Banda, The Dark Forgotten Trail : Mengingat Kembali Jalur Rempah yang Dilupakan


Oleh: Aldinza Muhammad

Jauh sebelum perut bumi dilubangi demi sendokan-sendokan tambang berporsi raksasa, tanaman pala adalah primadona bagi perdagangan dunia. Keampuhan pala sebagai pengawet makanan hingga obat perangsang, masyhur belaka di telinga para penjelajah. Era penjelajah, bisa dikatakan, digerakkan oleh hasrat memiliki pala dan rempah-rempah. Jalur-jalur darat dan laut ditebas perlahan-lahan oleh ekspeditor-ekspeditor ulung, membuka tabir kegelapan atas peta bumi yang kala itu demikian misterius. Penemuan dataran dengan hasil pala ditandai dengan teriakan gemilang dari atas kapal jarak jauh.

Di balik tabir gelap zaman, keberadaan Nusantara telah samar tercium oleh orang-orang jauh. Kitab-kitab yang lebih kuno dari zaman itu sendiri mengabarkan secara tersirat keberadaan pulau dengan tanah yang hijau sejauh mata memandang. Kepulauan terbesar di bumi itu, telah dikenal secara samar sebagai dataran dengan hasil rempah juga pala terbaik di muka bumi. Beberapa pedagang dari arab juga china yang beruntung sampai di wilayah kepulauan ini, menjaga ketat informasi penemuannya. Pedagang Arab mengabarkan pulau-pulau itu dihuni suku bar-bar penggemar kepala manusia. Para pedagang dari china menyembunyikan rempah-rempah dari kepulauan ini di balik timbunan kain-kain sutra. Di dalam kepulauan besar itu, terdapat kepulauan kecil yang mulai ramai, kapal-kapal dari arab dan china datang secara periodik menukarkan kain juga emas dengan biji pala di bawah ucap sumpah dari sang pedagang, kepulauan itu bernama: Banda.

Melalui sebuah film dokumenter berjudul The Dark Forgotten Trail, Jay Subiakto menghadirkan kisah kecamuk ekonomi hingga politik di Kepulauan Banda. Kecamuk itu, juga partumpahan darah di atas tanahnya, tidak lepas dari keberadaan Pala yang dikatakan terbaik sedunia, yang tumbuh subur di pulau itu.

Babak 1: Penemuan Pulau Banda

Halaman pertama film Banda the Dark Forgotten Trail dibuka dengan narasi solid tentang betapa eksostisnya Nusantara bagi para penjelajah. Betapa aroma rempah seolah membubung pelan menuju penciuman bangsa-bangsa barat yang telah mengenal teknologi kapal, dan menuntun mereka untuk mengikuti aroma tersebut, menyusuri laut dari berbagai penjuru. Hingga membawa manusia sampai pada perjanjian terbesar sejarah dunia, Perjanjian Tordesilas, 1949, di mana bumi dibagi menjadi dua bagian, timur dan barat. Timur untuk Portugis, sedang barat untuk kerjaan Spanyol.

Melengkapi narasi tersebut adalah visualisasi jalur penjelajahan Spanyol dan Portugis ketika Bartolomeo Diaz pergi ke selatan menuju timur dan sampai di Tanjung Harapan, Afrika, pada 1488. Dan Christopher Columbus sampai di Benua Amerka pada 1492. Dilanjutkan dengan jalur penjelajah-penjelajah lain mulai dari John Cabot yang menyasar, lagi-lagi benua Amerika pada 1492, hingga perjalanan Vasco de Gamma hingga Kalkuta, India, dan berlanjut ke sosok Alfonso de Alberqueque yang untuk pertama kalinya melihat ujung kepulauan Nusantara di Semenanjung Malaya, dan memerintahkan Antonio de Abreu bersama Fransesco Serrao untuk melanjutkan penelusuran ke timur, menyusuri Sumatra, Madura, Maluku, hingga mereka menemukan Banda. 

Penemuan Banda, kebutuhan atas Pala, harga Pala yang menjulang tinggi, juga keberadaannya yang masih misterius, menjadikan kepulauan Banda semakin ramai dalam kurung waktu tak sampai 100 tahun.

Pada babak ini, kita akan dibawa pada semesta pala di era penejelajahan. Betapa pala dan rempah yang demikian diburu, menggerakkan roda peradaban. Penjelajah demi penjelajah seolah menyulam jalur pelayaran yang saat ini digunakan beramai-ramai dari kertas kosong, dengan tuntunan arah dari kompas berkutub rempah dan Myristica fragrans. 

Pala Banda (Myristica fragrans Houtt.) merupakan tanaman asli Indonesia yang berasal dari kepulauan Maluku (Purseglove, 1995). Tanaman pala menghasilkan dua produk bernilai ekonomi penting yaitu biji pala dan fuli atau kembang pala yang menyelimuti biji. Kedua produk ini menghasilkan minyak pala, atsiri, rempah, bahan obat, dan juga dimanfaatkan sebagai pengawet makanan dan minuman (Ojechi, 1998). Selain itu, minyak pala memiliki potensi antimikroba atau bioinsektisida (Stecchini, 1993). ketika listrik belum ditemukan, Pala digunakan sebagai bahan pengawet makanan untuk angkatan perang dan jelajah, yang artinya, menguasai pala berarti menguasai dunia.

Babak ini  memberikan pendidikan pada penontonnya tentang geo-histo-politik kepulauan Banda pada era kejayaan rempah dan pala di peta dagang global. Penonton seolah dibawa pada tur imajinasi menuju Pulau Banda, menembus kabut gelap di era ketika lampu neon belum bisa menyala. Tur yang kemudian dibawa oleh sutradara ke depan sosok seorang sejarawan bernama Dr. H. Usman Thalib dan seorang pemilik perkebunan Pala, Ponky Van Der Broeke. Dr. H. Usman Thalib menceritakan tentang tabiat hidup penduduk asli banda dan bagaimana mereka mengelola pala juga memperdagangkan cengkeh. Dari Ponky kita akan tahu betapa Pala Banda adalah pala terbaik yang mengucurkan air liur banyak armada dari berbagai belahan dunia.

Naskah yang solid, penuturan Reza Rahardian yang menghanyutkan, serta sinematografi yang bergerak zoom in menerobos rimba hutan Banda, menghasilkan sihir yang membuat penonton seolah membuka tirai-tirai daun dan semak pulau banda, yang di dalam hutan itu kita akan menemukan jalur gelap yang terlupakan (the dark forgotten trail), jalur ini tentu merujuk pada jalur rempah berikut dinamika sosial dan politik yang terjadi di sepanjang jalur terlupakan itu.

Babak 2: Pala, Politik, dan Perang

Kedatangan kapal-kapal bangsa Eropa ke Pulau Banda adalah awal dari konflik yang kelak akan menyisakan Banda sebagai pulau pembuangan yang terlupakan. Tabiat bangsa Eropa yang berdagang dengan semangat imperialisme; yang menguasai dan memonopoli, menyulut penolakan dari orang-orang Banda. Banda telah menjadi wilayah perdagangan yang melibatkan kultur dan ras dari berbagai ragam. Masyarakat banda adalah masyarakat multikultur yang ramah dan penuh toleransi. Namun, kedatangan Eropa dengan intensi mendominasi menjadikan Banda terpaksa mengangkat senjata, yang kemudian berujung pada pembantaian penduduk Banda oleh tentara Eropa.

Pada babak kedua, sutradara membawa penonton pada konsekuensi dari kepemilikan Pala yang melimpah oleh penduduk Pulau Banda. Ekspansi Belanda yang dipimpin Laksamana Pieterzoon Verhoven dengan membawa 13 kapal ekspedisi pada 1608 atas nama VOC adalah angin mula dari badai yang akan menguarkan bau darah penduduk Pulau Banda. Penolakan penduduk Banda terhadap kesepakatan-kesepakatan yang diajukan oleh Verhoeven berujung pada pembunuhan sang laksamana di daerah yang kelak disebut sebagai Kampung Verhoeven. Pembunuhan itu rupanya amat melukai Jan Pieterzoon Coen, juru tulis Verhoven. Kelak, sembilan tahun kemudian, pada 1617, Jan Pieterzoon Coen akan diangkat menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda, dan ia akan jadi badai darah yang akan berkecamuk dan memusnahkan nyaris seluruh penduduk asli Banda.

Jika pada babak sebelumnya penonton diajak menakjubi rimba pala di Pulau Banda, pada babak kedua, penonton diajak menelusuri jejak konflik bedarah dataran vulkanik ini. Melalui benteng-benteng kolosal yang ditanam VOC di dataran banda, penonton disuguhkan wacana keterkaitan pala dengan politik juga perang. Berawal dari biji tanaman seukuran kelereng, tumbuhlah benteng-benteng besar dan datanglah armada-armada perang, dan tumpahlah darah banyak orang. Pada babak ini, kita akan diingatkan kembali bahwa, manusia tak pernah berhenti bertumpah darah, berebut siapa yang paling banyak memperkosa ibu bumi hingga kemudian ditinggalkan dalam kesunyian.  

Babak 3: Banda yang Sunyi

Peradaban mengalir begitu saja, tak peduli jumlah orang yang terluka atau bahkan membusuk karena ditusuk atau dilubangi pelor peluru. Trend ekonomi dunia berubah, nilai pala dan rempah merosot drastic digantikan kebutuhan akan gula. Banda yang telah dibanjiri darah orang-orangnya, perlahan ditinggalkan. Yang tersisa: benteng-benteng sepi yang berdampingan dengan pohon-pohon pala yang tertata dalam bentuk perkebunan modern. Semenjak Belanda menguasai Banda, Pala ditanam dalam bentuk perkebunan modern. Sisa-sisa perekebunan itu, masih ada sampai sekarang. Berpayah-payah bertahan hidup demi menghidupi para pengelolanya. Babak ketiga, bercerita tentang kisah Ponky Van Der Broeke, seorang pemilik perkebunan pala. The Jakarta post menyebutnya sebagai the last of his kind. 

Dari isu besar yang dibicarakan pada babak sebelumnya, sutradara mengerucutkan lensa pada seorang Ponky, dan menyuguhkan perspektif mikro dari konflik politis yang disebabkan pesona sang Myristica fragrans. Dari tuturan Ponky kita bisa tahu betapa hidup orang Banda dapat demikian akrobatik. Perang dan konflik antar ras yang tiba-tiba meruncing di Banda, wilayah multikultur yang damai selama berabad-abad sebelumnya, pada era pemerintahan orde Soeharto, membuat Ponky kehilangan seluruh keluarganya. Suara Ponky bergetar dan matanya berkilau ketika menceritakan kisahnya itu.

Babak ketiga memberikan gambaran bagaimana Banda yang ditelantarkan oleh Jakarta begitu pala tak seberharga dulu. Oleh pemerintah Hindia Belanda, Pulau-pulau di Kepulauan Banda dijadikan tempat pembuangan para aktivis kemerdekaan, di antaranya Moh. Hatta dan Amir Syarifudin. Hatta menilai Banda adalah model dari kelak apa yang disebut “Indonesia” lantaran ragam budaya yang berkelindan di kepulauan itu. Dari gelap rimba pala, kapal-kapal dagang, juga kapal perang, Banda dikunjung-tinggali oleh berbagai macam jenis orang dan kejadian, wilayah ramai dan pikuk akan teriakan sumpah dagang, kini banda telah kembali menjadi the dark forgotten trail.   

Daftar Pustaka

Purseglove, J.W., E.G. Brown, S.L. Green, S.R.J. Robbins. 1995. Spices. Longkan, New York. p.175-228.

Ojechi, B.O., J.A. Souzey, D.E. Akpomedaye. 1998. Microbial stability of manggo (Mangifera indica L.) juice preserved by combined application of mild heat and extracts of two tropical spices. J. Food Protection. 61(6):725-727 

Stecchini, M.L, I. Sarais, P. Giavedoni. 1993. Effect of essential oils on Aeromonas hydrophyla in a culture medium and in cooked pork. J. Food Protection 56(5):406-409.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *