Kencan Ideal


Oleh: Adinda Mauradiva dan Aldinza Muhammad

Aku ingin kita bermalam minggu, dan

Ajak aku makan di sup kaki kambing. Mangkuk berisi lidah dan kuping. Yang punya angkringan; gondrong, logatnya dari pulau, dan suka mendengarkan Rolling Stones. Kita akan duduk di sana, goyang-goyang karena kursi plastiknya hampir putus. Disilaukan oleh lampu rumah biasa dan, jika beruntung akan terlihat wajahmu serta wajahku dalam nyala lilin yang memadam. Pengamen masih saja menyanyikan lagu-lagu cemen, padahal suaranya lebih bagus daripada Bruno Mars.

Aku ingin kita bermalam minggu, dan

Antar aku dengan jok motormu, dengan kenalpot yang menderu, gendong aku. Maka helmku akan mematuk helmmu, lampu lalu lintas bertabrakan, dan kecelakaan adalah kita. Tak ketinggalan, aku akan melingkarkan lenganku di pinggangmu—sambil, misalnya, mengibarkan rambutku di terowongan malam dan gorong-gorong yang tenggelam. Kamu pun menyesap rokok itu, yang membuat bibir kita pensiun dari mengecup, karena sekarang giliran asap yang menjemput.

Aku ingin kita bermalam minggu, dan

Nyanyikan aku lagu-lagu Frank Sinatra, bahkan yang paling mainstream sekalipun. Ruang untuk berdua dengan bola disko berwarna dinding aurora. Jiwamu ada di panggung, bergelora; mempersembahkan rayuan musik untuk seorang dara. Gemintang bersulang, kaki dan paha bersilang, lalu tinggal kita berbaring di sofa—pemeluk bau badan mereka yang bermesraan—seraya memandang semarak langit-langit. Kita, sampai malam, sempai usai pesta, masih saling tarik-menarik.

Aku ingin kita bermalam minggu, dan

Temani aku di galeri seni. Pura-pura memaknai karya seorang artis, padahal telapak tangan kita berkejaran, menyapu debu yang menempel di atas patung dewa-dewi. Kamu berdiri di situ saja, menyandarkan punggung di salah satu lukisan ternama; entah jenggot atau kacamata punya siapa, yang penting aku akan terlena. Kanvas putih tulang itu, aku saksikan, mengelupaskan kulit yang berbeda warna, sembari paku berkarat itu memuseumkan hawa, ciuman, dan napas, lalu karya agung itu tentunya berjudul sesuatu yang mirip dengan pengucapan ‘kita’, tanpa memaksa.

Aku ingin kita bermalam minggu, dan

Lamakan mondar-mandirmu di toko rental, menelusur rak-rak kaset musik. Aku menyodorkan diriku tapi kamu malah mencabut Pitchshifter yang tidak dimengerti siapapun, mengajakku berjongkok dan ciuman kilat; cepat tapi menyengat. Aku meremas kerah bajumu, kau tepis perlahan, dan meninggalkan bekas lembab di keningku. Kepalaku, sekejap jadi seperti pemutar kaset radio, aku menjuluki diriku sendiri “radiohead” yang memainkan Make You Fell My Love dari Bob Dylan. Kamu tertawa dan membuatku memejam mata karena malu.

Aku ingin menabung malam minggu ke dalam celengan beling yang kita pecahkan tiap pukul dua belas dini hari. Aku ingin orang-orang mulai mengganti nama-nama hari. Aku ingin tak ada perang, aku ingin tak ada seragam, aku ingin tak ada pabrik. Semua keinginan berlebihan ini, sebenarnya aku hanya ingin kencan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *