In The Miso Soup: Melihat Lanskap Industri Seks Jepang


Judul: In The Miso Soup

Pengarang: Ryu Murakami

Penerjemah: Ralph McCarthy

Publisher: Kodansha International Limited

Tahun: 2010

Ulasan oleh: Aldinza Muhammad


Sebagian orang akan amat tertakjub dengan kemajuan industri seks Jepang, dan novel ini akan memberikan gambaran yang tidak berlebihan tentang itu. 

In The Miso Soup bercerita tentang pemandu wisata esek-esek Jepang yang mendapatkan klien seorang gaijin dengan kepribadian mencurigakan. Cerita berjalan dalam kurun waktu tiga hari, namun, dalam tiga hari itu, kita disuguhkan landskap industry seks jepang dengan porsi yang cukup. Gaya penceritaan Pak Ryu yang meyakinkan tanpa usaha yang berlebihan membuat kita nyaman belaka mengikuti tiap langkah ke club mana sang pemandu wisata membawa kita. 

Menurut saya, pada dasarnya cerita ini adalah cerita dengan basis pemikiran Freudian. Banyak sekali adegan-adegan yang tidak terbayangkan, namun seolah menjadi hal yang wajar karena adegan-adegan tersebut seperti reka dari hasrat yang kita pendam dalam-dalam di kepala kita. 

Mungkin tidak berlebihan kalau saya bilang bahwa membaca cerita ini seperti melakukan eksperimen hasrat pada diri sendiri. Karena, sebagai pembaca, saya merasa amat terwakili oleh tokoh Kenji, si pemandu wisata, yang pada awalnya melakukan aktivitas galib namun kemudian harus tersengat kaget lantaran menghadapi kejadian-kejadian di luar pakem moral, bahkan untuk ukuran pemandu wisata seks, lalu kemudian, berangsur-angsur, muncul pemikiran-pemikiran yang memvalidasi, mewajari, bahkan memeluk hangat kejadian-kejadian tersebut. 

Cerita ini dibagi menjadi tiga bab besar yang masing-masing babnya akan memupuk pemahaman kita tentang betapa maju dan suramnya industry seks Jepang. Kita akan dibuat tahu bahwa pee show, hostes club, love hotel berikut tempat hiburan seks genre lainnya adalah tempat-tempat yang berbeda-beda dengan nilai-nilainya masing-masing. Juga kita akan dibuat tahu, bahwa betapa dunia hiburan seks Jepang yang hiruk dengan lampu-lampu dan music-musik adalah perkakas untuk menyembunyikan kesepian mendalam dari orang-orang Jepang.

Terakhir, yang buat saya paling penting dari cerita Pak Ryu ini adalah pergerakan plotnya. Rasanya tidak ada kalimat yang sia-sia, setiap kalimat menggerakkan plot cerita ke arah yang lebih maju, serupa menaiki kereta listrik tanpa hambatan, dan yang menjadi bahan bakar untuk terus membaca jalannya cerita ini adalah misteri yang disisipkan Pak Ryu dalam wujud klien aneh sang pemandu wisata.

Selamat membaca!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *