Menyoal Selebritas dan Klub Sepak Bola

Setelah satu tahun pagelaran sepak bola sempat vakum akibat pagebluk, kini klub-klub Indonesia akhirnya bisa kembali bermain. Tapi di samping rasa senang saya karena ahirnya “football is coming home”, ada juga sedikit rasa pesimis dan curiga yang muncul di benak. Kenapa? Jawabannya terletak di sebuah kota kecil di Pantai Utara Jawa Tengah, Pati. Belum lama ini klub yang bermarkas di Bumi Mina Tani, yakni Putra Safin Group alias PSG, dibeli atau diakuisisi oleh youtuber terkemuka, lord Atta Halilintar bersama dengan koleganya, Putera Siregar. Dampak dari akuisisi tersebut gampang ditebak. Logo, nama, dan warna kebesaran tim berubah. Nama klub harus ‘rela’ diberi imbuhan AHHA PS untuk mengakomodir datangnya bos baru di klub tersebut. Sedangkan di tempat lain, tepatnya di Cilegon, Raffi Ahmad membeli lisensi klub lokal setempat – Cilegon United – untuk kemudian (surprisesurprise…) bersalin logo dan nama menjadi RANS Cilegon FC. Bedanya walaupun masih menyematkan nama ‘Cilegon’, klub ini diboyong oleh Bang Raffi ke PIK, daerah elit di tepi pantai utara Jakarta.

Sebenarnya fenomena selebritas membeli,mengakuisisi, atau ikut urun duit di klub sepakbola adalah hal yang sudah lumrah dari sejak eyang kakung saya masih belajar merangkak (Gak juga sih… Tapi poinnya adalah itu bukan barang baru). LeBron James urun saham di Liverpool FC, Elton John yang sempat menjadi pemilik Watford FC, atau yang paling mutakhir Ryan Reynolds dan Rob McElheney yang mengambilalih kepemilikan klub asal Wales, Wrexham AFC, hanya beberapa contoh dari nama-nama pesohor yang terlibat dalam bisnis si kulit bundar.

Apabila saya dimintai pendapat menyoal fenomena ini, saya paling hanya akan memberi jawaban normatif nan klise, “Ya ndak papa. Selama klub tersebut dirawat dan sehat secara aspek finansial dan sportingnya.” Mengapa begitu? Karena saya cukup tahu diri untuk mengakui bahwa klub-klub sepakbola, khususnya di Indonesia, sering bermasalah dengan yang namanya finansial. Menghidupi klub sepakbola itu sulit, apalagi ditambah keadaan sekarang yang serba menghimpit. Jangankan buat menggelar pertandingan, buat membayar listrik bulanan di mess pemain kadangkala klub harus nombok. Jadi saya pikir sah-sah saja apabila klub mendapat sokongan dana dari pesohor maupun pengusaha yang tidak tahu bagaimana harus menghabiskan cuan mereka yang turah-turah itu.

Hal yang saya takuti dari fenomena ini ialah mental trigger happy yang kadangkala muncul di antara pemilik-pemilik baru klub. Seolah seperti anak kecil yang mendapat mainan baru, mereka lama-lama bakal bosan dan mencari-cari mainan baru yang lebih menghibur.  Kalau ingin tahu mengenai pemilik modelan begitu, tanyakan saja pada fans Palermo. Saya yakin mereka bisa bercerita berjam-jam hanya untuk membahas orang gila bernama Maurizio Zamparini, yang kebetulan (atau sialnya) adalah pemilik klub mereka. Atau masih ingatkah anda ketika Malaga CF dibeli oleh pangeran Qatar, Sheikh Abdullah bin Nasser al Thani? Setelah sempat menembus babak knockout Liga Champions pada 2012-2013, mereka kini terjerembab di kasta kedua Liga Spanyol karena sang pemilik tetiba menyetop aliran dana kepada klub.

Selain persoalan mental ini, problem yang biasanya menghantui ialah kecenderungan klub-klub OKB (Orang Kaya Baru) ini untuk overspending. Lihat saja AC Milan ketika berada di bawah kepemilikan taipan asal Tiongkok, Yonghong Li. Mereka langsung jor-joran mendatangkan pemain berlabel bintang yang tentu saja berbanderol mahal macam Luiz Adriano dan Carlos Bacca. Kedua pemain tersebut tak bertahan lama di Kota Mode, lantaran mereka terpaksa dijual demi menutup utang klub. Lah, ‘kan Milan baru dibeli taipan Tiongkok. Kenapa malah boncos? Iya, itu memang benar. Biang dari masalah tersebut adalah kenyataan bahwa Yonghong Li membeli klub dengan duit utang, yang celakanya, tak bisa ia kembalikan tepat waktu. Hasilnya jelas. Mr Li mesti angkat kaki dan menjual kembali klub tersebut. Atau kalau anda terlalu muda untuk mengingat kasus AC Milan, lihat saja kejadian yang ada di Tiongkok. Klub-klub Liga Super Tiongkok harus berguguran satu per satu karena pengeluaran gila-gilaan yang tidak diimbangi dengan pemasukan yang memadai. Kasus yang paling mengenaskan tentu saja yang menimpa Jiangsu Suning. Klub ini terpaksa bubar lantaran Suning, perusahaan yang menyokong klub sudah tidak kuat membiayai operasional klub dan ingin fokus berbisnis di bidang retail. Padahal pada musim sebelumnya, Suning berhasil menjadi kampiun liga.

Tentu saya bisa jadi terbukti salah karena berburuk sangka pada para pesohor yang ikut urun duit dalam pengelolaan klub. Tapi mengingat akan apa yang telah terjadi pada Deltras, Sriwijaya FC, Lampung Sakti, dan banyak klub Indonesia lain (yang sempat terbang tinggi hanya untuk tenggelam dan kesulitan bangkit) sama sekali tidak membantu. Saya hanya bisa berharap yang terbaik, meski sepakbola negara ini lebih sering mengecewakan saya dan jutaan penggemar sepakbola lain. Semoga, semoga saja.

Penulis: Riswanda Auliya Ridwansyah

Leave a Comment

Your email address will not be published.