Astrofisika untuk Orang Sibuk: Jalan Pintas Menuju Alam Semesta


Judul : Astrofisika untuk Orang Sibuk

Penulis : Neil De’Grasse Tyson

Penerbit : Gramedia

Tahun : 2019

Ulasan oleh: Faiza Nur Sabrina


Neil membuka buku ini dengan kalimat seperti berikut “Untuk semua yang terlalu sibuk sehingga tak sempat membaca buku tebal, Namun tetap mencari saluran ke jagat raya”. Sebuah kalimat yang jika di resap-resapi cukup membuat saya pribadi terharu. Kalimat tersebut membuat buku ini – dalam beberapa tingkatan – spesial, karena Neil secara khusus mendedikasikan buku ini untuk dibaca orang awam luas yang ingin menengok jagat raya, meskipun mereka berada ditengah kesibukan sehari-hari. Dengan buku ini, Neil mengajak para pembaca awam untuk ikut merayakan kemegahan jagat raya tanpa harus bersusah payah membaca buku-buku tebal dengan penjelasan yang panjang dan rumit. 

Buku yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia ini terdiri dari 12 bab yang memuat kisah awal pembentukan alam semesta, perjalanannya hingga kini dan renungan pribadi Neil dalam memandang jagat raya secara keseluruhan. Dalam Bab pertama, Neil membahas bagaimana jagat raya bermula: dimana segala ruang, materi dan energi pada awalnya terkandung dalam suatu titik yang sangat kecil, bahkan satu per satu triliun kali lebih kecil daripada tanda titik di akhir kalimat ini. Dia menjelaskan bagaimana seluruh energi di jagat raya masih berkumpul jadi satu, kemudian meledak dalam sebuah ledakan mahadahsyat yang kita sebut “ledakan besar” atau Big Bang. Jagat raya yang saat itu mirip seperti sup yang mendidih, kemudian memulai perjalanannya dengan memasak bahan-bahan untuk keperluan mengisi ruang dan waktu. Alam semesta pun dipenuhi benda-benda hingga menciptakan kehidupan di Bumi. Neil dalam bukunya mejelaskan dengan gamblang, serta merunutnya dengan baik dari periode waktu ke waktu. Tanpa mengurangi kemegahan jagat raya itu sendiri, tiga belas miliar tahun lebih umur jagat raya dapat Neil ringkas dengan lugas pada bab satu hanya dalam enam halaman. 

Kemudian dalam bab dua Neil membahas bagaimana manusia mencoba untuk menerjemahkan jagat raya dalam sejumlah hukum fisika. Berdasarkan pengamatan dan pengujian, hukum-hukum tersebut berlaku sama, antara di langit dan Bumi. Neil membuka bab dua dengan bagaimana Sir Isaac Newton menuliskan hukum gravitasi universal yang pertama dan bagaimana teori-teori tersebut mengalami cobaan. Teori itu harus diuji dan disesuaikan dengan peristiwa jagat raya yang dinamis. Adalah Albert Einstein yang pada tahun 1916 kemudian memperluas kaidah-kaidah gravitasi Newton sedemikian rupa, hingga juga dapat berlaku pada objek-objek bermassa sangat besar di jagat raya, yang sebelumnya tak mampu dijangkau Newton. 

Pada bab tiga Neil membahas mengenai cahaya dan bagaimana awal mulanya – membuat kita mengerti bahwa ada cahaya yang tak telihat. Lewat spektrum warna-lah kemudian para ahli menemukan adanya “Latar belakang kosmik”, yaitu titisan cahaya yang berasal dari alam semesta awal yang sangat terang dan panas. Latar belakang kosmik ini kemudian menjadi acuan informasi dalam memahami dan memetakan alam semesta awal. Penemuan spektrum cahaya pun mengarahkan manusia pada penemuan benda-benda langit yang luar biasa. Dalam bab empat misalnya, Neil menjelakan bagaimana alam semesta diisi oleh benda-benda super masif, salah satunya adalah galaksi. Jutaan hingga miliaran gugus galaksi telah ditemukan dan teramati oleh manusia lewat teleskop-teleskop hebat yang mampu melakukan pengukuran melalui sinar X, inframerah dan sebagainya. Teleskop cahaya tersebut pun mampu mempredikisi sekaligus mendeteksi bahan penyusun serta suhu benda-benda di alam semesta. 

Berlanjut pada bab lima dan enam, Neil membahas soal adanya “materi gelap” dan “energi gelap” yang mengisi sebagian besar jagat raya. Gaya misterius tersebut hingga kini masih belum dapat dipahami dengan baik oleh manusia, namun efek yang ditimbulkan pada jagat raya sangat besar. Materi gelap adalah sebuah gaya yang membuat galaksi menjadi satu dan tidak tercerai-berai, sedangkan energi gelap adalah suatu gaya yang membuat alam semesta terus mengembang. Kedua gaya yang masih misterius tersebut meninggalkan lubang serius pada teori gravitasi dan hukum fisika hingga kini. Neil juga memaparkan bagaimana usaha manusia dalam perjalanannya memahami dan memecahkan apa sebetulnya dua gaya tersebut, yang sedang menunggu untuk ditemukan. 

Jagat raya – seperti yang telah disebutkan sebelumnya – terdiri dari banyak sekali partikel dan materi. Salah satunya yang mungkin tak kita sadari adalah unsur-unsur dalam Tabel Periodik Unsur Kimia. Dalam bab tujuh Neil menjelaskan bahwa asal-usul unsur tersebut tidak semata berasal dari kerak Bumi, melainkan berasal dari jaga raya. Hal inilah yang kemudian masih belum banyak dipahami, bahwa penjelajahan akan alam semesta tak harus mendongak namun juga bisa lewat unsur-unsur yang ada di Bumi. Kemudian pada bab delapan Neil membahas perihal bentuk bulat di alam semesta, dimana mayoritas benda-benda langit seperti planet dan bintang berbentuk bulat. Gravitasi, sebagai dampaknya membentuk benda-benda langit menjadi bulat, sebuah rancangan bentuk yang juga membantu manusia memahami lebih dalam tentang bentuk alam semesta. Kemudian pada bab sembilan Neil kembali membahas perihal cahaya tak tampak yang sempat disinggung pada bab tiga. Dalam bab ini Neil membahas upaya manusia dalam membangun berbagai teleskop-teleskop canggih untuk mengamati jagat raya. Beragam peristiwa seperti ledakan supernova hingga kejadian menakjubkan lainnya di alam semesta dapat diamati melalui teleskop sinar X, inframerah, interferometer hingga radio. Teleskop-teleskop tersebut telah memberdayakan kita untuk menjelajahi alam semesta sebagaimana adanya, bukan hanya seperti yang dilihat. 

Dari kejauhan jagat raya, Neil kembali menilik tata surya tempat manusia tinggal dan tempat planet-planet tetangga berada. Dalam ruang antar planet, Neil membahas bahwa ruang antar planet itu sangat kosong, namun tidak kosong sama sekali. Didalam bab sepuluh inilah Neil membeberkan benda-benda serta gaya apa saja yang mengisi ruang kosong antar planet dan bagaimana Bumi serta planet lainnya bereaksi terhadapnya. Kemudian pada bab sebelas Neil berbicara tentang eksoplanet Bumi – bagaimana upaya manusia dalam mencari planet kembaran Bumi – berharap menemukan kehidupan cerdas lainnya di jagat raya. Ribuan eksoplanet sudah berhasil kita temukan, dan hal tersebut telah mendorong kita untuk terus mengeksplorasi jagat raya hingga jauh kedepan. Lalu pada bab terakhir, Neil menutup buku ini dengan menghadirkan renungan pribadinya atas jagat raya. Lewat bab ini Neil mengajukan pandangannya tentang siapa saja sebenarnya yang dapat merayakan pandangan kosmik atas kehidupan, ketika banyak orang tidak memiliki kemewahan berupa waktu untuk dapat mempelajari jagat raya. Selain itu menurut Neil, dibutuhkan negara dan pemerintahan yang mampu menghargai pencarian untuk memahami tempat umat manusia di alam semesta agar rakyatnya dapat bertindak dan berpikir dengan sudut pandang kosmik. Karena seperti yang di sebutkan Neil bahwa kita bukan sekadar hidup di alam semesta, namun alam semesta hidup dalam diri kita. 

Membaca buku Neil dapat menjadi jalan pintas bagi pembaca yang tidak ingin berbelit-belit dalam memahami jagat raya. Namun memang terdapat beberapa bagian dalam buku yang pembahasannya cenderung teknis dan lebih cocok diperuntukkan bagi mereka yang sudah memiliki pemahaman mendasar soal astrofisika. Meskipun begitu, hal tersebut tidak mengurangi substansi buku itu sendiri yang berusaha menyajikan gambaran akan alam semesta. Fakta-fakta yang telah dimampatkan dalam sebuah buku tipis ini – menurut saya – sudah cukup lengkap dalam menyajikan gambaran besar alam semesta beserta isinya. 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *