BERJEMUR DI BAWAH REMBULAN

oleh: Ridho Prasetiawan

ACT 46: ECLIPSE

Apakah kita ini di hadapan kesia-siaan?

Kamar 1709. Tiga lantai menuju atap. Di balik lembaran kaca tinggi di depanku, angin kota menyikat habis keinginan-keinginan akhir bulan. Kendaraan hilir mudik dari kelab malam seberang gedung. Satu orang keluar terhuyung, lalu muntah tepat di samping petugas keamanan. Beberapa temannya mengarahkan kamera ponsel, tertawa hahaha, beberapa yang lain memboyong menuju dalam mobil. Ramai-ramai mereka masuk kendaraan masing-masing, satu orang tersisa menyapu layar ponsel. Samar terlihat: dikirimnya video itu ke group chat.

Seperti selamat datang lagi. Maaf ya kalau kamu capek. Di lain sisi sebetulnya kamu tidak perlu terlibat atas masalah-masalah di hidupku. Biar aku sendiri yang menghadapinya…

“Jangan,” aku menolak.

Jariku bergetar pelan mendekati suara rekaman ponsel. 00:42. Pause.

“Jawabanku tetap akan percuma, bukan?”

Kuhela nafas dalam. Play.

Bersamaan dengan semakin tinggi suara kelab malam, lampu kedai kopi di sampingnya satu persatu dimatikan. Dari atap kaca kedai itu, tampak satu barista duduk lesu di belakang bar. Seorang lelaki berpakaian rapi menghampirinya. Sepertinya mereka terlibat perbincangan serius. Lelaki itu beberapa kali terlihat berteriak sambil mengacungkan jari. Perempuan itu menangis. Gelas kosong ia genggam. Lalu ia bergetar. Si lelaki memukul-mukul meja, dibuatnya perempuan itu melepas apron lalu meninggalkannya sendirian di kedai.

Perempuan itu berjalan cepat menjauhi kedai. Berkali-kali ia mengusap mata. Langkahnya serupa lari kecil, melalui keriuhan pedagang asongan di trotoar dan gerombolan laki-laki yang mencundanginya dengan kata-kata, yang kelihatannya, bajingan.

Lelaki bersetelan rapi bangkit dari bar. Berusaha menyusul si perempuan. Ia tengok kanan-kiri dari pintu depan, mungkin pikirnya, kemana ia pergi? Ia mematung di depan toko.

Pukul 21:09. Rekaman ponsel menit 02:26. Ponsel berdering.

“Hai, aku di depan pintu. 1709 kan? Bukain dong.”

Aku bangkit dari lamunanku lalu berjalan membukakan kunci.

“Halooo! You are as handsome as your photo says!

Seorang wanita dua puluh delapan tahun dengan crop tee dan mini skirt ini tiba-tiba memelukku. Rambutnya yang bergelombang mengipaskan bau parfum, yang kukira, tiga menit lalu baru dia pakai.

“Tolong tutup dulu pintunya,” mintaku.

Kami lalu bercumbu deras. Diciuminya leherku sampai memerah. Aku memegangi pinggangnya, mengelus pantat, lalu kuangkat dia menuju kasur. Dia tersenyum di balik lipstik merahnya yang berantakan.

Kapan terakhir kali kamu menyaksikan gerhana bulan?

ACT 12: WANING GIBBOUS

“Selamat ulang tahun!”

Pukul 00:18. Berbekal mata yang masih lengket, kulihat dia berdiri di ambang pintu membawa Big Mac dengan bendera kecil di atasnya bertuliskan 22. Topi segitiga mungil duduk di atas rambut pendeknya.

“Ya ampun. Kamu kok nggak berkabar sih kalo mau kesini?” tanyaku.

“Memangnya sejak kapan kejutan selalu memberi kabar? Nggak jadi surprise dong.” ujarnya sumringah.

So sweet! Boleh kumakan sekarang? Aku lapar,” gelakku.

“I-ih. Make a wish dulu dong. Dasar gembul doyan makan!” ejeknya.

“Nakal ya,” tanganku berusaha menggapai pundaknya, lalu dia berlarian kecil menuju kasur. Kami bersahut ejekan dan melempar tawa satu sama lain. Kadang pula kami saling menggelitik.

Dia mengambil korek lalu mendirikan lilin di atas roti. “Kata Taylor Swift, di umurmu yang ke dua puluh dua, kamu akan terlihat menderita sekaligus terasa magis,”

“Emang dia bilang gitu?”

“Berdasarkan terjemahanku, iya,” ucapnya sambil melet.

“Oke. Oke. Kalo begitu, di usiaku yang cukup unik ini, aku mau mendapat penderitaan yang menyenangkan!”

Kamu mengernyit, “Mana bisa! Menderita kan selalu menyakitkan.”

“Itu cuma ada di dalam kamus orang-orang yang pahit. Dalam bahasa Latin, menderita adalah suffere yang berarti menanggung. Aku bisa mengartikannya sebagai transisi dari ketiadaan apa-apa menjadi memiliki apa-apa.”

Api kecil perlahan menjatuhkan lilin ke atas bun. Bendera kecil 22 itu masih di sana.

“Aku masih belum mengerti. Apakah kamu juga akan mengartikan cinta sebagai penderitaan?”

To love is to suffer. To avoid suffering, one must not love. But then one suffers from not loving. Therefore, to love is to suffer, to not love is to suffer. Berbahagialah mereka yang menderita.”

Dia menaruh kotak makanan itu di atas kasur. Lilin tak lagi menyala. Raut mukanya lunglai. Dalam pikirannya, mungkin aku aneh.

“1975. Love and Death. Woody Allen,” ujarnya tiba-tiba.

Aku merasa ingin menarik penjelasanku. Jaket jeans biru yang menggantung di tubuhnya seperti basah. Kulihat rambutnya agak kumal seolah habis keramas.

Kaca kamar yang bening perlahan terlihat digarisi gerimis. Titik demi titik. Tak lama pun hujan. Kuputuskan berdiri memandang langit dan jalan protokol di seberang. Sekelompok muda-mudi berkaos hitam polos tergesa-gesa berlarian masuk ke dalam kedai kopi. Seorang pedagang nasi bebek menggelar tendanya, kursi-kursi plastik dimasukkan ke dalamnya.

Dia tiba-tiba memelukku dari belakang dengan lengannya yang dingin. Keningnya terasa hangat di punggung. Lalu kudengar ia bersenandung:

It feels like a perfect night

For breakfast at midnight

To fall in love with strangers

ACT 32: WAXING CRESCENT

Jadi, kita itu bertemu saat purnama, ya? Aku jadi ingat cerita-cerita mistis di mana karakter antagonis entah berantah mendapatkan kekuatannya saat bulan banjir dengan cahaya.

08:22. Play.

Brak! Aku membanting mouse. Di sela tenggat waktu pekerjaan yang kian habis, alat penggerak kursor ini memilih untuk mati? Sialan. Bisa saja aku memakai touchpad, tapi desain yang aku kerjakan akan selesai dua hari lagi, alias tidak masuk akal!

Kuputuskan malam itu pergi menuju mall samping apartemen mencari mouse baru. Uang sudah menipis. Tagihan tak kunjung cair. Klien kurang ajar! Harusnya dia beri aku uang muka terlebih dahulu.

Pukul 20:23. Berlari kecil, aku menaiki elevator satu persatu sambil berharap toko komputer belum tutup. Toko-toko itu ada di lantai 5. Aku bergumam, apa yang pemilik mall ini pikirkan ketika menempatkan toko elektronik di lantai tertinggi? Bukankah kebutuhan mendesak selalu berkaitan dengan barang elektronik?

Toko komputer itu bernama Donny Electronic Center. Cukup besar untuk ukuran stand aksesoris komputer di dalam mall. Tetapi yang ia jual pun kadang tidak masuk akal: remote ACspeaker mobil, alat penggaruk punggung otomatis, sampai vibrator. Meski harganya cenderung mahal, aku cukup berlangganan di tempat ini.

Hihihi! Kamu itu aneh! Aku nggak pernah kepikiran untuk menaruh saus sambal di dalam kue lapis. Menurutmu itu enak?

Ternyata antrian panjang! Sedang ada diskon sampai 70% untuk perkakas dapur. Apes bagiku karena aku meninggalkan ponsel di kamar, jadi aku terpaksa membunuh kebosanan dengan melihat-lihat sekitar. Tidak ada yang menarik kecuali satu poster besar bergambar aktor menunjukkan laptop dengan tulisan:

SUPER KENCANG DAN TAHAN LAMA!

ACT 50: NEW MOON

Ehem. Tes… tes… Hai sayang, maaf ya kalau sambalnya aku tuang banyak ke mangkokmu. Jadinya kamu mules dan harus ke toilet. Sebenernya aku nggak suka kalau kuah bakso dicampur pakai saus atau kecap atau sambal. Makanya aku kerjain kamu. Hehe. Maaf.

Pukul 23.30. Menit 12:40. Pause.

“Sudah berapa cewek yang main sama kamu, mas?”

“Hmm, aku nggak ngitung sih. Mungkin lima?”

“Bohong besar! Pasti lebih dari sepuluh.”

Aku cuma tertawa lalu mengelus kepalanya. Perempuan tiga puluh enam tahun ini sudah ditinggal suaminya sejak mengandung anak pertama. Ia pergi tak pamit. Satu-satunya yang lelaki itu sisakan di rumah adalah motor GL PRO tahun 1995 yang akhirnya dijual untuk beli trolly bayi.

“Jadi, berdasarkan ceritamu tadi, bercinta saat gerhana bulan terasa makin lama ya?”

Bibirku menyungging. “Hahaha kurang lebih iya sih. Itu kemarin gerhana bulan total. Mungkin kita perlu mencobanya empat bulan lagi, saat gerhana bulan merah?”

“Kamu ada-ada saja! Enggak ah aku nggak mau,” candanya.

Dia bangkit dari balik selimut, memasang bra lalu celana dalam lalu kemeja lalu jeans lalu membalutkan kain hijabnya. “Makasih ya, mas, aku sudah disenengin. Maaf aku cuma bisa ngasih segitu,” ucapnya malu.

“Tak apa. Tak usah sungkan. Yang kulakukan hanyalah membantu.”

Perempuan itu pergi setelah mencium pipiku. Malang, pikirku. Kenapa harus ada pernikahan bila akhirnya seperti itu? Tapi aku tak terlalu cemas. Kurebahkan punggungku di samping kasur. Pandanganku terbuang ke luar jendela.

Ada yang janggal di pikiranku. Soal kamu. Kenapa kamu ingin sekali menikah?

Pikiranku seketika pecah. Aku beranjak mencari ponsel di mana suara rekaman itu berasal.

Menit 15:36. Play.

Aku benci mengatakannya, tetapi…

Selimut kutarik kencang hingga pakaianku terlempar. Bantal kugeser paksa sampai hampir menyenggol lampu tidur.

Kurasa aku tidak suka konsep hidup bersama.

Kurogohkan tanganku ke bawah kasur. Jemariku tidak menemukan apa-apa selain bungkusan kondom.

Tidak nyaman. Hanya itu yang aku pikirkan.

Aku masih mencari. Tiba-tiba suara itu berubah menjadi nyanyian:

As I see myself running out of time

Mistake after mistake, it’s safer if I distance myself

If there’s a way for me to not do what I have done for so long


ACT 6: BLOOD MOON

“Ayo! Jangan sampai terlewat!”

Tangga darurat itu dibuat khusus untuk mencapai rooftop. Warna krem pudar membungkus tembok di kiri-kanan. Anak tangga ke tujuh sudah keropos oleh karat. Ketika diinjak, ia berbunyi dong, dong, dong.

Dia menaiki satu persatu anak tangga dengan lari-larian kecil. Sambil membawa kursi lipat, teropong, dan cukup kudapan ringan, dia menggandeng tanganku–yang lebih kelihatan seperti menyeret anak kambing.

“Sebentar. Pelan-pelan, dong. Aku capek,” keluhku sembari kesulitan membawa meja kecil dan beberapa aksesoris piknik.

Pintu menuju balkon dikunci rapat. Beruntung, pertemanan akrab dengan satpam apartemen membuatnya memercayakan kunci ini. Asal ada titipannya. Selain itu, pintu ini juga susah didorong karena memang jarang dibuka.

Begitu pintu dibuka, angin kencang langsung menerpa kami. Beberapa puing kayu di pojokan ada yang sampai bergeser. Tempat itu cukup membuat merinding mengingat ketinggiannya.

Dia memejamkan mata lalu merentangkan tangan serupa Rose di film Titanic. Rambut pendeknya berkibas tak karuan. Kemudian ia berkedip, “jadi, tunggu apa lagi?”

Aku langsung menyiapkan kursi lipat dan mencari bebatuan yang cukup berat untuk menahannya dari gempuran angin. Dia menata meja lalu menyusun para snacks. Seperti berkemah di pantai.

“Aku ingin tahu seberapa menariknya gerhana ini,” ucapku sambil duduk di kursi lipat, menengadahkan kepala, lalu berselonjor.

“Kamu tidak akan bisa melupakannya,” balasnya. “Kalau boleh jujur, ini juga pertama kalinya aku melihat gerhana secara langsung. Kamu bisa merasakan aku sangat gugup sekarang ini.”

Cardigan biru melingkari tubuhnya, cukup untuk membuatnya hangat dari angin malam. Tangannya mendekap. Kakinya bersila. Matanya menatap langit. Sesekali ia melihat jam di tangan,

“Jam enam lebih dua puluh empat. Bukankah seharusnya dia sudah terlihat?”

Langit agak berawan. Aku masih belum menemukan bulan. Ditambah, polusi kendaraan dan pabrik mengendapkan udara seperti asap cerutu. Belum lagi polusi cahaya dari gedung-gedung dan jalan raya. Menonton fenomena langit dari tengah kota seperti ini adalah ide yang malang.

“Tenang. Angin kencangnya akan menyapu awan-awan itu.”

Kakinya digetarkan naik turun. Ia gelisah. Mukanya mulai lesu.

“Di hadapan gerhana bulan penuh, kita ini apa ya?”

Pertanyaan macam apa itu.

“Kudengar banyak laut jadi pasang melebihi bulan biasa. Pemukiman pesisir hampir banjir, gelombang air mencabik-cabik bibir pantai,” dia bercerita. Ada kalanya nada bicaranya yang terengah-engah membuatku gemas.

“Bahkan dalam astrologi, bulan diyakini berpengaruh terhadap perubahan emosional seseorang. Bulan baru ialah saat yang tepat untuk mawas diri, bulan purnama untuk mengisi energi internal. Bulan tiga perempat adalah waktu sempurna untuk mengakhiri kebiasaan buruk, dan hubungan yang tidak sehat.”

“Darimana kamu belajar itu semua?” aku penasaran.

“Aku tertarik dengan langit dan isinya. Apa yang ada di sana lebih dalam dan misterius ketimbang seluruh isi lautan.”

Kami sama-sama menatap angkasa. Awan-awan melipir. Ribuan bintang samar terlihat berkelip. Di kejauhan cakrawala, bulatan jingga perlahan muncul.

“Indah sekali,” ucap kami.

Detik demi detik sinar bulan berubah kemerahan. Ruam hitam di permukaannya semakin pekat. Kami seperti menyaksikan langit sedang murka. “Aku jadi ingin dorayaki,” katanya.

Aku duduk di sampingnya, lalu mengalungkan lengan di bahunya. Kuamati lekat matanya, berusaha mencari pantulan bulan di sana. 

“Kurasa, bulan itu sedang menghakimi. Ia menarik ulur emosi kita. Di hadapannya, manusia adalah air berjalan yang tidak kenal suhu. Mereka bisa pasang, surut, tetapi tak bisa menguap, mencair, bahkan membeku,” dia tiba-tiba berceloteh.

“Kamu percaya takhayul tidak?” aku bertanya.

“Tergantung.”

“Bagaimana jika bulan sebenarnya adalah penjara bagi jiwa-jiwa kita?”

Kami saling menatap satu sama lain. Angin masih kencang, namun hembus nafasnya bisa kurasakan hangat. Aku masih memandangi cermin matanya, sebelum ia memelukku lalu menangis.

Dia lalu bangkit mengusap matanya, lalu mengambil ponselku. Ia mulai merekam suaranya:

Bukan gerhana yang tidak bisa aku lupakan, tetapi kamu.

ACT 49: WAXING CRESCENT

Menurutmu, bukankah kita ini sebaiknya jadi anak kecil saja seperti di film-film Hirokazu Koreeda? Anak-anak yang terus menerus hilang. Anak-anak yang ditemukan, tanpa ada yang mencari. Anak-anak yang mencari, tanpa ada yang menunggu di ujung pertemuan.

03:15. Cahaya dari gedung perkantoran di seberang masih menyala satu-dua. Jalanan melengang. Beberapa orang berseragam berpatroli di depan kelab malam. Penjual nasi bebek membereskan dagangannya.

Suasana kamar sedang sunyi. Tak ada pekerjaan yang menunggu. Tak ada wanita yang datang mencari bahu. Lemari telah kosong. Meja tidak lagi dipenuhi perkakas. Hari ini adalah hari terakhirku berdiam di kota ini.

Semuanya telah kukemas, kecuali pemandangan kota di balik jendela megah ini. Kuamati banyak perubahan. Kelab malam yang dulunya lapangan bola, kedai kopi yang mulanya rumah sewa sampai kemudian pemiliknya mengusir paksa si penyewa, pedagang yang selalu bergantian menetap sebab tak mampu membayar ongkos polisi dan preman, bahkan sampai pernak-pernik trotoar yang dianggarkan atas nama keindahan kota.

Aku sebetulnya ingin tinggal lebih lama. Kota ini memiliki semua yang aku cari. Tetapi aku sadar bahwa aku tidak digariskan untuk menetap di satu tempat. 

Apakah aku akan pergi ke kota lain? Mungkin. Apa aku akan pulang? Mungkin. Bagaimana soal pekerjaan? Tidak tahu. Di umurku sekarang, apa yang paling berharga? Masih mencari. Rencana untuk beberapa tahun ke depan? Pernah ada, lalu berantakan.

Menikah? Apakah itu jalan terakhir untuk orang-orang yang putus asa?

Menit 23.23. Stop.

Leave a Comment

Your email address will not be published.