Hidup Ini Simulasi, dan Hanya Itu yang Kita Punya


Oleh: Aldinza Muhammad dan Faiza Nur Sabrina

Nick Bostrom menerima sejumlah email yang isinya berupa cerita pengalaman tentang orang-orang yang melihat glitch serupa patahan ruang yang salah tempat, mirip pixel di permainan lego. Pertanyaan besar dari orang-orang ini adalah, “apakah kita hidup dalam dunia simulasi komputer?”. 

Nick Bostrom adalah ilmuan yang menerbitkan tulisan kontroversial berjudul “Are You Living In A Computer Simulation?”. Tulisan yang kemudian diterbitkan ke dalam jurnal filsafat, Philosophical Quarterly, milik Universtas Oxford. 

Tulisan Bostrom dimulai dengan pernyataan menukik, “tulisan ini menyatakan bahwa setidaknya satu dari tiga proposisi berikut benar: 1) Spesies manusia akan punah sebelum mencapai fase pasca-manusia; 2) peradaban pasca-manusia manapun tidak tertarik untuk menjalankan simulasi demi sejarahnya yang evolusioner (atau variasi darinya); 3) Hampir bisa dipastikan kita hidup di dalam simulasi.”

Sebuah laboratorium rahasia, berbentuk pulau buatan di tengah laut Jepang milik sebuah perusahaan game bernama RATH sedang menjalankan projek ambisius bernama “Alice”. “Alice” adalah usaha RATH untuk menciptakan dunia virtual lengkap dengan penghuninya yang mampu berpikir dan memiliki kesadaran sendiri. Dunia ini mereka perkenalkan dengan sebutan underworld. Meski RATH adalah perusahaan rekaan dalam anime Sword Art Online (SAO), tapi gagasan mereka memudahkan (atau mengakrabkan) kita pada keberadaan kehidupan di dalam simulasi. Produk-produk fiksi lain dengan ide dasar serupa, seperti series West World (2016), atau film ikonik seperti The Matrix (1999), bisa kita lihat sebagai sebuah usaha manusia untuk membayangkan masa depan.

  Melamunkan masa lalu, dan mencari tahu dari mana kita berasal, lalu ke mana kita akan berakhir, adalah keresahan purba yang sampai sekarang, dengan bergotong-royong, masih kita (manusia) susun jawabannya. 

Jika peradaban melaju tanpa ampun, dengan perkembangan teknologi yang eksponensial, dan kita sampai pada apa yang disebut Bostrom sebagai Technological Maturity, Maka kemungkinannya menjadi dua, peradaban pasca manusia bisa tertarik untuk melacak leluhurnya melalui simulasi komputer yang super canggih, atau tidak sama sekali. Melacak dari mana kita berasal dan kenapa kita ada, lagi-lagi, adalah rasa penasaran yang sampai sekarang masih terasa abadi, yang artinya masyarakat pasca-manusia akan menjalankan simulasi kehidupan lampau untuk diamati dan dipelajari. Mirip seperti kerja arkeolog dalam mensimulasikan kehidupan dinosaurus! Dan bagaimana simulasi ini bekerja? Untuk menjawab pertanyaan itu, maka kita harus membayangkan sebuah, sebut saja, komputer maha canggih dengan kemampuan untuk menciptakan kehidupan lengkap dengan manusia yang mampu berpikir dan memiliki kesadarannya sendiri. Manusia atau kehidupan yang disimulasikan masyarakat masa depan itu adalah kita dan kehidupan yang sedang kita jalani saat ini.Ya, dengan begini, kita lah dinasaurus itu.

Jika saja ini benar, maka tentu siapapun maniak komputer di masa depan sana yang menjalankan kehidupan simulasi ini, bisa dikatakan adalah seorang maniak (mengingat betapa banyaknya, sebut saja, manusia simulasi (yang mana adalah kita), yang harus mengalami penderitaan sepanjang peradaban). Tentu, kita boleh menduga, masyarakat pasca-manusia telah sampai pada norma etis yang lebih maju dan sama sekali berbeda dengan yang kita anut saat ini.

Gagasan ini tak mungkin dibuktikan kecuali dengan mengejar ke arah masa depan (di waktu yang sama juga sulit untuk dibantah). Bostrom, bisa dikatakan, sedang melakukan thought experiment. Eksperimen, yang diakui secara ilmiah dan beberapa kali terbukti mengembangkan ilmu pengetahuan dan peradaban, yang terjadi di wilayah pikiran sang ilmuan.

Tutup saja halaman ini jika anda belum pernah menengar nama besar Albert Einstein. the most prominent scientist in the history itu pernah mengucapkan kalimat yang kemudian menjadi sering menjadi dalih orang-orang untuk malas belajar fisika: Imagination is more important than knowledge. 

Benar belaka jika Einstein berkata demikian karena tak sedikit penemuannya yang dimulai dari melamun di balik jendela. Relativitas waktu dan fisika kuantum adalah lokus-lokus yang tak terjamah indra manusia (atau belum). Maka tak keliru jika Einstein memulainya dengan terpekur dari balik jendelanya atau dengan kata lain, Thought Experiment.

Thought Experiment adalah sebuah metode eksperimen saintifik yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu, yaitu pada masa-masa awal peradaban Yunani. Bisa dibilang bahwa metode Thought experiment adalah “the most ancient pattern of mathematical proofs” (Lakatos, 1976) dalam Moue, dkk (2006). Thought Experiment atau yang dalam bahasa Belanda disebut dengan Gedankenexperiment adalah metode dasar dalam mempertanyakan suatu hal atau fenomena seperti “mengapa dunia berjalan seperti adanya?”. 

Kami menghimpun beberapa pengertian Thought Experiment dari beberapa jurnal ilmiah:

  • thought experiments are performed in the laboratory of mind (Brown, 1991)
  • Thoughts experiments are experiments which we do in our minds and which are real experiments that impossible to do in laboratory (Bernstein, 2006)
  • Thought experiments are a curious way of gaining knowledge about the world. They can be performed from the armchair without any measurements or experimental observations, yet they have produced some of the most important advances in the history of science (Clatterbuck, 2013)

Dengan kata lain, Thought experiment membolehkan kita untuk melakukan eksperimentasi tanpa melakukan pengukuran empirik dan harus repot-repot meminjam laboratorium kampus. 

Namun, dalam melakukan Thought Experiment, kita tidak bisa semata-mata membayangkan diri kita berada di dalam laboratorium, memakai jas dan mencampur-campur cairan kimia atau membedah perut kodok. Untuk bisa melakukan Thought Experiment, ada beberapa hal yang harus dipenuhi seperti (Tortop, 2016) : 

However, in order for something to become a thought experiment, it must be composed of the following parts. The components of the thought experiment are the statement of the problem and the hypothesis, the creation of an imaginary world, the design of the thought experiment, trigerring of the thought experiment, making the observations, and presenting of results in order (Reiner ve Gilbert, 2000).

Beberapa Thought Experiments terkenal seperti maxwell’s demon, einstein’s train dan schrodingers cat yang berperan besar dalam hukum termodinamika, relativitas khusus hingga kuantum mekanik, dimulai dari memikirkan hal-hal tak terbayangkan sebelumnya, atau dengan kata lain proses fiksi di dalam kepala. 

Kenyataannya, peradaban manusia bergerak dituntun oleh kecerdasan fiksional para ilmuan-ilmuan ini. Dalam einstein’s train, jenius kelahiran Jerman ini membayangkan apa yang akan terjadi jika ia mengejar atau melampaui seberkas cahaya dalam ruang. Dalam analisisnya, jika ia bisa mengejar atau melampaui cahaya, maka cahaya dalam ruang akan membeku. Namun cahaya tidak bisa dibekukan, dengan demikian kecepatan cahaya tidak akan pernah melambat, namun akan terus melaju dengan kecepatannya yang konstan, sehingga yang berubah pasti lah sesuatu yang lain, yaitu waktu. Waktu yang melambat atau tidak bergerak ini lah yang kemudian menjadi salah satu dasar dari teorinya yang revolusioner; Relativitas Khusus. Percobaan mengejar atau melampaui cahaya tidak akan bisa dilakukan di dunia nyata karena kita tidak bisa melampaui kecepatan cahaya (kecuali anda pemakan buah setan Pika-Pika no Mi dalam serial manga one piece), sehingga analisis ini hanya bisa dilakukan dalam pikiran. 

Terdapat beberapa jenis Thought Experiment, seperti yang diklasifikasikan oleh (Brown, 1991). Ia mengklasifikasikan Thought Experiment menjadi tipe destruktif (bertujuan untuk menyangkal teori yang sudah ada) seperti Einstein yang menyangkal teori cahaya Maxwell, konstruktif (bertujuan memperbaiki dan membangun sebuah teori) seperti teori eksperimen silicon brain dan Platonik (bertujuan menyangkal sebuah teori sekaligus menghadirkan alternatif teori lain) seperti Galileo yang menyangkal teori Aristoteles mengenai gerak benda dan menghadirkan alternatif teori baru yang menggantikan teori Aristoteles. (lebih lanjut baca Borsboom dkk, 2002). 

Namun, di balik kesuksesannya, Thought Experiment tak lepas dari pro kontra. Sebagai sebuah metode yang mengandalkan pengetahuan a priori dan sepenuhnya dilakukan di dalam pikiran, debat tentang keabsahan metode ini akan selalu hangat dibicarakan. Thougt Experiment akan menjadi medan pertengaran (nyaris) abadi antara penganut rasionalisme dan empirisme. Banyak yang skeptis dengan metode Thought Experiment karena dianggap hanya bergantung pada intuisi, yang dinilai tidak stabil dan bukan merupakan sumber pengetahuan yang akurat (Buzzoni, 2016). Sedangkan (Brown, 1992 dalam Clatterbuck, 2013) mengambil pendekatan anti-empirisis terkait dengan epistemologi Thought Experiment. Ia mengatakan bahwa kesuksesan Thought Experiment telah membuktikan bahwa empirisisme telah gagal. Dan kita akan dikejar oleh pertanyaan selanjutnya, sebenarnya, dari mana sumber pengetahuan?

Oke, mungkin perdebatan antara kedua kubu cukup tajam, maka mari kita uraikan satu-satu. Pertama mari kita bahas pada aspek bagaimana manusia mendapatkan pengetahuan, atau yang dalam filsafat disebut sebagai Epistemologi. 

Epistemologi adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan pengetahuan manusia, membahas pertanyaan-pertanyaan seperti; bagaimana proses yang memungkinkan diperolehnya suatu pengetahuan? Bagaimana prosedurnya? Apa yang perlu diperhatikan agar mendapat pengetahuan yang benar? Intinya, epistemologi mempertanyakan hakikat pengetahuan dan bagaimana cara manusia mendapatkan pengetahuan. Secara umum, ada dua cara manusia mendapatkan pengetahuan, yaitu melalui rasionalisme dan empirisisme. 

Para penganut rasionalisme beranggapan bahwa hanya dengan menggunakan akal atau proses pemikiran abstrak saja kita dapat mencapai kebenaran fundamental (keraf dan Dua, 2001 ; Zaprulkhan, 2018), contoh terdepan bagi kaum ini, tentu saja, Plato. Kaum rasionalis, mayakini sumber pengetahuan manusia adalah akal budi, bahwa pengetahuan yang paling fundamental dapat dicapai tanpa pengamatan langsung atau indrawi. Pengetahuan yang didapat oleh kaum rasionalis disepkati dengan istilah pengetahuan a priori atau pengetahuan ‘sebelum’. Mengetahui secara a priori berarti memahami sebab dari suatu peristiwa atau dalam hal ini bersifat deduktif. 

Berseberangan dengan penganut rasionalisme, golongan penganut empirisisme, meyakini sumber pengetahuan yang benar adalah melalui pengalaman; data dan fakta yang ditangkap melalui pancaindra. Aliran empirisisme beranggapan bahwa pengetahuan yang benar didapat melalui penelitian langsung di lapangan untuk mengumpulkan fakta dan data (Keraf dan Dua, 2001). Untuk itu, pengetahuan yang didapat oleh empirisisme adalah pengetahuan aposteriori atau pengetahuan ‘sesudah’, yang diperoleh berdasarkan apa yang ditemukan secara aktual di dunia lewat panca indra, dengan kata lain bersifat induktif.

Tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah, kira-kira begitu kalimat yang sering diucapkan mahasiswa baru sosial humaniora. Thought Experiment memiliki nilai kebenarannya sendiri dan diyakini sekaligus terbukti oleh tidak sedikit ilmuan. Keberadaannya sebagai sebuah metode ilmiah telah terbukti berguna untuk menuntun peradaban ke arah yang tak terbayangka sebelumnya. Sehingga, kembali pada argument simulasi, sudah kah anda melihat glitch itu? barangkali itu eror kecil dari progam simulasi kita? eh, buat apa memikirkan itu, lagi pula, jika saja penjalan progam simulasi ini tau ada eror kecil yang terdeteksi oleh kita, dia bisa saja mereset progam simulasi ini dan di saat yang sama menghapus ingatan kita? eh, atau bisa juga ia biarkan kita menangkap petunjuk-petunjuk itu supaya peradaban simulasi ini, bergerak ke arah yang seharusnya, yang artinya, kehidupan kita adalah simulasi dalam simulasi dalam simulasi dalam simulasi dalam simulasi….

Wallahu a’lam bishawab

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *