa itu?

Pertama-tama, kata ‘kebiasaan’ tidak bagus untuk seorang seniman. Jadi aku harus menggunakan kata ‘kebiasaan’ dengan tepat berdasakan apa yang dimaksud oleh Flannery O’Connor. Aku yakin, ia mendapatkan kata itu dari tutornya, Jacques Maritain. Jacques Maritain sedang di Princenton waktu itu. Flannery O’Connor lahir pada 1935, aku yakin, dan lekas setelah perang, ia berbicara lewat surat dengan tutornya, dan ia membicarakan tentang gagasan Thomas Aquinas, yang mana merupakan figur penting bagi Jacques Maritain.

‘Kebiasaan’ itu seperti ini: ketika sebagai seorang penulis aku terus menulis seitap hari selama sepuluh atau tiga belas tahun, dan secara bertahap kemudian, suatu ‘kebiasaan’ seorang penulis termodel dalam diriku. Aku tidak bisa menyadari hal tersebut. atau aku tidak bisa tidak menyadarinya. Tapi bagaimanapun, sebagai seorang penulis, aku punya kebiasaan untuk terlahir kembali. Jadi, ketika aku mendapati diriku sedang dalam krisis yang tidak pernah aku alami, aku bisa lahir, dan aku bisa menulis sesuatu, dengan kekuatan dari kebiasaan itu. Bahkan seorang tentara, seorang petani, seorang nelayan bisa terlahir kembali dengan kekuatan dari ‘kebiasaan’ ketika mereka bertemu dengan krisis terhebat dalam hidup mereka. Kita, manusia, lahir dan terlahir kembali dan (jika) kita membuat ‘kebiasaan’ kita sebagai seorang manusia, kemudian aku berpikir kita bisa menghadapi (krisis) meski kita tidak memiliki pengalaman sebelumnya. Itu pasti gagasan yang dimaksud Flannery O’Connor, dan aku adalah murid Flannery O’Connor.

Kelahiran putra anda adalah titik balik dalam menemukan suara anda sebagai seorang penulis. Anda menulis “Dua puluh lima tahun lalu, putraku lahir dengan kerusakan otak. Bisa dikatakan ini adalah pukulan. Namun sebagai seorang penulis, aku harus mengakui fakta bahwa tema utama dari pekerjaanku, sejauh karirku berjalan, adalah cara keluargaku menjalani hidup dengan anak yang cacat.”

Ya, tepat sekali. Aku yang menulisnya.

Ketika aku berumur 28 tahun, putraku lahir. Ketika aku berumur 28 tahun aku telah menjadi seorang penulis, penulis yang cukup terkenal di skena Jepang dan aku juga merupakan mahasiswa Literatur Prancis. Dan aku berbicara dengan suara dari Jean Paul Sartre atau (Maurice) Merleu-Ponty. Aku selalu berbicara tentang karya mereka. Tapi ketika putraku lahir dengan kerusakan berat di otaknya, suatu malam aku menyadari, aku ingin menemukan semangat, maka aku membaca bukuku –itu adalah pertama kalinya aku membaca bukuku, buku yang paling baru kutulis- dan aku mendapati beberapa hari kemudian bahwa aku tidak bisa menyemangati diriku lewat bukuku; (maka) tidak ada siapapun yang bisa (disemangati) lewat karyaku. Jadi aku berpikir, “aku bukan apa-apa dan bukuku bukan apa-apa.” Aku sangat depresi; kemudian aku diminta oleh seorang jurnalis di bagian pengeditan majalah politik Jepang untuk pergi ke Hiroshima, tempat di mana bom atom dijatuhkan. Di Hiroshima, pada tahun itu ada pertemuan gerakan damai –gerakan anti bom atom- dan di antara yang hadir terjadi pertengkaran besar antara kelompok China dan kelompok Rusia. Aku satu-satunya jurnalis independen di sana. Jadi aku mengkritisi keduanya.

Aku menemukan sebuah rumah sakit tempat penyintas tragedy Hiroshima dan di sana aku bertemu Dr. (Fumio) Shigeto yang hebat. Dalam perbincanganku dengan Shigeto dan para pasien di rumah sakit, perlahan aku menemukan ada sesuatu yang memberiku semangat, aku ingin mengikuti perasaan ini, bahwa ada sesuatu. Maka aku kembali ke Tokyo dan pergi ke rumah sakit di mana putraku berada, dan berbicara pada dokter tentang rencana menyelamatkannya. Kemudian, aku mulai menulis tentang Hiroshima, dan dan ini adalah titik balik dalam hidupku. Semacam kelahiran kembali atas diriku.

Jadi ada suatu hubungan antara apa yang anda lihat pada korban dari tragedy Hiroshima dan juga paling penting apa yang anda amati dari para dokter yang mengobati para korban. Apa yang anda amati, entah bagaimana, menggerakkan anda pada pemikiran untuk mengatasi tragedi personal anda?

Ya. Shigeto berkata padaku, “Kita tidak bisa berbuat apapun untuk para penyintas. Bahkan hari ini, kita tidak tahu apapun tentang keadaan penyakit dari para penyintas. Bahkan hari ini, tidak lama setelah pengeboman, kita tidak tahu apapun, tapi kita lakukan apa yang bisa dilakukan. Setiap hari ribuan orang mati. Namun, di tengah-tengah mayat itu, aku tetap melakukannya. Jadi, Kenzabruo, apa yang bisa kulakukan selain itu, ketika mereka butuh pengobatan? Sekarang, putramu membutuhkanmu. Kamu pasti tahu bahwa tidak ada yang membutuhkanmu di planet ini selain putramu.” Kemudian aku paham. Aku kembali ke Tokyo dan memulai untuk melakukan sesuatu untuk putraku, untuk diriku, dan untuk istriku.

Novel tentang kelahiran putra anda yang cacat diberi judul “A Personal Matter, dan tulisan anda tetang Hiroshima dikumpulkan di “Hiroshima Notes.” Anda menulis di surat: “Ketika para dokter di Hiroshima mengejar imajinasi tentang bencana bom atom, mereka mencoba untuk melihat lebih dalam dan lebih jelas ke dalam neraka seperti apa mereka terjebak. Ada penderitaan dalam wujud kesadaran ganda, tentang diri sendiri dan orang lain; tapi itu menambah ketulusan dan kemurnian yang kita rasakan….” Anda mengatakan bahwa dalam melihat dualitas diri sang dokter, anda terbantu dalam melihat kompleksitas atas dilema yang dialami “sang burung,” protagonist dalam novel anda.

Ya. Hinga kemudian, dualitas dan ambiguatias dari manusia menjadi tema kecilku. (Konsep ini) datang dari eksistensialisme di Prancis. Aku pikir aku menemukan dualitas sejati dan bagaiamana aku bisa, ya sebut saja “Otentik.” Tapi menurutku diksi “Otentik” tidak boleh membeku. Aku pernah menggunakan perkataan dari Jean Paul Sartre. Hari ini aku akan menggunakan perkataan lain. Itu senderhana. Aku ingin jadi laki-laki yang benar-benar jujur. Yeats, seorang penyair Irlandia bekata dalam puisinya, “Pemuda yang berdiri tegak.” Keterusterangan. Kukuh. Aku ingin seperti pemuda ini, tapi kemudian aku memilih kata “Otentik.”

Lionel Trilling menulis bahwa mengakui perasaanmu adalah salah satu cara paling berani dan bernilai yang bisa dilakukan seorang penulis. Itu yang anda lakukan di “A Personal Matter.”

Ya. Aku ingin melakukannya. Pada waktu itu aku tidak berpikir betapa penting menjadi orang yang terus terang. Aku (merasa) harus menulis tentang diriku. Kenapa tidak? Aku merasa aku tidak bisa terlahir kembali dan putraku tidak bisa terlahir kembali. Jadi ketika sedang berada di laut aku harus menyelamatkan diriku dan aku harus menyelamatkan putraku. Maka aku menulis buku itu, menurutku demikian.

Putra anda kemudian menjadi seorang composer. Keluarga anda –istri anda, anak-anak anda, dan anda sendiri- dalam mengasuh putra anda hingga kemampuannya berkomunikasi tumbuh. Ceritakan pada kami bagaimana proses menuju itu.

Hingga putraku berumur empat atau lima tahun, ia tidak bisa berkomunikasi dengan kami. Kami pikir ia tidak punya perasaan menjadi bagian dari sebuah keluarga. Ia terlihat amat sangat terisolasi –seperti kerikil di dalam gelas kaca. Tapi suatu hari, ia tertarik dengan suara burung di radio. Jadi aku membeli rekaman berisi suara burung-burung liar Jepang. Aku membuat tape berisi 50 spesies burung –kicauan burung. Isinya kicauan burung dan suara penyiar perempuan dengan suara yang sangat datar menyebutkan nama dari burungnya. “Tada-da” lalu kemudian “Kolibri.” “Tada-da.” “Gagak.” “Ini kolibri, ini gagak.” Kami terus mendengarkan tape itu selama tiga tahun. Selama tiga tahun itu, ketika kami memutar kicauan-kicauan burung, putraku menjadi sangat tenang. Jadi itulah yang dibutuhkan untuk membuatnya tenang. Istriku harus bekerja, dan aku juga bekerja. Jadi bersama kicauan burunglah kita hidup.

Di musim panas ketika ia berumur enam tahun, Aku pergi ke pondokan milik kami di gunung, dan ketika istriku membersihkan pondokan kami yang kecil, aku sedang berada di hutan dengan putraku di atas pundakku. Dekat tempat itu ada danau kecil. Seekor burung bersiul, (seekor dari sepasang). Tiba-tiba terdengar suara yang jernih, dan datar, “Itu burung mandadar.” Aku terkejut. Keheningan mengisi di hutan itu. Kami terdiam selama 5 menit dan aku berdoa untuk sesuatu, di kepalaku. Aku berdoa, “Tolong, suara burung berikutnya, dan tolong suara berikutnya lagi adalah dari putraku, semoga yang tadi bukan bayang dari khayalanku.” Kemudian setelah 5 menit, pasangan dari burung yang sebelumnnya, bersiul. Lalu putraku berkata “Itu burung mandadar.” Lalu aku kembali ke pondokan dengan putraku dan berbicara pada istriku.

Untuk waktu yang cukup lama, kami menunggu kicauan lain, tapi tidak ada kicau burung malam harinya. Kami tidak bisa tidur. Tapi di pagi harinya, seekor gagak kecil hinggap di pohon kecil di depan pondokan kami. Ia berkicau pelan, dan putraku berkata, “Itu gagak.” Dan segalanya dimulai, dan kami memutar suara seekor burung, lalu putraku akan menjawab. Kami membuat banyak rekaman suara burung-burung, bahkan burung dari USA dan Eropa. Putraku menjawab dengan amat tenang dan selalu benar setelah mendengarkan suara burungnya dua sampai tiga kali. Kami mulai berkomunikasi dengan kata-kata.

“Pooh-chan,” –putraku dipanggil Pooh-chan, dari Winnie the Pooh– “Burung apa ini?” (ia akan menjawab setelah aku memutar rekamannya.) “Gagak.” “Pooh-chan, apa yang kamu ingin dengarkan?” Ia berpikir, (lalu berkata), “Mandadar” “Kolibri” dan aku akan memutarnya.

Kemudian, kami mulai saling berkomunikasi, dan putraku diterima di sebuah sekolah untuk anak-anak bermental cacat, kemudian beberapa guru menilai mereka tidak mampu menanganinya. Mereka selalu memutar Handel dan Bach di radio FM. Kemudian putraku jadi mulai mendengarkan musik. Setelah ia mulai disibukkan dengan musik, tiba-tiba ia lupa hampir semua nama dari suara burung. Ketika putraku berumur enam belas, ia amat sehat dan ia kehilangan penglihatan kedua matanya. Ia bisa melihat dengan satu mata, tapi tidak bisa dengan keduanya secara bersamaan. Jadi ia tidak bisa melihat piano dan partitur. Ia jadi suka salah not dan itu membuatnya sangat tidak nyaman. Ia jadi menyerah dengan piano dan ibunya mengajarinya cara menulis musik. Dalam lima minggu, ia mulai menulis musik dari Bach dengan pensil. Awalnya, ia menulis musik yang sederhana. Dalam setahun ia mulai menciptakan musiknya sendiri. 

Sekarang ia sudah merilis dua CD yang bisa anda beli di Telegraph Avenue di Berkeley.

Ya, dan ketika aku kemari delapan belas tahun lalu, aku sedang memikirkan putraku. Sekarang, dua hari lalu, aku sedang memikirkan tentang kuliahku. Aku pergi ke Tower Record, dan aku membeli beberapa CD dari Pisaro. Aku memeriksa (di toko rekaman) dan menemukan dua CD putraku dan memutar keduanya pagi ini.

Putra anda telah mewujudkan “The dreams of Nils”menunggangi sayap burung, atau dalam kasusnya, kicauan burung.

Ya, di samping (belajar dari burung (seperti Nils), putraku bisa berkata, “Ya, aku manusia, aku orang.” Di samping CD putraku, aku merpikir “Aku manusia.”

Dalam “A Healing Family” anda menulis bahwa musik dari putra anda telah menunjukkan pada anda bahwa dalam usahanya mengekspresikan dirinya, ada “kekuatan penyembuh, kekuatan untuk memperbaiki hati” dan anda melanjutkan, “Untuk musik atau literatur yang kita buat, meskipun kita telah melihat keputusasaan –malam-malam gelap untuk jiwa kita yang harus kita lewati- kita dapat menemukan penyembuhan dari mengekspresikannya dan mengetahui kenikmatan dari menyadarinya; dan ini seperti hubungan pengalaman pedih dan pengalaman tersembuhkan yang ditambahkan pada satu sama lain, lapisan demi lapisan, tidak hanya karya sang seniman yang akan semakin kaya tapi manfaatnya juga bisa dibagi pada orang lain…”

Aku tambahkan catatan di sini. Setelah menulis esai tersebut, aku mendapatkan banyak pertanyaan. Dan sebuak kritik berbunyi, “Oe jadi sangat konservatif. Ia jadi orang yang diam; ia berkata, musik (putra)nya menyembuhkannya dan ia bisa tersembuhkan karena CD itu sendiri. Itu sangat pasif dan konservatif,” mereka bilang. Aku harus menjawabnya. Aku tidak berkata ‘untuk tersembuhkan’ dalam bahasa Jepang. Diksi “menyembuhkan” harus digunakan secara aktif. Aku menyembuhkan diriku. Seorang manusia disembuhkan oleh sesuatu. Itu adalah hal yang sangat baik untuk seorang manusia. Ketika aku mendengar musik dari putraku, aku tidak merasa melakukan kegiatan yang pasif sama sekali. Aku merasa aku melakukan sesuatu yang aktif bersama putraku. Kita menatap ke arah yang sama. Jadi ketika seseorang merasa ia tersembuhkan oleh musik putraku, aku akan percaya orang itu sedang menatap ke arah yang sama dengan putraku. Makai ia sedang secara aktif menyembuhkan dirinya sendiri bersama putraku.

Jadi putra anda “Melanjutkan hidupnya,” seperti yang anda katakan. Dan ia bisa menjadi contoh untuk menginspirasi orang lain, membantu mereka untuk “Melanjutkan hidup mereka. Dan menyembuhkan diri mereka seiring prosesnya.”

Ya, tepat sekali, dan aku ingin melakukan hal serupa. Musik putraku adalah model dari tulisanku. Aku ingin melakukan hal serupa.

Mana yang anda yakini, penulis yang memilih tema kepenulisannya, atau tema kepenulisannya yang mendatangi penulis?

Nadine Gordimer pernah menulis bahwa kita tidak memilih tema atau situasi atau cerita. Tema yang memilih kita, itulah tujuan dari penulis. Kita harus merespon masa kita. Dari pengalamanku, aku bisa katakan hal yang serupa dengan Nadine Gordimer: Aku tidak memilih cerita tentang anak laki-laki yang cacat, atau kami tidak memilih tema tentang keluarga dengan bocah cacat. Aku ingin kabur jika aku bisa, tapi sesuatu memilihku untuk menulis tentang hal itu. Putraku memilihku. Itu adalah alasan jelas kenapa aku terus menulis.

Anda menulis dalam esai yang lain, “Dasar dari gaya cara menulisku telah dimulai dengan persoalan pribadiku dan kemudian terhubung dengan masyarakat dan negara dan dunia.”

Menurutku, aku melakuan pekerjaanku untuk menghubugkan diriku, keluargaku, dengan masyarakat –dengan kosmos.  Untuk mnghubungkanku bersama keluargaku dengan kosmos, itu mudah, karena semua literatur punya tendensi mistis. Jadi ketika kami menulis tentang keluarga kami, kami dapat menghubungkan diri kami dengan kosmos. Tapi aku ingin menghubungkan diriku dan keluargaku dengan masyarakat. Ketika kami menghubungkan diri kami dengan masyarakat, maka kami tidak menulis persoalan pribadi tapi kami sedang menulis sebuah novel independen.

Anda berkata di “A Healing Family” bahwa pelajaran yang anda dapatkan dari membuat anak cacat sebagai bagian aktif dari keluarga anda adalah contoh bagaimana masyarakat luas harus memperlakukan anak cacat, dan bagaimana masyarakat harus belajar dari mereka. Pada intinya, seseorang bisa menciptakan masyarakat yang menyembuhkan dengan menciptakan keluarga yang menyembuhkan.

Ya, aku harap demikian, tapi aku tidak ingin menekankan peran keluarga dengan anak cacat, aku tidak ingin menekankan individualitas. Selalu, ketika kita menghubungkan keluarga individu kita pada masyrakat, maka ia jadi memuat nilai-nilai sosial; jika tidak, aku pikir, kita hanya bisa menulis hal-hal personal melalui pengalaman kita. Ketika aku menamai novel pertama tentang putraku “A Personal Matter,” aku percaya aku tahu hal yang paling penting adalah: tidak ada yang namanya hal personal; kita harus menemukan hubungan antara diri kita , “hal personal kita” dengan masyarakat.

Peran seperti apa yang harus dimainkan oleh penulis dalam konteks politik saat ini?

Untuk mengkombinasikan sumbang asih kita dengan masyarakat –itulah politk. Aku tidak menginginkan peran seperti pembuat kebijakan. Ada beberpa temanku yang sudah jadi pembuat kebijakan.

Anda tidak ingin menjadi Henry Kisssinger.

Aku pernah dalam sebuah seminar dengan Pak Kissinger. Pak Kissinger berkat di pesta perpisahan, dengan senyum yang sangat mengancam, “Senyum jahat Pak Oe, seperti kelianci yang sangat jahat tersenyum dalam kartun,” kata Pak Krissinger.

Aku bukan orang jahat. Di hadapan pembuat kebijakan, kadang akau tersenyum jahat. Aku bukan orang politik, bukan orang yang berpolitik. Tapi dari kehidupan seorang manusia (dalam tulisanku), aku ingin melakukan sesuatu untuk politik. Jadi aku harus melakukan sesuatu lewat literatur atau esaiku.

Apakah itu?

Secara pribadi aku bisa bilang dalam suara yang sangat kecil aku sedang melakukannya.

Apa yang penulis Jepang perlu tambahkan dalam wacana di Jepang, yang tampaknya sangat materialistis dan tampaknya kurang akan nilai-nilai kemanusiaan?

Aku telah mengkritisi lagak Jepang terhadap Asia, kepada dunia, (sejak) sebelum krisis ekonomi di Jepang. Meski ketika kami masih miskin, aku sudah mulai mengkritisi lagak kami atas Asia. Aku tetap melanjutannya dalam keadaan berkelimpahan. Setelah itu, sekarang kita sedang dalam krisis ekonomi, dan aku akan terus melakukannya.

Di Jepang, kita sungguh-sungguh ingin menciptakan sikap negara yang baru setelah kekalahan kami atas perang. Bertahun-tahun, kita ingin menciptakan demokrasi, orang-orang yang demokratis, negara yang demokratis. Aku pikir kita sudah menyerah. 50 tahun sudah berlalu. Sekarang muncul atmosfer keanti-demokrasian di Jepang. Jadi hari ini, meski belum, mereka berkata ultranasionalisme harus kembali, tapi aku merasa amat ambigu. Atmosfer berbahaya dari nasionalisme sedang mendatangi masyarakat kami. Jadi saat ini aku ingin mengkritisi kecenderungan itu, dan aku ingin melakukan apapun untuk mencegah perkembangan fasisme di masyarakat Jepang.

Apakah novel anda, dan juga tema kemanusiaan anda, berkontribusi pada perubahan iklim ide yang menjadikan semakin kecilnya kemungkinan terwujudnya fasisme?

Ketika aku di Hiroshima, Dr. Shigeto berkata, “Ketika kamu tidak mampu memikirkan apa yang harus dilakukan, kamu harus melakukan sesuatu.:” jadi menurutku jika aku bisa memiliki kekuatan untuk memengaruhi intelektual muda, kita bisa mengorganisir kekuatan yang berbeda. Karena krisis saat ini adalah perasaan ultranasionalisme secara tidak sadar di Jepang. Perasaan yang sangat kuat, sebuah atmosfir. Jika kita menulis tentang itu dengan jelas, jika kita menyerangnya, maka para intelektual muda bisa tersadar akan perasaan ini. Ini sangat penting sebagai permulaan.

Para intelektual ini mungkin melawan isu-isu ini dan membantu terbentuknya debat public dengan cara tertentu, dalam “A Personal Matter,” si pemuda burung melawan relaitas dari situasi yang ia alami.

Ya, aku ingin meminta kepada pemuda Jepang, pada para intelektual, untuk melawan realitas.

Beberapa karya anda berfokus pada anak muda; sebagi contoh, Nip the Buds, Shoot the Kids, di mana sekelompok pemuda yang tidak memiliki nilai dan kota yang telah dievakuasi. Apa peran khusus dari anak-anak muda yang harus dimainkan dalam membentuk ide kita tentang dunia?

Dalam bagian akhir dari novelku, tokoh pahlawan membentuk suatu kegiatan amal baru, bukan dalam konteks Kristen atau Buddha, tapi hal itu mereka lakukan untuk jiwa mereka sendiri, sekumpulan anak muda. Suatu hari si pemimpin kumpulan membaca sebuah Bible di depan yang lain, Surah Ephesians. Di Ephesians ada dua kata “Manusia Baru.” Yesus Kristus telah menjadi “Manusia Baru” di tiang salib. Kita harus melepas jubah “Manusia Lama” kita. Kita harus menjadi “Manusia Baru.” Hanya “Manusia Baru” yang bisa berbuat sesuatu, jadi kamu harus menjadi “Manusia Baru.” Pahlawan dalam novel itu tidak memiliki rencana masa depan, tapi ia percaya bahwa kita harus menciptakan “Manusia Baru.”  Anak muda harus menjadi “Manusia Baru.” Orang tua harus memperantarai terciptanya “Manusia baru.” Itulah kredoku. Aku selalu berpikir tentang peran anak muda di Jepang.

Bagaimana para pelajar harus menyiapkan masa depan? Pertama, bagaimana cara menyiapkan diri untuk jadi penulis? Dan bagaimana cara mempersiapkan diri untuk memiliki pengaruh yang baik dalam memaknai “Manusia Baru”? 

Pertama-tama, aku harap anak muda harus menjadi orang yang terus terang, merdeka.

Seperti burung.

Ya. Kedua, aku harap mereka memiliki imajinasi. Imajinasi tidak hanya menerima imajinasi dari orang lain tapi menciptakan imajinasimu sendiri dan lebih tepatnya membentuk ulang imajinasi yang telah diberikan pada kita. Untuk berterus terang dan memiliki imajinasi: itu cukup untuk menjadi anak muda yang sangat baik.

Anda bilang perkataan Dr. Shigeto, “Tanpa terlalu banyak harapan dan tanpa terlalu banyak keputusasaan, ia telah mengatasi penderitaanya dengan cara terbaik yang ia bisa,” dan selanjutnya anda bilang, “Ia benar-benar manusia otentik.”

Profesorku adalah seorang spesialis di Kemanusiaan Prancis, dan ia selalu berkata padaku “Apa itu kemanusiaan? hari ini, tidak terlalu banyak harapan dan juga tidak keputusasaan yang berlebihan.” Tidak berharap terlalu banyak dan tidak berputus asa secara berlebihan. Itulah model dari kemanusiaan hari ini. Itu komentar guruku, dan aku katakan itu pada Pak Shigeto, dan ia berkata, “Ya aku tahu itu, lewat hidup yang kujalani.”

Terima kasih banyak telah membagikan refleksi anda dengan kami, dan telah bertamu kembali ke Berkeley, dan aku harap anda akan bertamu lagi.

Terima kasih

Terima kasih telah bergabung di Conversation with History ini.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *