Kursi Manusia


Cerita oleh: Rampo Edogawa

Dialihbahasakan dari bahasa asli ke Bahasa Inggris oleh James B. Harris

Dialihbahasakan dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia oleh Aldinza Muhammad


Yoshiko melihat suaminya berangkat menuju kantor kerjanya di kedutaan asing pada pukul sepuluh lebih sedikit. Kemudian, ini adalah ketika ia dapat memiliki waktunya sendiri, ia menggelamkan diri dalam studi yang sempat ia kerjakan bersama suaminya untuk meresume cerita yang telah ia kirim ke majalah K untuk edisi spesial musim panas.

Ia adalah penulis serba bisa dengan kemampuan literasi yang tinggi dan gaya menulis yang luwes. Bahkan popularitas suaminya sebagai seorang diplomat berada di bawah bayang-bayangnya sebagai seorang penulis. 

Sehari-hari, ia dibanjiri oleh surat-surat dari para pembaca yang memuji-puji hasil kerjanya. Bahkan, sepagi ini, baru saja ia duduk di meja kerjanya, ia langsung mulai melirik tumpukan surat yang dikirmkan petugas pos pagi itu. Tanpa pengecualian, meski isinya semua sering kali dapat tertebak, dan didorong oleh pertimbangan yang mendalam, ia selalu membaca surat-surat yang ditujukan padanya, baik surat yang membosankan maupun yang menarik.

Dimulai dari surat yang pendek, kemudian segera ia tahu isi surat-surat itu. Hingga akhirnya ia sampai pada sebuah yang tampak tebal, mirip draft tulisan yang terdiri dari lembar-lembar yang diikat. Meski waktu itu ia merasa tak mendapat pemberitahuan bahwa akan ada draft tulisan yang dikirim padanya, tetap saja itu adalah hal yang biasa baginya untuk menerima hasil kerja para penulis amatir yang mengharap kritik darinya. Di banyak kasus, tulisan-tulisan amatir itu cenderung bertele-tele, tak berujung, dan terlalu menggebu-gebu. Biarpun begitu, ia mulai membuka amplop di tangannya itu dan menarik keluar segepok lembaran yang tampak ditulisi dengan cermat.

Seperti yang sudah ia duga, itu adalah manuskrip, yang diikat dengan hati-hati. Tapi entah kenapa, untuk alasan yang tak diketahui, tak ada judul dan nama penulisnya.  Manuskrip itu memulai tulisannya dengan tiba-tiba:

“Dear Madam:…”

Untuk sesaat ia tertegun. Mungkin, bagaimanapun, ini hanya sebuah surat. Secara tak sadar matanya terburu membaca dua atau tiga baris, dan perlahan ia menjadi terhisap dalam sebuah narasi yang mengerikan. Rasa penasarannya tergiring dan terpacu oleh daya tarik misterius, ia melanjutkan membaca:

Dear Madam: saya harap anda akan memaafkan surat dari orang asing yang lancang ini. Apa yang akan saya tulis, Madam, mungkin akan mengejutkan anda. Namun, saya telah memutuskan untuk menyuguhkan pada anda sebuah pengakuan -pengakuan saya sendiri- dan untuk menjelaskannya secara detail tentang kejahatan mengerikan yang telah saya lakukan.

Selama berbulan-bulan, saya telah menyembunyikan diri jauh dari cahaya peradaban, bersembunyi, di sana, seperti iblis. Di dunia yang luas ini, tak ada satupun yang tahu tentang perbuatan saya. Namun, akhir-akhir ini, saya merasa ada perubahan yang aneh terjadi di pikiran saya, dan saya tak bisa menahan lagi rahasia ini. Saya harus mengaku!

Semua yang telah saya tulis sejauh ini pastinya membuat anda bingung. Namun begitu, saya memohon pada anda untuk bertahan dengan saya dan tetap membaca cara saya berkomunikasi ini sampai akhir. Karena, nanti anda akan paham kerja pikiran saya yang aneh ini dan alasan kenapa pengakuan ini saya tujukan kepada anda.

Sebenarnya saya bingung harus memulai dari mana, untuk sebuah fakta bahwa saya telah memulai ini dengan cara yang aneh sekali. Terus terang saja, saya tidak puas dengan kata-kata, kata-kata manusia sepertinya tak memadai sama sekali untuk menggambarkan semua detail dari pengakuan saya ini. Namun, bagaimanapun, saya akan mencoba untuk menyuguhkan pengakuan saya ini dengan kronologis, sebagaimana ia terjadi.

Pertama-tama, izinkan saya menjelaskan bahwa saya sangat buruk rupa lebih dari yang anda bayangkan. Tolong pegang fakta ini di pikiran anda; jika tidak, saya takut nanti ketika anda mengabulkan permintaan saya dan bertemu dengan saya, anda akan terkejut dan ketakutan karena melihat wajah buruk saya –yang telah hidup dengan cara yang tidak sehat selama berbulan-bulan. Bagaimanapun, saya mohon pada anda untuk percaya pada saya ketika saya katakan demikian, dan meski wajah saya begitu buruk rupa, di dalam hati saya masih terdapat hasrat yang murni dan hangat!

Selanjutnya, izinkan saya menjelaskan bahwa saya adalah seorang pedagang yang biasa-biasa saja. Seandainya saya lahir di keluarga berada, saya dapat saja mendapat kekuatan, dengan uang, untuk menutupi siksaan pada jiwa saya yang disebabkan wajah buruk rupa saya. Atau mungkin, jika saja saya dianugerahi dengan bakat dalam berseni, saya mungkin, lagi-lagi, dapat melupakan wajah menjijikkan saya dan mencari pelipur hati dari music atau puisi. Tapi, tak dikaruniai bakat apapun, dan menjadi makhluk yang sangat sial, saya tak punya apapun untuk dikerjakan kecuali sebagai seorang pengrajin kayu biasa.

Dalam lini pengrajinan ini saya bisa dibilang cukup berhasil, dalam tingkatan tertentu, faktanya, saya mendapat reputasi baik karena berhasil mengerjakan berbagai macam pesanan secara memuaskan, tak peduli serumit apa. Untuk alasan ini, di dunia kerajinan kayu, saya mulai menikmati kebebasan saya untuk hanya menerima penggarapan kursi-kursi mewah, dengan permintaan rumit yang mengharuskan pahatan-pahatan unik, desain-desain mutakhir untuk bagian sandaran punggung dan lengan, lapisan mewah di bagian bantal dan dudukan –sebuah pekerjaan yang orang-orang hanya serahkan pada tangan pengrajin yang sangat ahli, sabar dan tekun, pekerjaan yang sulit untuk ditangani pengrajin ingusan.

Hadiah kecil dari semua kepedihan saya, bagaimanapun, terdapat pada perasaan senang yang tipis ketika saya mengerajin. Anda mungkin menganggap saya pembual ketika anda mendengar ini, tapi perasaan itu sama dengan peraasaan yang dirasakan seorang seniman betulan ketika membuat sebuah masterpiece.

Ketika sebuah kursi telah selesai digarap, adalah kebiasaan saya untuk mendudukinya untuk mengetahui bagaimana rasanya benda itu digunakan, dan meski hidup saya begitu malang dan profesi saya biasa-biasa saja, pada momen-momen seperti itu, saya merasakan debar yang luar biasa. Seolah pikiran saya terbebaskan, saya mulai membayangkan tipe orang seperti apa yang pada akhirnya akan duduk melekuk di kursi-kursi garapan saya, tentu saja orang terhormat, tinggal di perumahan mewah, dengan lukisan indah yang mahal menggantung di dinding-dindingnya, lampu kandelar berkilau menggantung dari langit-langitnya, permadani mahal terhampar di lantai, dan sebagainya dan sebagainya, dan sebuah kursi, yang mana saya bayangkan bercokol di depan meja mahoni, memberikan pada saya gambaran harum bunga-bunga barat mengambang di udara dengan aroma yang manis. Terbungkus dalam pemandangan aneh ini, saya mulai merasa bahwa saya juga berada dalam setting tersebut, dan saya merasakan kesenangan tak terbatas dengan membayangkan diri saya sebagai figur berpengaruh di masyarakat.

Pikiran-pikiran bodoh seperti ini terus saja datang pada saya silih berganti. Bayangkan, Madam, sosok bodoh yang saya bayangkan, duduk nyaman di kursi mewah yang saya buat sendiri dan seolah-olah saya sedang memegang tangan seorang gadis impian saya. Dan seperti yang selalu terjadi, bagaimanapun, obrolan wanita-wanita tetangga yang berisik dan jeritan histeris, celoteh, dan rengekan anak-anak mereka, dengan segera mengusir semua bayangan indah saya; lagi-lagi, kenyataan suram menengadahkan wajahnya yang jelek tepat di hadapan saya.

Ketika kembali sadar, saya menapati diri saya kembali sebagai makhluk yang menyedihkan, seekor cacing yang melata-lata dan tak tertolong lagi! dan sosok yang saya kasihi itu, wanita cantik itu, ia juga lenyap bagai kabut. Saya mengutuk diri saya sendiri untuk ketololan saya! Kenapa, bahkan wanita kotor yang membopong bayi di jalanan tak sudi melirik ke arah saya. Setiap kali saya menyelesaikan sebuah kursi baru saya dihantui perasaan putus asa total. Dan setelah bulan demi bulan berlalu, akumulasi penderitaan saya rasanya sudah cukup untuk mencekik leher saya sendiri.

Suatu hari, saya mendapat tenggung jawab untuk menggarap sebuah kursi lengan kulit yang amat besar, jenis kursi yang belum pernah saya bayangkan sebelumnya, untuk sebuah hotel asing yang berlokasi di Yokohama. Sebenarnya, jenis kursi khusus seperti ini biasanya diimpor dari luar negeri, namun melalui persuasi yang dilakukan kenalan saya, yang mengagumi keahlian saya sebagai pembuat kursi, saya menerima garapan itu.

Demi menjaga reputasi saya sebagai seorang pengrajin handal, saya mulai mencurahkan diri saya secara serius pada garapan baru ini. Perlahan saya mulai keasyikan pada pekerjaan saya itu, saya bahkan melewatkan makan dan tidur. Sungguh, tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa pekerjaan itu telah menjadi hidup saya, tiap serat kayu yang saya gunakan seperti terhubung dengan jiwa dan hati saya.

Pada waktu ketika kursi itu selesai, saya merasakan kepuasan misterius yang masih terasa sampai saat ini, sejujurnya saya yakin, saya baru saja mencapai hasil kerja yang tak terkira telah melampaui semua karya saya lainnya. Seperti sebelum-sebelumnya, saya melesakkan berat tubuh saya di atas empat kaki yang menopang kursi itu, setelah menggeser kursi itu ke titik yang tersiram hangat cahaya matahari di beranda tempat kerja saya. Betapa nyamannya! Betapa mewahnya! Tak terlalu keras dan tak terlalu empuk, pegasnya terasa sangat presisi dan cocok dengan bantalan. Dan untuk lapisan kulitnya, betapa menakjubkannya sensasi sentuhan yang dimilikinya! Kursi ini tak hanya bisa diduduki, tapi juga  memeluk siapapun yang mendudukinya. Lebih jauh, saya juga merasakan sudut menyandar yang sempurna di bagian belakang, sandaran lengan yang menggembung dan lembut, simetrisitas sempurna dari tiap komponen. Tentu saja, tak ada satu pun produk yang mungkin mengekspresikan kata ‘nyaman’ lebih hebat dari yang satu ini.

Saya membiarkan tubuh saya tenggelam dalam kursi ini dan, mengelus-elus kedua sandaran lengan dengan tangan saya, melenguh karena kepuasan dan kesenangan sejati.

Lagi-lagi, imajinasi saya mulai memainkan triknya yang biasa, membangkitkan angan-angan aneh di kepala saya. Adegan yang kali ini saya banyangkan adalah mawar yang tepat berada di depan mata dam tampak begitu jelas hingga, untuk sesaat, saya bertanya pada diri sendiri jangan-jangan saya mulai gila. Selama dalam keadaan mental seperti ini, sebuah ide aneh muncul di kepala saya. Tentu saja itu adalah ide yang mengerikan, yang menggoda saya dengan daya tarik yang amat kuat, yang mana rasanya mustahil untuk saya tolak.

Awalnya, tak diragukan lagi, ide ini tumbuh dari benih gagasan tentang keinginan tersembunyi saya untuk menyimpan kursi itu untuk diri saya sendiri. Menyadari, bagaimanapun, bahwa hal itu adalah mustahil, saya mulai berpikir akan menyertai kursi itu kemanapun ia pergi. Perlahan namun pasti, semakin saya memelihara gagasan fantastis ini, pikiran saya jatuh dalam genggaman rasa goda yang mengerikan. Bayangkan, Madam, saya benar-benar memutuskan untuk mengikuti skema itu hingga akhir, apapun yang terjadi!

Segera saya memisah kursi itu menjadi bagian-bagian kembali, kemudian menyatukannya kembali setelah segalanya sesuai dengan tujuan aneh saya. Mengingat itu adalah kursi yang sangat besar, dengan bagian tertutup di sisi bawah yang menghadap lantai, dan lagi, bagian belakang dan lengan yang juga amat besar, saya kemudian membuat rongga di dalamnya, yang mana cukup luas untuk dihuni seseorang tanpa perlu khawatir ketahuan. Tentu saja, pekerjaan itu terhambat oleh jumlah kerangka kayu dan pegas di dalam kursi itu, tapi dengan keahlian saya sebagai seorang pengrajin, saya membentuk ulang kursi itu sehingga lutut dapat tepat mengisi rongga di bagian dudukan kursi, batang tubuh dan kepala masuk di bagian sandaran. Seseorang benar-benar dapat bersembunyi dengan masuk dan duduk di dalam rongga itu.

Seolah memang jenis kerajinan ini adalah sifat alami kedua saya, saya menambahkan juga beberapa sentuhan terakhir, seperti meningkatkan akustik di dalam rongga agar dapat menangkap suara dari luar dan tentu saja lubang intip yang tak terdeteksi. Dan lagi, saya juga menambahkan ruang untuk suplai makanan, yang mana saya masukkan beberapa kotak roti kering dan botol air. Untuk kebutuhan lain, saya juga menyisipkan tas karet besar, dan di waktu saya selesai berurusan dengan interior kursi dan beberapa fiturnya, kursi itu menjadi tempat yang benar-benar dapat dihuni, setidaknya untuk waktu lebih dari dua atau tiga hari paling lama.

Setelah selesai dengan pekerjaan aneh itu, saya mulai menelanjangi bagian atas tubuh saya dan melesakkan diri saya ke dalam kursi. Bayangkan perasaan aneh yang saya rasakan saat itu, Madam! Sungguh, saya merasa baru saja mengubur diri saya sendiri di kuburan yang sepi. Atas dasar perenungan saya, itu memang benar-benar kuburan. Sesaat ketika saya memasuki kursi itu saya langsung ditelan oleh kegelapan total, dan saya menjadi tiada bagi orang-orang di luar sana!

Segera kemudian seorang petugas pengiriman datang dari dealer untuk mengambil kursi pesanannya, Ia membawa gerobak dorong yang besar. Asisten saya, satu-satunya orang yang tinggal bersama saya, benar-benar tak tahu apa yang terjadi. Saya melihatnya berbicara dengan petugas pengiriman.

Ketika kursi saya diangkut ke dalam gerobak dorong, salah seorang penarik gerobak itu berseru: “Ya tuhan! Kursi ini berat sekali! Pasti beratnya satu ton!”

Ketika saya mendengar ini, jantung saya serasa melompat ke mulut. Bagaimanapun, kursi itu sendiri seharusnya sudah sangat berat, tak ada kecurigaan yang timbul, dan segera kemudian saya bisa merasakan getaran yang ditimbulkan oleh gerobak yang bergoncang-goncang selama ditarik di perjalanan. Tentu saja, saya terus merasa khawatir, tapi kemudian, sore di hari yang sama, kursi yang mana saya bersembunyi di dalamnya itu akhirnya diletakkan berdebuk di lantai sebuah ruangan hotel. Kemudian saya menyadari bahwa itu bukanlah ruangan biasa, itu adalah lobby.

Sekarang, seperti yang telah anda duga sebelumnya, motif utama dari usaha gila ini adalah untuk menyelinap keluar dari dalam kursi ketika keadaan sepi, berkeliaran, dan mulai mencuri. Siapa yang akan menduga ada orang yang bersembunyi di dalam kursi? Seperti bayangan terbang, saya bisa merampok tiap kamar sesuka saya, dan jika alarm berbunyi, saya tinggal kembali ke kuburan saya dengan berdiam dengan tenang dan aman, menahan nafas dan mengamati tingkah konyol orang-orang di luar sana yang mencari-cari saya.

Mungkin anda pernah mendengar tentang kepiting pertapa yang kadang dijumpai di batuan pesisir. Bentuknya mirip laba-laba besar. Kepiting ini merangkak dengan sembunyi-sembunyi, dan ketika ia mendengar jejak langkah seseorang, segera ia kabur menuju cangkang kosong, dan dari tempat pesembunyian itu, dengan ketakutan, kaki berbulu tampak terintip, dan si kepiting tak terdeteksi. Kondisi saya mirip dengan kepiting aneh ini. Tapi alih-alih cangkang, saya punya tempat berlindung yang lebih baik –sebuah kursi yang menyembunyikan diri saya dengan lebih efektif.

Seperti yang anda bayangkan, rencana saya benar-benar unik dan orisinil, mustahil tertebak, bahkan oleh orang paling bijak sekalipun. Konsekuensinya, petualangan saya ini benar-benar bisa dinilai berhasil. Di hari ketiga semenjak kedatangan saya ke hotel saya menyadari bahwa saya jadi meyakini suatu hal.

Bayangankan debar dan kegembiraan bisa merampok saja rasanya sampai ke dalam hati saya, apalagi kesenangan yang saya rasakan dari mengamati orang-orang berlarian kesana-kemari hanya beberapa inchi tepat di depan hidung saya, dan berteriak: “Pencurinya lari ke sini!” dan: “Ia lari ke sini!” Sayangnya, saya tak ada waktu untuk menggambarkan semua pengalaman saya secara mendetail. Karenanya, izinkan saya melanjutkan dengan tulisan ini dan anda akan tahu sejauh apa kesenangan aneh yang saya temukan –faktanya, yang akan saya katakan setelah ini adalah inti dari surat ini.

Pertama-tama, bagaimanapun, saya harus meminta anda untuk kembali mengingat momen di mana kursi saya –dan saya- diletakkan di lobby hotel. Sesaat setelah kursi diletakkan, segala macam staff hotel mencoba mendudukinya. Setelah sensasi kursi baru tak mereka rasakan lagi, mereka semua pergi. Dan keheningan menguasai, mutlak dan total. Namun, saya tak bisa menemukan keberanian untuk meninggalkan tempat suci saya itu, karena saya mulai membayangkan ribuan kemungkinan buruk yang akan terjadi. Dan untuk itu juga, saya menjaga pendengaran saya tetap siaga bahkan untuk suara terkecil pun. Setelah beberapa saat saya mendengar langkah berat mendekat, tampaknya dari arah koridor. Sesaat kemudian kaki misterius itu pasti melangkah menginjak karpet tebal, karena suara langkahnya seperti tertelan sempurna.

Beberapa waktu kemudian suara laki-laki terengah-engah, nyaris kehabisan nafas, menyerbu telinga saya. Belum sempat saya memikirkan antisipasi apa yang akan terjadi, seonggok besar, tubuh berat seorang Eropa jatuh melesak di atas lutut saya dan terasa sempat memantul dua atau tiga kali sebelum menetap. Dengan hanya dipisah lapisan tipis yang memisahkan celana panjangnya dan lutut saya, saya hampir bisa merasakan hangat tubuhnya. Begitu juga pundaknya yang berotot dan lebar bersandar di dada saya, juga kedua tangan beratnya yang berbaring tepat di atas tangan saya. Saya bisa merasakan orang ini menghembuskan asap rokok, karena aroma yang kuat mengambang menuju liang hidung saya.

Coba bayangkan diri anda ada di posisi saya yang aneh ini, Madam, dan merenungi untuk beberapa saat peristiwa yang tak ada normal-normalnya sama sekali ini. Saya sendiri, biar demikian, benar-benar merasa ngeri, sangat takut hingga rasanya saya ingin meringkuk di persembunyian gelap saya terus saja, keringat dingin mengucur dari ketiak saya.

Dimulai dengan satu orang, kemudian beberapa orang “menduduki lutut saya” hari itu, seolah-olah mereka ini mengantri giliran mereka duduk dengan sabar. Tak satu pun, bagaimanapun, curiga bahkan untuk sekejab, bahwa bantalan lembut yang mereka duduki itu sebenarnya adalah daging manusia dengan darah mengalir di pembuluhnya –yang terjebak dalam kegelapan.

Sebenarnya apa yang membuat saya begitu terpesona dengan rongga mistis di kursi ini?

Saya, bagaimanapun, merasa seperti hewan yang hidup di dunia baru yang benar-benar berbeda. Dan untuk orang-orang yang hidup di luar sana, saya bisa mengidentifikasi mereka sebagai sosok yang membuat suara-suara aneh, bernafas berat, berbicara, dan dari desau pakainnya dan bentuk tubuh yang mereka miliki.

Perlahan-lahan saya mulai bisa membedakan orang-orang yang menduduki kursi itu hanya dengan indra sentuhan dari pada penglihatan. Mereka yang gemuk rasanya seperti ubur-ubur raksasa, sedang yang kurus membuat saya merasa seperti sedang menopang kerangka manusia. Faktor pembeda lain adalah bentuk tulang belakang, luas pundak, panjang lengan dan ketebalan paha dan juga kontur bokong mereka. Ini mungkin tampak aneh, tapi saya mengatakan yang sebenarnya, kendati setiap orang hampir terasa mirip, ada ciri-ciri pembeda tak terhitung yang bisa dirasakan melalui tubuhnya. Faktanya, itu seperti kasus sidik jari yang begitu banyak atau bentuk wajah. Teori ini, tentu saja, berlaku untuk tubuh wanita juga.

Biasanya, wanita digolongkan ke dalam dua kategori besar –yang datar dan yang cantik. Namun, di dunia gelap dan tersembunyi saya di dalam kursi, wajah yang cantik atau tidak, tidak lah terlalu penting, karena dibayangi oleh penilain lain yang muncul dari merasakan daging, suara, dan aroma badan. (Madam, saya harap anda tidak tersinggung dengan bahasa saya yang kadang agak kasar).

Dan selanjutnya, untuk melanjutkan cerita saya, ada seorang gadis –yang pertama menduduki saya- yang menyalakan gairah cinta dalam dada saya. Menilik dari suaranya, ia adalah orang Eropa. Pada momen itu, meski tak ada orang lain di ruangan, hatinya jelas sedang diisi oleh kebahagiaan, karena ia menyanyi-nyanyi dengan suaranya yang manis sejak ia melangkah ringan masuk ruangan.

Sesaat kemudian, tiba-tiba saya sudah mendengarnya berdiri di depan kursi saya, dan tanpa memberi peringatan, tiba-tiba ia meledak dalam tawa. Tepat setelahnya, saya bisa mendengar ia mengepakkan lengannya seperti ikan yang dijerat jaring, dan kemudian ia duduk –di atas saya! Untuk waktu kira-kira tiga puluh menit ia terus saja menyanyi, menggerak-gerakan badan dan kakinya sesuai tempo dari lagu yang ia nyanyikan.

Untuk saya sendiri, itu adalah perkembangan yang tak terduga, untuk saya yang selama ini selalu diasingkan oleh lawan jenis karena wajah jelek saya. Sekarang, saya jadi meyadari bahwa saya berada di ruangan yang sama dengan seorang gadis Eropa yang tak pernah saya lihat, kulit saya seolah-oleh menyentuh kulitnya melalui lapisan kulit tipis.

Tak sadar akan keberadaan saya, ia terus betingkah semaunya, melakukan apa yang ia inginkan. Di dalam kursi saya membayangkan saya sedang memeluknya, menciumnya lembut di leher putihnya –jika saja pelapis kulit ini tak ada…

Mengekor di belakang pengalaman tak jelas yang menyenangkan ini, saya jadi lupa niat awal saya untuk melakukan perampokan. Sepertinya saya malah menenggelamkan kepala saya ke dalam pusaran kenikmatan yang membuat gila.

Lama saya merenung: “mungkin aku ditakdirkan untuk menikmati jenis keberadaan diri macam ini.” Perlahan-lahan kebenaran tampak terbit pada diri saya. Untuk ia yang begitu jelek dan dijauhi seperti saya, adalah sungguh tepat untuk menikmati hidup dari dalam kursi. Karena di dunia gelap ini, saya mampu mendengar dan menyentuh hal-hal yang saya idam-idamkan.

Cinta di dalam kursi! Sepertinya ini terlihat sangat fantastis. Hanya ia yang benar-benar pernah mencobanya yang dapat menceritakan debar dan kesenangan ini. Tentu, ini jenis cinta yang tak wajar, dibatasi pada indra peraba, pendengar, dan pencium, cinta yang membara di dunia kegelapan.

Percaya atau tidak, banyak kejadian yang terjadi di dunia ini melampaui pemahaman. Pada awalnya, saya hanya berniat untuk melakukan serangkaian perampokan, lalu kabur. Sekarang, bagaimanapun, saya menjadi begitu melekat dengan tahap hidup saya yang ini, yang mana saya mulai mempertimbangkannya sebagai cara hidup permanen saya.

Di tengah malam saya berkeliaran dan selalu dalam kondusi yang sangat waspada, saya memperhatikan langkah yang saya ambil, dan tak membuat suara-suara. Mengingat ada sedikit kemungkinan untuk terdeteksi. Kalau diingat-ingat, bagaimanapun, saya telah menghabiskan beberapa bulan di dalam kursi tanpa diketahui sekali pun, sebenarnya itu cukup mengejutkan bahkan untuk saya sendiri.

Agar merasa lebih baik di hari-hari ketika saya berada di dalam kursi, saya duduk melenturkan diri lengan terlipat dan lutut tertekuk. Sebagai gantinya, saya merasa seluruh tubuh saya lumpuh. Terlebih, seolah saya tak pernah bisa berdiri tegak, otot saya menjadi tegang dan kaku, dan bertahap saya mulai merangkak ketika pergi ke kamar mandi. Betapa gilanya saya! Di depan semua penderitaan ini saya tak bisa menghentikan kebodohan saya ini dan meninggalkan dunia tak wajar yang penuh sensasi kenikmatan itu.

Di hotel, meski ada beberapa tamu yang tinggal untuk sebulan atau bahkan dua bulan, membuat tempat itu seolah rumah mereka, tetap ada tamu-tamu baru yang berdatangan, seimbang dengan jumlah yang pergi. Alhasil, saya tak pernah bisa menikmati cinta permanen. Bahkan sekarang, ketika saya memikirkan semua “hubungan asmara” saya, saya tak bisa mengingat apapun kecuali sensasi sentuhan dari daging yang hangat.

Beberapa wanita memiliki tubuh yang tangguh seperti kuda; yang lain terasa memiliki tubuh yang langsing seperti ular; dan yang lain lagi memiliki tubuh yang tak tersusun dari apapun kecuali lemak, membuat mereka mirip seperti bola karet. Ada juga pengecualian bagi mereka yang tampak memiliki tubuh yang tersusun dari otot-otot lembut, seperti patung-patung Yunani. Dan meskipun demikian, satu dan yang lain, masing-masing memiliki daya tariknya sendiri yang dapat dibedakan dengan yang lain, dan objek gairah saya sendiri selalu berubah-ubah.

Pada suatu waktu, misalnya, seorang penari internasional yang terkenal datang ke Jepang dan menginap di hotel. Meski ia hanya duduk sekali di kursi saya, bersentuhan dengan dagingnya yang lembut dan halus menimbulkan rasa debar yang bahkan sampai saat ini masih bisa saya rasakan. Sentuhan ilahi dari tubuhnya itu membuat saya merasa tenggelam dalam kegembiraan yang meluap-luap. Pada kesempatan itu, alih-alih rangsangan badani, saya merasa lebih seperti seorang seniman berbakat yang sedang dibelai oleh keajaiban seorang dewi.

Peristiwa aneh dan menyeramkan terus terjadi dan silih berganti dengan cepat. Bagaimanapun, karena keterbatasan ruang pada kertas-kertas ini, saya harus menahan diri untuk tidak menceritakan setiap kejadian terlalu detail. Sebagai gantinya, saya harus terus melanjutkan cerita mengikuti alur secara umum.

Suatu hari, setelah beberapa bulan semenjak kedatangan saya di hotel, tiba-tiba takdir saya mengalami perubahan yang tak terduga-duga. Untuk beberapa alasan, pemilik hotel asing itu dipaksa untuk pergi kembali ke tanah airnya, dan sebagai gantinya, manajemen berpindah ke tangan Jepang.

Dimulai dengan pergantian kepemilikan, kemudian peraturan baru diberlakukan, penghematan secara drastis dengan mengurangi biaya-biaya, dan penghapusan barang-barang mewah, dan langkah-langkah lain untuk meningkatkan keuntungan: salah satu hasil dari peraturan baru ini adalah pihak manajemen memutuskan untuk melelang perabot-perabot yang kelewat mewah. Termasuk dalam daftar barang yang akan dijual itu, adalah kursi saya.

Ketika saya mengetahui perkembangan ini, seketika saya merasakan kecewa yang teramat sangat. Segera, bagaimanapun, suara dalam diri saya menyarankan bahwa saya harus kembali ke dunia biasa di luar –dan menikmati hasil jarahan saya. Saya, tentu saja, menyadari bahwa mustahil saya bisa kembali ke kehidupan saya yang biasa-biasa saja sebagai seorang pengrajin, di lain sisi saya juga cukup kaya saat ini. Pikiran-pikiran tentang peran kehidupan saya yang baru di masyarakat sepertinya mulai muncul menyusul rasa kecewa saya dikarenakan harus meninggalkan hotel. Dan juga, ketika saya merenungi dalam-dalam tentang segala kenikmatan yang saya rasakan di sini, saya terpaksa harus mengakui bahwa, meski “hubungan asmara’ saya begitu banyak, semua itu selalu dengan wanita asing dan entah bagaimana yang seperti itu terasa kurang buat saya.

Saya kemudian menyadari secara penuh bahwa sebagai seorang warga Jepang saya sangat mengharapkan kekasih dari golongan saya. Sementara pikiran-pikiran ini berputar-putar di kepala saya, kursi saya –dengan saya di dalamnya- dikirim ke sebuah toko perabot untuk dilelang. Mungkin sekarang lah waktunya, saya berkata pada diri saya sendiri, kursi ini akan dibeli oleh orang Jepang dan berdiam di rumah orang Jepang. Dengan jari tangan saya silangkan, saya memutuskan untuk bersabar dan meneruskan keberadaan saya di dalam kursi sedikit lebih lama.

Meski saya menderita selama dua atau tiga hari di dalam kursi ketika kursi ini dipajang di depan toko perabot, akhirnya sampai lah pada hari penjualan dan kursi saya segera terjual. Hal ini, beruntungnya, adalah karena kerja kerajinan yang bagus di masa pembuatannya, dan meski kursi ini tidak lagi baru, ia tetap memiliki “kesan yang berwibawa”.

Pembelinya adalah seorang pejabat tinggi yang tinggal di Tokyo. Ketika saya dikirim dari toko perabot ke rumahnya yang begitu mewah, hentakan dan goncangan dari kendaran nyaris membunuh saya. Saya mengatupkan gigi saya dan berusaha bertahan, bagaimanapun, saya menenangkan diri dengan pikiran bahwa setidaknya saya dibeli oleh orang Jepang.

Di dalam rumah, saya ditempatkan di ruang luas yang memiliki gaya ala barat. Satu hal tentang ruangan itu yang memberikan saya kepuasan yang luar biasa adalah fakta bahwa kursi saya akan digunakan oleh istrinya yang muda dan cantik alih-alih untuk dirinya sendiri. 

Kira-kira selama sebulan saya telah bersama sang istri, boleh dikatakan saya menunggal dengannya. Dengan pengecualian di jam-jam makan malam dan tidur, tubuhnya yang lembut selalu berbaring di lutut saya untuk alasan yang sederhana: ia memiliki pekerjaan yang membutuhkan momen berpikir dalam.

Anda tidak akan tahu betapa saya mencintai wanita ini! Ia adalah wanita Jepang pertama yang bersentuhan dengan saya, dan lebih dari itu, ia memiliki bentuk tubuh yang luar biasa. Ia tampak seperti jawaban dari doa-doa saya! Dibandingkan dengan yang ini, semua “hubungan asmara” saya yang lain selama di hotel tampak seperti cinta monyet belaka, tak lebih.

Bukti bahwa saya begitu cinta gila pada wanita pintar ini adalah fakta bahwa saya selalu mengayominya setiap waktu. Ketika ia pergi, meski jika itu hanya sesaat, saya menunggunya kembali seperti Romeo yang tergila-gila pada Juliet. Jenis perasaan yang tak pernah saya rasakan sebelumnya.

Perlahan-lahan, muncul keinginan untuk mengutarakan perasaan saya padanya…bagaimanapun caranya. Saya mencoba dengan sia-sia untuk melaksanakan tujuan saya itu, namun selalu berakhir di jalan buntu, saya benar-benar tidak ada harapan. Oh, betapa saya merindukan balasan dari cinta saya ini! Ya, anda mungkin berpikir ini adalah pengakuan dari orang gila, tapi saya memang gila –gila karena cinta padanya!

Tapi bagaimana saya memberitahunya? Jika saya membuka kedok, ia akan begitu terkejut dan memanggil suami dan pelayannya. Dan itu, tentu saja, akan menjadi kecelakaan bagi saya, sebuah pemajanan yang tak hanya menghina, tapi juga hukuman berat untuk kejahatan yang telah saya lakukan. 

Saya, kemudian, memutuskan untuk berbuat hal lain, sebut saja, untuk mencari cara agar membuatnya semakin nyaman dan berharap hal itu akan membangkitkan perasaan cinta alami untuk –kursinya! Mengingat bisa dibilang ia adalah seorang seniman juga, entah kenapa saya merasa percaya diri bahwa cinta alaminya pada keindahan akan menuntunnya ke arah yang saya inginkan. Saya berharap dapat merasakan kelegaan karena cintanya, meski itu ia tujukan pada objek material belaka, karena bagaimanapun saya yakin perasaann cintanya yang tajam meski itu untuk seonggok kursi akan cukup kuat untuk menembus sampai pada makhluk yang ada di dalamnya…. Yang mana adalah saya!

Saya berusaha keras untuk membuatnya merasa lebih nyaman dengan berbagai cara tiap kali ia membaringkan berat tubuhnya di kursi saya. Kapanpun ia merasa capai karena duduk terlalu lama di atas saya, saya akan perlahan-lahan menggeser lutut saya dan memeluknya lebih hangat, membuatnya merasa lebih nyaman. Dan ketika ia tertidur di atas saya, saya akan menggeser lutut saya, dengan amat perlahan, hingga ia dapat tertidur dengan lebih nyenyak dan lelap.

Entah bagaimana, mungkin kejaiban (atau itu hanya imajinasi saya?), sekarang wanita ini tampak mencintai kursi saya dengan begitu dalam, di setiap saat ia duduk ia bertingkah seperti bayi yang tenggelam dalam dekapan ibunya, atau gadis yang berada dalam pelukan lengan pacarnya. Dan ketika ia menggerak-gerakkan dirinya di atas kursi, saya merasa ia sedang merasakan kebahagiaan asmara. Dengan cara begini, api cinta dan gairah tumbuh menjadi jilatan-jilatan api yang tak mungkin bisa dipadamkan, dan pada akhirnya saya sampai pada tahap dimana saya benar-benar harus membuat permintaan tak wajar yang bodoh.

Tak diragukan lagi, Madam, saat ini, anda tentu telah bisa menebak siapa objek dari gairah saya yang menggila ini. Untuk membuat jelas saja, ia bukanlah orang lain selain diri anda sendiri, Madam! Sejak suami anda membeli kursi dari toko perabot itu, saya telah sedemikian menderita siksaan yang menyesakkan karena cinta gila dan kerinduan padamu. Saya, sang cacing ini…sang makhluk menjijikkan ini.

Saya punya sebuah permintaan. Sudikah anda bertemu dengan saya sekali saja? saya tidak akan meminta lebih. Saya, tentu saja, tak layak untuk rasa simpatimu, karena saya bukanlah siapa-siapa kecuali seorang penjahat, tak bernilai dan tak layak bahkan untuk menyentuh ujung kakimu. Namun jika anda sudi mengabulkan satu saja permintaan saya ini, dengan perasaan sungguh-sungguh, rasa terima kasih saya akan abadi untukmu.

Malam kemarin, saya menyelinapi tempat tinggal anda untuk menulis surat ini karena, meski saya mengesampingkan faktor bahayanya, saya tidak punya cukup keberanian untuk bertemu langsung dengan anda secara tiba-tiba, tanpa peringatan dan persiapan.

Ketika anda membaca surat ini, saya sedang berkeliaran di sekitar rumah anda dengan nafas tertahan. Jika anda setuju dengan permintaan saya, tolong letakkan sapu tangan anda di pot bunga yang ada di depan jendela. Itu akan menjadi tanda bagi saya dan saya akan membuka pintu depan dan masuk sebagai tamu baik-baik….

Itu adalah akhir dari suratnya.

Bahkan sebelum Yoshiko membaca terlalu bayak lembaran surat itu, semacam firasat buruk sudah terlebih dulu membuatnya pucat pasi. Terbangkit secara tidak sadar, ia marasa harus lari meninggalkan studi yang akan ia kerjakan,  dari kursi yang sedang ia duduki, dan merasa harus mencari tempat pemujaan di bagian ruangan ala jepang di rumahnya.

Untuk sesaat tadi, ia berniat untuk berhenti membaca dan merobek surat menyeramkan itu; namun entah kenapa, ia terus membaca lembaran yang tampak ditulis dari atas sebuah meja belajar rendah dengan cermat. 

Sekarang ia telah selesai, firasat buruknya terbukti benar. Bahwa kursi yang ia duduki hari demi hari… benar-benar memuat seorang laki-laki di dalamnya? Jika benar demikian, betapa itu adalah pengalaman yang mengerikan yang terjadi tanpa ia sadari! Rasa tenang tiba-tiba menghampirinya, seolah ada air es yang menggeluyur di punggunya dan gigil halus yang disebabkan olehnya tak lekas hilang juga.

Seperti orang yang sedang dalam keadaan tinggi, ia menatap menembus langit-langit. Haruskah ia memeriksa kursinya? Tapi bagaimana bisa ia mempertahankan dirinya sendiri atas cobaan yang mengerikan itu? meski mungkin saja kursi itu kosong saat ini, bagaimana dengan hal-hal jorok yang ada di dalamnya, seperti sisa makanan dan benda-benda yang telah dipakai?

“Madam, surat untuk anda.”

Awalnya, ia mendongak dan mendapati pelayannya berdiri di arah pintu dengan sebuah amplop di tangannya.

Dengan linglung, Yoshiko mengambil amplop itu dan tercekat dalam jerit. Sebuah horor! Itu adalah pesan dari orang yang sama! Lagi-lagi namanya hanya ditunjukkan melalui jenis coretan yang khas.

Untuk beberapa saat ia ragu, bertanya-tanya apakah ia harus membukanya atau tidak. Akhirnya ia mengumpulkan keberanian untuk membuka segelnya dan menarik kertas di dalamnya dengan gemetar. Pesan kedua ini pendek dan singkat, dan memuat kejutan lain.

Maafkan kebodohan saya, mengirimkan pesan lain kepada anda. Saya akan memulainya dengan mengatakan bahwa saya hanyalah salah seorang pengemar yang sangat mencintai anda. Draft tulisan yang saya kirimkan pada anda di amplop yang berbeda, adalah murni berdasarkan imajinasi dan pengetahuan saya bahwa anda baru saja membeli sebuah kursi. Ini adalah contoh dari usaha sederhana saya pada penulisan fiksi. Jika boleh saya akan merasa sanagt puas jika anda memberikan komentar pada tulisan saya itu. 

Untuk alasan personal, saya mengirim draft tulisan itu lebih dulu dari pada surat penjelasn ini, dan saya menduga anda telah membacanya. Bagaiman rasanya? Jika, Madam, anda merasa terhibur setidaknya dalam tingkatan tertentu, saya merasa usaha kepenulisan saya jadi tidak sia-sia. 

Meskipun saya berusaha menahan diri untuk memberi tahu anda di draft penulisan saya, saya berniat untuk memberi judul cerita saya “Kursi manusia.”

Dengan segala hormat dan harapan yang baik, salam.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *