Matinya Kepakaran: Tantangan bagi Keberlangsungan Ilmu Pengetahuan


Judul : Matinya Kepakaran

Penulis : Tom Nichols

Penerbit : KPG

Tahun : 2018

Ulasan oleh: Faiza Nur Sabrina


Matinya Kepakaran berbicara soal pengetahuan yang mapan dan perlawanan terhadapnya. Buku ini menohok, mengambil sudut pandang kritis dan cenderung menyerang, namun sangat baik untuk menjadikannya bahan refleksi diri. Buku ini dibagi kedalam enam bab yang akan mengupas dengan terperinci, bagaimana kepakaran diancam dari berbagai arah. Didalamnya, dibahas mengenai peran masyarakat, media, pendidikan, jurnalisme hingga kelompok pakar sendiri terhadap keberlangsungan ilmu pengetahuan kedepannya. 

Pada bagian awal bab Tom Nichols memuntahkan kritiknya tentang ruang publik dan sistem demokrasi. Ia menilai bahwa ruang publik saat ini dipenuhi oleh orang-orang yang menganggap diri mereka sendiri sudah pintar dan terdidik, sehingga dapat dengan mudah menganggap remeh kemampuan para pakar. Dalam era yang disruptif ini, biang masalah yang paling bisa kita identifikasi adalah kehadiran internet dan media sosial. Sebagian besar keributan antara pakar dan orang awam terjadi karena bias informasi yang didapat melalui internet. Keadaan chaos di internet kemudian diperparah dengan kesalahkaprahan masyarakat yang tidak mampu memahami apa itu demokrasi, sehingga menganggap semua suara adalah sama benar dan sama berharganya untuk didengar dan diperhatikan. Hal ini membuat segalanya kacau balau, dan masyarakat semakin tidak mampu membedakan mana yang benar dan salah. Contoh saja perdebatan soal vaksin yang sempat ramai diperbincangkan di media sosial. Banyak informasi hoax yang beredar tentang bahaya vaksin, yang kemudian membentuk kelompok-kelompok anti vaksin di masyarakat. Mereka mempercayai mitos-mitos mengenai vaksin yang dianggap justru dapat membahayakan kesehatan. Padahal vaksin terbukti telah berjasa menyelamatkan jutaan anak-anak dari campak, flu hingga polio. 

Selain internet dan media sosial, Tom Nichols juga mengidentifikasi peran penyedia pendidikan formal (universitas), yang turut menjadi biang keladi perlawanan terhadap kepakaran. Ia mengkritik habis-habisan perguruan tinggi yang saat ini tidak lagi menjadi tempat belajar dan pendewasaan diri, melainkan hanya menciptakan pengalaman perkuliahan yang berorientasi pada pelanggan (mahasiswa). Ia menuliskan bahwa banyak institusi pendidikan tinggi yang gagal memberikan pengetahuan dasar dan keahlian yang dapat membentuk kepakaran para mahasiswa, serta gagal mengajak mahasiswa untuk terlibat secara produktif bersama pakar dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini terlihat dari kurangnya kemampuan mahasiswa untuk berpikir kritis dan mengadu gagasan secara objektif dan logis tanpa prasangka emosional atau pribadi. Dalam kalimat yang lebih menohok lagi Tom Nichols bahkan menulis “program belajar berubah menjadi kunjungan berulang ke sajian prasmanan pendidikan mahal yang sebagian besar dipenuhi dengan intelektualitas cepat saji, dengan sedikit pengawasan orang dewasa yang memastikan bahwa mahasiswa memilih yang bergizi, bukan omong kosong” (hal, 89). Kegagalan universitas tersebut mendorong serangan terhadap kepakaran dan pengetahuan yang telah dibangun berabad-abad, dimana disiplin dan pendewasaan intelektualitas menjadi tersingkir. 

Kemudian dalam bidang jurnalistik, Tom menjelaskan salah satu masalah mendasar tentang perlawanan terhadap kepakaran adalah membludaknya jumlah berita, namun orang-orang menjadi semakin kurang memiliki informasi. Hal ini merupakan sebuah paradoks, dimana bukan hanya semakin sedikit yang diketahui, namun orang-orang juga semakin tidak tertarik terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Tom mengkritik bahwa kini jumlah berita sudah terlalu banyak, dan sangat lekat dengan hiburan. Media yang bersinggungan dengan kapitalisme hanya akan memberikan apa yang diinginkan orang-orang, dan bukan apa yang seharusnya diketahui orang-orang, karena media lebih mementingkan jumlah rating serta klik. Lalu pada bagian akhir bab, tak lupa Tom Nichols menambahkan bahwa pakar pun dapat turut menjadi biang keladi perlawanan terhadap kepakaran. Ia tak menampik bahwa diluar sana masih banyak para dosen atau ilmuwan yang tidak mumpuni dan justru mencoreng wajah sains. 

Buku ini menyajikan penjelasan yang cukup komprehensif dalam melihat spektrum akar permasalahan perlawanan terhadap kepakaran. Matinya Kepakaran menunjukkan kepada kita bagaimana revolusi digital telah memelihara kultus ketidaktahuan, serta membuka secara terang-terangan ketidakmampuan kita dalam memelihara ilmu pengetahuan yang mapan. 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *