Benang Kusut Arema


Oleh: Riswanda AR Rasjid

Belum lama ini, pada tanggal 16 November 2020, Kelompok supporter Aremania berdemo di depan Balai Kota Malang. Mereka menuntut dituntaskannya dualisme yang terjadi pada klub kesayangan mereka. Mereka juga meminta pihak Yayasan Arema 1987 untuk duduk bersama guna menyelesaikan dan memperjelas kekeruhan yang terjadi. “Konflik dualisme PS Arema ini telah merusak pikiran, hati, jiwa, persaudaraan, dan mencoreng nama baik masyarakat Malang Raya, khususnya Aremania di pentas panggug sepakbola Indonesia,” ujar Andi Sinyo, Koordinator Lapangan aksi bertajuk “Make Malang Great Again” tersebut dikutip dari Republika.

Pencinta sepakbola sendiri pasti tahu, bahwa dualisme klub yang terjadi di Arema adalah barang lama warisan dualisme federasi dan liga pada tahun 2011-2012. Selain Arema, beberapa klub ternama yang juga mengalami dualism ini antara lain Persija Jakarta, PSMS Medan, dan Persebaya Surabaya. Namun kala klub lain telah usai dalam menengahi dualisme ini, konflik di tubuh Arema malah kian menjadi dan makin ruwet macam benang kusut. Sebagaimana telah saya sebutkan, konflik ini bermula pada 2012 kala Rendra Kresna, bupati Kabupaten Malang kala itu, membikin Arema yang bermain di Indonesia Super League (atau ISL, yang kala itu merupakan kompetisi ilegal). Arema inilah yang pada akhirnya bersalin logo dan nama menjadi Arema Cronus (via merger, fusi, tukar guling, atau apalah saya juga kurang paham dengan Pelita Jaya) dan kemudian Arema FC yang kini bermain di Liga 1. Padahal di kancah Indonesia Premier League (IPL), liga resmi saat itu, sudah ada klub Arema Indonesia yang masih dipegang oleh PT Arema Indonesia. Hasilnya bisa ditebak. Dualisme meruak, dan terus berjalan sampai akhirnya ISL kembali diterima sebagai liga resmi pasca dikudetanya Djohar Arifin Husin sebagai Ketua Umum PSSI. Alhasil Arema Indonesia yang bermain di IPL terkatung-katung nasibnya. Isu dualisme sempat sedikit mereda sampai kemudian Arema Indonesia kembali diakui sebagai anggota PSSI pada 2018. Setidaknya dari yang saya ketahui, selama tak berkompetisi itu, legalitas masih dipegang oleh kubu Arema Indonesia. Jika ada yang ingin meluruskan, saya akan dengan senang hati mendengarkan. Saya benar-benar pusing merunut akar masalah dualisme yang sudah berjalan hampir sedekade ini. Mengingat makan apa saya tadi malam saja, saya sudah kesulitan. Apalagi persoalan legalitas dan tetek bengeknya yang sudah hampir 10 tahun lalu? “Sebuah hil yang mustahal!” kalau kata pelawak legendaris, Asmuni. Jika ingin melihat ulasan yang lebih jelas, silakan baca berita yang diterbitkan oleh Tirto.id ini.

Jujur saya merasa kasihan dengan apa yang menimpa Aremania saat ini. Terlepas dari status saya yang notabene merupakan supporter klub rival, Persebaya, saya tetaplah pecinta sepakbola biasa yang selalu menaruh perhatian pada persoalan dunia bola Indonesia yang sepertinya memang tak pernah habis. Dualisme Arema pun, mau tak mau, jadi perhatian saya. Entah berapa kali celetukan “Arema seng endi (Arema yang mana)” mondar-mandir di lini masa saya. Meskipun, kalau boleh jujur, saya sering terhibur demi melihat tingkah polah Aremania yang seringkali defensif ketika mendapati pertanyaan tersebut, kelamaan saya merasa bosan juga. Sudah pertanyaannya usang, jawabannya juga tidak menjelaskan akar dan duduk permasalahan. Bagi saya sendiri, penyelesaian sengketa ini sangat mudah jawabnya. Bawa saja ke meja hijau, biarkan hukum yang bicara. Tidak peduli mana Arema yang menangan atau mana yang populer, ketika aspek legalitasnya dinyatakan kurang oleh majelis hukum berarti itu bukan yang asli. Tapi tentu saja tidak semudah itu, Ferguso. Karena yang setidaknya yang sering saya lihat, kedua kubu masih mementingkan ego masing-masing. Ya jelas saja masalahnya makin suram. Hmmmmm.

Saya kasih saran saja buat Aremania itupun juga kalau mau mendengarkan ocehan rival yang kalian olok-olok saban hari. Kalau menuntut manajemen sudah tak bisa lagi diandalkan, boikot saja sekalian. Setidaknya dengan memboikot pertandingan Arema atau boikot-boikot lainnya, manajemen bakal sadar akan dampaknya, setidaknya secara ekonomi. Tidak masalah kalian tidak menonton klub kebanggaan kalian sekarang, dari pada kalian tidak bisa menontonnya di masa mendatang? Tentu akan sangat tidak seru bila rival abadi saya tiba-tiba menghilang ditelan bumi. Saya juga butuh rival untuk menambah seru akhir pekan saya. Saya bukan pendukung Juventus atau Bayern Muenchen yang oke-oke saja terus menerus menangan tiap tahun. Karena sepakbola tanpa rivalitas itu macam sayur tanpa garam. Kurang sedap. Toh, ini juga demi kebaikan klub yang kalian dukung. Yakinlah semua akan ada hasilnya. Saya juga pernah kok puasa tidak menonton Persebaya, meskipun ada “Persebaya” di ISL, selama 3 tahun. Hasilnya juga sudah bisa dilihat. Persebaya kembali diakui dan saya bisa sesuka hati bengak-bengok dan tertawa macam orang kesambet jin saat kami mengalahkan tim kalian. Hehe. 

Saya juga sepenuhnya sadar, dengan menulis artikel ini, saya bakal kena sikut kanan kiri. Teman saya yang Bonek pasti bakal bertanya,”Ngapain ngurusin rival!? Dasar pengkhianat!”. Teman saya yang Aremania pun bakal melontarkan hal serupa, “Kau itu rival! Gak usah ikut-ikut ngurusin klub kami!”. Ya, saya tahu kok. Saya tahu sekali. Saya memang bukan siapa-siapa. Saya hanya memosisikan diri sebagai pencinta sepakbola Indonesia. Toh, Profesor Moriarty tetap menghormati Sherlock Holmes walaupun mereka berdua adalah musuh bebuyutan. Jadi saya kesampingkan dulu rivalitas tak sehat yang ada di dada saya, dan saya coba berbicara murni dari perspektif orang luar. Jangan sampai harga diri kalian dipermainkan sekelompok orang. Sudah banyak klub sepakbola Indonesia yang dibuat main-main oleh satu dua orang hanya untuk kepentingan jangka pendek. Jangan sampai itu terjadi lagi dan jangan sampai Arema jadi yang berikutnya. Saya sudah pernah merasakan klub kesayangan saya dipermainkan, dan saya tidak mau itu terjadi lagi pada siapapun. Ketika semua persoalan ini usai, saya bisa merasa utuh ketika menang dalam derby. Saya rasa sebagian kecil Aremania juga ada yang merasa begitu. “You complete me,” ujar Joker pada Batman. Sebuah ungkapan yang menggambarkan hubungan saya dengan klub kalian, Arema. Tak perlu dibahas siapa yang jadi Batman atau Joker, yang jelas hidup saya tak lengkap tanpa bertanding melawan rival abadi, paling tidak 2 kali dalam semusim. Jadi semoga semua segera selesai. Karena kalau masalah ini tak kunjung usai, bagi saya rasanya bakal seperti main tinju melawan orang yang tangannya keseleo. Iya saya menang sih, tapi di mana serunya? Hehe. 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *