Astrologi: Pseudosains yang Mengambil Alih Kesadaran Manusia


Oleh: Faiza Nur Sabrina

Zodiak Virgo (22 Agustus-24 September)

“Sepertinya kita butuh waktu tidur yang cukup nih, biar tetap konsentrasi di sekolah. Kurangi waktu begadang ya!”

“Kondisi keuangan saat ini, banyak pengeluaran tidak terduga. Ketatkan pengeluaran sekarang juga!”

Kira-kira begitulah bunyi salah satu ramalan zodiak di sebuah majalah remaja. Ramalan zodiak serupa mungkin sudah tak asing lagi ditemui di berbagai media massa, dan menjadi salah satu kolom yang paling dicari oleh pembaca. Banyak orang yang senang membaca zodiak karena merasa menemukan petunjuk serta kebenaran di dalam analisisnya; mencari jawaban atas permasalahan sehari-hari, memprediksi masa depan serta membantu seseorang untuk memahami dunia di sekitarnya. Namun hanya segelintir orang yang mau bersusah payah mempertanyakan keabsahan proses dan hasil ramalan zodiak. Sudah sejauh mana kita tahu tentang kebenaran ramalan-ramalan zodiak, dan mengapa kita selalu merasa tertarik dengan analisis-analisis mengambang tersebut? Apa yang sudah menarik perhatian kita? Lalu apa bedanya dengan Astronomi – saudara dekat Astrologi yang akhirnya terpisah?

Sejarah Awal Astrologi  

Astrologi adalah ilmu yang mempelajari bagaimana posisi, pergerakan dan komposisi benda-benda langit dapat berpengaruh terhadap kehidupan manusia dan kejadian di Bumi. Astrologi dapat di identifikasi sebagai pendahulu dari ilmu astronomi, namun astrologi lebih menekankan pada pengaruh benda-benda langit terhadap takdir dan urusan manusia, serta digunakan untuk meramalkan kejadian di masa depan. Para astrologer (sebutan untuk pakar astrologi) bekerja dengan cara melihat 12 tanda zodiak (yang berupa rasi bintang) untuk mendapatkan masukan mengenai kehidupan manusia, asmara hingga karir. Dua belas rasi bintang itu adalah Capricorn, Aquarius, Pisces, Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo, Virgo, Libra, Scorpio dan Sagitarius.

Dahulu, astrologi adalah ilmu yang sama berharganya dengan ilmu sains lain dan diajarkan di universitas. Para ahli astrologi pada zaman Renaissans adalah para filsuf, matematikawan hingga astronomer. Selain diajarkan di perguruan tinggi, astrologi juga tercermin dalam kesenian, literatur dan arsitektur pada masa itu. Salah satu astrologer termahsyur adalah Claudius Ptolomeus; terkenal dengan karyanya yang berjudul Tetrabiblos, sebuah ‘text book’ astrologi yang menjelaskan pengaruh bintang-bintang terhadap tubuh manusia dan keadaan sosial masyarakat. Tetrabiblos adalah satu-satunya infromasi tertua yang dimiliki hingga kini, karena dokumen astrologi lainnya telah hilang bersamaan dengan kehancuran perpustakaan Alexandria. Buku karangan Ptolomeus banyak digunakan sebagai referensi oleh para astrologer hingga abad ke-17.

Jika melihat awal sejarahnya, astrologi dapat dilacak di beberapa peradaban kuno seperti Mesopotamia, Yunani dan Babilonia. Observasi astrologi pertama berawal dari masyarakat nomadik yang hidupnya berpindah-pindah. Mereka menaruh perhatian besar terhadap pergerakan Matahari dan Bulan, yang penting untuk menentukan musim tanam dan musim panen. Studi terhadap pergerakan benda-benda langit tersebut kemudian melahirkan mitos-mitos dan interpretasi yang menandakan bahwa masyarakat kuno saat itu telah mencapai pemahaman atas matematika, astronomi dan mitologi.

Bukti awal perkembangan astrologi berada di Mesopotamia, yang pada masa-masa awal didiami oleh masyarakat Sumeria. Salah satu bukti keberadaan ramalan astrologi tertuang dalam sebuah dokumen terkait dengan Gudea, penguasa Lagash yang memerintah pada tahun 2122 hingga 2102 sebelum masehi. Disebutkan bahwa dalam mimpinya ia diperintahkan untuk membangun sebuah kuil. Ia melihat seorang wanita meratakan bangunan dengan suatu pola di tanah dan mempelajari sekeping tanah lempung yang menunjukkan konstelasi bintang. Gudea diberitahu jika perempuan itu adalah Dewi Nisaba, dan ia mempelajari tabel bintang-bintang untuk membangun kuil berdasarkan petunjuk langit. Di samping itu, bukti yang datang dari periode Babilonia kuno juga menunjukkan adanya kompilasi ramalan bintang yang di kenal sebagai Enuma Anu Enlil. Salah satu ramalannya berbunyi:

‘If, on the day of its disappearance, the god Sin [the Moon] slows down in the sky [instead of disappearing suddenly], there will be drought and famine in the country. (Bauer, 1938 dalam Barton, 1994)

Dalam sepotong ramalan tersebut, disebutkan bahwa pergerakan Bulan bisa menjadi pertanda akan datangnya kekeringan dan kelaparan. Selain di Mesopotamia, astrologi juga berkembang di peradaban lain seperti Mesir, Yunani dan Romawi. Bangsa Mesir tidak menggunakan ilmu astrologi hingga Raja Alexander menginvasi Mesir pada 332 sebelum masehi. Salah satu sumbangsih Mesir dalam ilmu astrologi adalah sistem kalender yang terdiri dari 12 bulan dan 30 hari di tiap bulannya. Kalender ini digunakan untuk perhitungan astrologi karena dinilai lebih mudah daripada sistem penanggalan bangsa Babilonia yang rumit. Di Yunani, astrologi mendapat pengaruhnya lewat Mesopotamia, dan mulai mengembangkan mitos-mitos serta menambahkan unsur filosofis serta rasionalisasi dalam ilmu astrologi. Yunani juga memperkenalkan teori empat elemen; api, tanah, udara dan air yang hingga saat ini masih digunakan dalam setiap analisis ramalan. Astrologer pertama di Romawi kuno adalah para Chaldean – masyarakat Kasdim yang mendiami Babilonia, yang datang ke Romawi dan mulai mengenalkan kesenian. Astrologi dengan cepat naik ke permukaan dan masyarakat sangat tertarik dengan aspek ramal-meramal para ahli nujum tersebut. Para intelektual Romawi pun terkesima dengan kedalaman filosofis ilmu astrologi yang digabungkan dengan penggunaan siklus planet-planet.

Astrologi mencapai puncak kejayaannya pada abad pertengahan dan Renaissans yang berlangsung dari abad ke-11 hingga ke-17. Astrologi pada masa ini telah menjadi sebuah cabang ilmu pengetahuan dengan kekayaan dan kedalaman yang di dapatkan melalui studi dari lebih 3000 tahun peradaban besar dunia. Pada masa itu lahirlah para intelektual dalam bidang astrologi hingga tidak ada satu pun kerajaan Monarki atau para aristokrat yang tidak memiliki astrologer kerajaan atau pribadi. Ilmuwan yang juga sekaligus astrologer pada periode ini di antaranya adalah Tycho Brache, Johannes Kepler dan Galileo Galilei.

Memasuki abad ke-18 popularitas astrologi mulai menurun, salah satunya adalah akibat kemunculan revolusi sains yang mengubah cara berpikir masyarakat menjadi lebih rasional, serta perubahan cara pandang manusia dalam kaitannya dengan posisisnya di alam semesta. Penemuan sains telah mengungkapkan bahwa Bumi bukanlah pusat tata surya maupun alam semesta; bahwa Bumi hanyalah salah satu planet diantara banyaknya planet di alam semesta, semakin mengukuhkan bahwa Bumi bukanlah tempat spesial yang kejadiannya diatur oleh sesuatu yang bersifat astral.

Astrologi pada Abad Ke-21

Pada abad ke-16 yaitu sekitar tahun 1523-1524, tanah Eropa dikejutkan dengan sebuah ramalan yang menimbulkan histeria masal. Para astrologer saat itu meramalkan tibanya kiamat dunia, yang di akibatkan oleh peristiwa banjir bandang besar. Banjir tersebut diramalkan terjadi pada saat konjungsi tiga planet teratas; Jupiter, Saturnus dan Mars dalam rasi bintang Pisces (tanda air). Kabar tentang ramalan banjir bandang pun membuat seluruh rakyat Eropa gelisah, hingga banyak yang berpindah tempat tinggal. Rumor pun sampai ke Paris dan membuat salah satu ketua parlemen di daerah Toulouse membangun sebuah bahtera di atas gunung. Tahun demi tahun berlalu dan ketakutan atas ramalan itu tumbuh makin tajam. Tentu saja banjir bandang itu tidak pernah terwujud. Hujan deras memang turun di beberapa bagian di Italia, namun peradaban manusia tidak musnah seperti yang diramalkan. Daerah lain di Eropa bahkan tetap kering. Banyak yang berpendapat jika kegagalan ramalan itu telah menghancurkan wajah astrologi, dan mengantarkannya ke ambang kematian. Jika memang benar seperti itu, seharusnya astrologi telah lama mati dan tak pernah lagi digunakan. Namun hingga saat ini, astrologi justru berkembang pesat dan mendapat tempat di masyarakat luas. Lalu apa yang menjadikannya tetap eksis hingga kini?

Astrologi adalah ilmu yang sama tuanya dengan peradaban manusia itu sendiri. Meskipun mendapat serangan dan akhirnya dianggap sebagai ilmu yang tak berdasar, tak dapat di pungkiri bahwa astrologi masih ‘selamat’ dari kepunahan bahkan bertahan di abad ke-21. Saat ini astrologi banyak di kenal lewat ramalan horoskop atau zodiak yang menghiasi koran-koran dan majalah. Tak hanya media cetak, namun di televisi, radio hingga media sosial pun dapat dengan mudah dijumpai ramalan zodiak. Kini setelah adanya sains dan demarkasi tegas antara astrologi dan astronomi, justru keduanya masih dianggap sebagai ilmu yang saling berkaitan satu sama lain.

Astronomi mungkin adalah ilmu saintifik yang telah diakui, sedangkan astrologi tak lebih dari sebuah omong kosong yang menyangkut pautkan kejadian langit sebagai validasi. Tapi ada satu hal yang mungkin dilewatkan oleh para ilmuwan astronomi – sekeras apapun mereka berusaha meyakinkan bahwa astrologi bukanlah ilmu sains – yaitu kemampuan meramal masa depan dan lekatnya ia dengan urusan sehari-hari manusia. Setiap hari, para astrologer membuka jasa konsultasi dan setiap hari pula ramalan bintang bertengger di berbagai media massa. Astrologi tak lain telah berhasil memainkan perannya sebagai pemberi bantuan kepada orang-orang agar dapat memahami tempat dan makna eksistensi mereka di alam semesta baik secara keagamaan, intelektual dan emosional. Kemampuan astrologi dalam membaca kehidupan manusia berdasarkan posisi planet-planet dan bintang-bintang membuat manusia merasa lebih aman dalam menjalani hidup; bahwa hal-hal di langit turut memberikan pengaruh sekaligus petunjuk atas peristiwa-peristiwa acak yang dialami manusia sehari-hari. Hal inilah yang tidak dilakukan astronomi, yang hanya mempelajari benda-benda langit seperti apa adanya. Orang-orang tentu tidak ingin mendengar ceramah panjang lebar soal astronomi yang sama sekali tidak berpengaruh terhadap kehidupan mereka sehari-hari. Padahal benda-benda lagit sama sekali tidak memiliki pengaruh terhadap urusan manusia, baik itu tentang asmara, pendidikan, keuangan, kelahiran atau kesehatan. Jarak planet-planet dan bintang-bintang yang sangat jauh tentu tidak memiliki hubungan langsung dan spesifik terkait permasalahan hidup manusia.

Kini astrologi menikmati masa-masa kejayaannya kembali, terutama di abad ke-21 dengan teknologi yang membawa astrologi naik ke level yang sama sekali baru. Astrologi telah menjadi bagian dari fenomena budaya global. Ia tak lagi dianggap sebagai ilmu yang sulit dan serius seperti pada masa Ptolemy, namun lebih mudah dan lebih ‘approachable’ terutama melalui internet. Dengan mudah ditemui ribuan meme, stiker, foto, video dan bahasa-bahasa astrologi hadir di tengah-tengah masyarakat lewat media sosial. Bahasanya yang ringan dan mudah dicerna, ditambah dengan bumbu komedi sukses membuat astrologi makin dikenal dan lekat dengan kehidupan sosial masyarakat. Tentu ada orang yang tidak percaya dengan ramalan horoskop, namun astrologi yang telah menjadi bagian dari interaksi sehari-hari membuat sebagian lainnya ingin mempercayai ramalan-ramalan tersebut, terlepas dari keabsahan analisisnya. Dengan meme, orang dapat dengan mudah mencerna dan mengidentifikasi suatu hal atau peristiwa, dan tak terasa kemudian tertanam dalam, di dalam benak mereka.

Cara Kerja Astrologi

Astrologi tentu bukan semata-mata ilmu yang ngawur, karena Ptolemy dan astrologer zaman dulu tetap harus menguasai ilmu astronomi dan mempelajari langit secara matematis. Seperti Ptolemy yang menulis buku pertama Almagest yang membahas soal astronomi (sebelum Tetrabiblos), para astrologer dari Babilonia hingga Yunani pun menggunakan pengamatan astronomis yang ditulis dalam tabel-tabel. Cara kerja astrologer dalam melakukan peramalan tidaklah gampang. Mereka harus memperhatikan banyak hal; posisi langit, orbit relatif planet terhadap Bumi dan bintang, pergerakan benda-benda langit, posisi planet didalam rasi bintang, hingga menghitung kapan persisnya suatu rasi bintang terbit di langit di suatu tempat tertentu.

Astrologi sendiri adalah ilmu yang berdasar pada pandangan Geosentris, maka dari itu ramalan horoskop sangat bergantung pada bintang-bintang. Seluruh pengukuran yang dilakukan oleh para astrologer kuno melihat Bumi sebagai pusat tata surya/alam semesta dengan Matahari, Bulan dan bintang yang mengelilinginya. Manusia kala itu melihat bahwa Bulan dan Matahari memiliki pengaruh yang nyata bagi kehidupan di Bumi. Matahari menyediakan energi, menciptakan musim serta membuat pagi dan malam. Juga Bulan, yang memengaruhi peristiwa pasang-surut air laut. Tentu, pengaruh keduanya tak dapat dihindari oleh manusia, karena efeknya yang sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Seiring berkembangnya pemahaman manusia dalam pembacaan peristiwa langit, budaya dan mitos dalam masyarakat pun turut andil dalam perkembangan ilmu astrologi. Benda-benda langit dikatakan  mempunyai pengaruh terhadap manusia karena memiliki kekuatan dari unsur ‘gaib’. Langit dipercaya memiliki kekuatan untuk mengatur hidup manusia, dan bintang-bintang serta planet dikaitkan dengan mitos-mitos keagamaan dan dewa-dewi. Tiap planet – termasuk Bulan dan Matahari – dilekatkan dengan sifat-sifat tertentu untuk mempermudah interpretasi terhadap pengaruhnya kepada manusia. Dalam kebanyakan budaya pun, sifat-sifat tersebut dapat berbeda satu sama lain. Seperti contohnya planet Jupiter, Bulan dan Venus yang dianggap memiliki pengaruh positif dan menguntungkan, sedangkan Saturnus dan Mars dianggap berpengaruh negatif dan buruk. Pada peradaban Yunani, masyarakat memberikan julukan terhadap planet-planet yang mengarah pada dewa-dewi Yunani. Saturnus adalah dewa Kronos, Jupiter adalah dewa Zeus, Matahari adalah dewa Helios, Venus adalah dewi Aphrodite dan sebagainya. Mitologi Yunani juga mengasosiasikan dewi Artemis sebagai dewi Bulan yang berkaitan dengan kelahiran bayi, sedangkan di Romawi dewi Bulan adalah Diana yang berperan sama dengan Artemis dalam menentukan kelahiran. Interaksi antar planet juga dapat dijelaskan berdasarkan mitologi yang ada dalam tiap kebudayaan. Planet-planet dideskripsikan layaknya manusia dan dewa-dewi dalam kepercayaan politeisme, bahkan memiliki gender.

Lebih dari sekadar pergerakan planet-planet dan hubungannya dengan alam semesta, astrologi menawarkan pandangan bagaimana benda-benda langit berpengaruh terhadap kehidupan di Bumi. Tentu pemikiran tersebut dibangun berdasarkan model dari efek Matahari dan Bulan yang kasat mata. Alasan lain adalah adanya hubungan antara macrocosm (alam semesta) dan microcosm (manusia), pengaruh astral, pengaruh elemen penyusun alam semesta dan sebagainya. Selama ini para filsuf dan sekte keagamaan mengembangkan pemahaman adanya hubungan antara bintang-bintang dan manusia. Namun hubungan ini – dalam kebanyakan teks – tidak dijelaskan secara gamblang dan tetap mejadi misteri. Perhitungan matematis yang dilakukan oleh para astrologer telah bercampur dengan mitos dari kebudayaan masyarakat itu sendiri sehingga menimbulkan bias. Tiap rasi bintang dikatakan memiliki sifat-siat tertentu, misalnya rasi bintang Capricorn yang ambisius dan gigih, Libra yang mengutamakan keadilan dan kesetaraan, Cancer yang ramah dan simpatik dan sebagainya. Dari mana munculnya sifat-sifat tersebut, apakah bintang-bintang di atas sana mewakili sifat-sifat ke-manusiaan itu? Manusia sendiri-lah yang meletakkan sifat-sifat itu berdasarkan kepercayaan mereka sendiri. Manusia itu sendiri-lah yang berandai-andai dan tenggelam dalam mitos dewa-dewi selama berabad-abad. Seluruh hasil ramalan zodiak dan horoskop tidaklah spesifik, hanya berada pada analisis mengambang yang juga dapat terjadi pada semua orang di luar zodiak tertentu. Jika pembaca ingin membuktikan kebenaran ramalan tersebut mudah saja; kumpulkan beberapa ramalan berbeda dari sumber yang berbeda-beda pula, maka lihatlah bahwa ramalan tersebut tidak sinkron satu sama lain. Hal ini menunjukkan bahwa astrologi bukanlah suatu hukum saklek layaknya hukum alam, namun lebih kepada omong kosong yang tak berujung. Manusia lah yang tidak memiliki keberanian untuk menjalani kehidupan yang acak, dan memilih bergantung pada langit yang sesungguhnya tak bergeming dan acuh.

Mengapa Astrologi itu Pseudo Sains?

Jika ditanya apakah Astrologi adalah pseudosains, mayoritas ilmuwan akan setuju bahwa Astrologi adalah pseudosains. Meskipun begitu, cukup sulit untuk kemudian menetapkan secara tegas bahwa astrologi benar-benar pseudosains karena beberapa faktor; persoalan verifikasi, progres keilmuan, hingga demarkasi seperti apa yang dibutuhkan untuk memisahkan apakah suatu disiplin itu saintifik atau pseudosaintifik.

Pseudosains secara harfiah berarti sains yang salah (false science), mengacu pada gagasan dimana para penganjurnya mengklaim validitas saintifik, namun dalam kenyataannya lemah dalam dukungan empiris. Pseudosains juga dapat berarti datang dari pertimbangan yang salah atau metodologi saintifik yang lemah. Astrologi telah menyandang status ini sejak era pencerahan karena tidak lagi dapat diterima secara luas seperti sedia kala. Pandangan terhadap dunia telah berubah dan astrologi tidak membuat progres apapun untuk menyesuaikannya. Meskipun astrologi dianggap pseudosains, tetap saja praktik astrologi masih ada hingga kini walaupun tak lagi berjaya seperti di zaman keemasaannya.

Astrologi bukanlah ilmu sains murni ataupun juga pseudosains murni, namun berada di antara keduanya – gabungan dari generalisasi empiris berdasarkan observasi dan asumsi filosofis. Meskipun astrologi menunjukkan hal-hal yang sifatnya pseudosaintifik, namun dasar ilmu astrologi yang berkaitan dengan astronomi juga tak pernah benar-benar disangkal. Generaliasasi dan prediksi astronomis adalah bagian saintifik dalam astrologi, sedangkan asumsi filosofis yang berkaitan dengan urusan manusia serta hal-hal metafisik adalah bagian non-saintifik. Inilah yang membuat astronomi dan astrologi tak pernah bisa benar-benar dipisahkan, dan membuat praktik astrologi tetap eksis hingga kini. Paduan antara ilmu astronomi yang saintifik dan didukung oleh kemampuannya meramalkan masa depan membuat astrologi dicintai lebih karena sifatnya yang kedua.

Pada zaman kuno, tidak ada garis pembeda antara astronomi dan astrologi dalam waktu lama, dan kebanyakan orang justru berkutat pada astrologi. Namun seiring perkembangan zaman, astrologi kemudian dianggap sebagai pseudosains, karena tidak ada perkembangan yang signifikan secara keilmuan. Astrologi tidak menawarkan hal baru ataupun teori baru yang sesuai dengan pengamatan dan perkembangan zaman. Selain itu, salah satu aspek pseudosaintifik yang semakin jelas adalah tidak adanya kesepakatan antar astrologer mengenai cara menginterpretasikan posisi planet-planet dan sistem ramalan apa yang harus digunakan. Tidak ada satu sistem universal yang dapat digunakan oleh seluruh astrologer di dunia dalam meramalkan sesuatu, sehingga interpretasi sangat bergantung pada tiap-tiap astrologer – yang sangat mungkin menghasilkan ramalan berbeda satu sama lain. Untuk itu astrologi sangat di ragukan keabsahannya karena tidak dapat diuji kebenarannya dan tidak dapat memberikan prediksi yang tepat.

Kini sudah saatnya masyarakat dan para praktisi astrologi sendiri mengajukan beberapa pertanyaan penting terhadap keabsahan astrologi; pertama, apakah para astrologer memiliki kesepakatan terhadap prinsip-prinsip dalam teori astrologi dan bagaimana cara memecahkan permasalahan yang di hadapi teori tersebut? Kedua, apakah para astrologer memiliki perhatian untuk menjelaskan anomali-anomali yang dihadapi teori astrologi dan melakukan perbandingan antara kesuksesan teori mereka dengan teori-teori lain? dan ketiga apakah para praktisi astrologi secara aktif terlibat dalam usaha konfirmasi dan pembantahan teori astrologi? Pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian mengarah pada konteks historis, di mana sebuah teori dapat ditolak kebenarannya jika mengalami anomali dalam waktu lama dan dibantah oleh teori alternatif lain. Dari situ, prinsip-prinsip demarkasi yang membuat sebuah teori atau disiplin yang awalnya mengaku saintifik kemudian berubah menjadi pseudosaintifik dapat terjadi dengan syarat:

  1. Suatu teori kurang progresif daripada teori alternatif lain dalam kurun waktu lama dan menghadapi banyak persoalan yang tidak terpecahkan
  2. Komunitas atau para praktisinya membuat sedikit sekali usaha untuk mengembangkan teori dengan menyediakan solusi terhadap persoalan yang dihadapi teori, tidak menunjukkan minat untuk mengevaluasi teorinya dengan teori lain serta selektif dalam melakukan konfirmasi dan pembantahan.

Kemajuan adalah hal penting bagi kesuksesan sebuah teori untuk menetapkan fakta-fakta serta pemecahan masalah. Faktor kemajuan adalah hal utama yang membuat astrologi tidak saintifik, karena astrologi sangat tidak progresif dalam pembangunan teorinya. Di samping itu, teori alternatif pun muncul sebagai angin segar dalam masa-masa astrologi yang suram dan panjang – misalnya teori tentang kepribadian (personality) dan perilaku (behavior) seperti Teori Gestalt dan teori-teori lain dalam bidang Psikologi – yang berkembang untuk menjelaskan fenomena-fenomena pada astrologi yang dahulu sering dikaitkan sebagai pengaruh dari langit.

DAFTAR PUSTAKA

Kasak, Enn. ­2000. Ancient Astrology as a Common Root for Science and Pseudo-Science. Journal of Folklore. Vol. 15 (84-104).

Eamon, William. 2014. A Companion to Astrology in the Renaissance: Chapter Five: Astrology and Society. USA: Brill.

Peoplestrology. 2018. PS Trends #1 Why are People so Obsessed with Astrology?. Sao Paulo and New York: Peoplestrology.

Kallery, Maria. 2001. Early-years Educator’s Attitudes to Science and Pseudo-science: the case of astronomy and astrology. European Journal of Teacher Education. Vol. 24, 3 (329-342).

Beko, Eva. 2012. Is Astrology Necessarily a Pseudoscience?. Thesis. Central Europian University.

Thagard, Paul. R. 1978. Why Astrology is a pseudoscience. PSA: Proceedings of the Biennal Meeting of the Philosophy of Science Association. Vol. 1, (223-234).

Barton, Tamsyn. 1994. Ancient Astrology. London: Routledge.

Beck, Roger. 2007. Brief Histories of the Ancient World. USA: Blackwell Publishing

Avalos, Anna. 2007. As Above, So Below. Astrology and the Inquisition in Seventeenth-Century New Spain. Thesis. European University Institute.

Pannekoek, A. 1961. A History of Astronomy. New York: Interscience Publishers, Inc.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *