Penulis yang Terburu-buru


Oleh: Aldinza Muhammad

Belajar dari kejadian sebelumnya, pemuda #52 tidak mau lagi menghabiskan waktunya untuk memblokir dirinya sendiri dari dunia luar hanya untuk menulis. Ia bahkan sampai kehilangan hitungan waktu, yang lebih buruk lagi, berat badannya turun drastis karena nafsu makannya hilang, kulitnya juga memucat, selain itu, di sekitar tengkuk dan lehernya tumbuh benjolan gatal warna merah seukuran biji kenari. 

Tempat persembunyiannya itu berada di ruang bawah tanah sebuah kastil  peninggalan kakeknya di Nagoro, desa kecil dekat kota besar Osaka. Bangunan itu bergaya era showa. Ruang bawah tanah itu dikeruk untuk dijadikan tempat berlindung ketika musim hujan napalm tiba-tiba datang, dan beberapa bulan terakhir menjadi tempat pemuda #52 menulis ditemani lilin kecil yang memendarkan sinar berwarna jingga.

Saat ini pemuda #52 sedang berdiri di depan sebuah café kecil bernama “Ocha-Ocha Nemu.” Ia menenteng sebuah buku di tangan kirinya, dan mengapit Marlboro elektrik di sela jari tangan kanannya. Pandangannya menyapu jalan sampai jauh. Cahaya fluorescent merah, hijau, dan biru berhamburan di udara, tak kalah hiruk dengan mobil dan manusia yang berlalu lalang di jam pulang kerja Tokyo. Denging di kupingnya akibat penerbangan yang baru ia lakukan dari Bandara Internasional Kansai masih belum hilang. Sekali dua, ia meminum rokok elektrik di tangannya. Lampu indikator di alat yang mirip pena itu menyala oranye sesaat, lalu kemudian, bersamaan dengan hela nafasnya, asap putih beraroma apel mengalir dari hidung dan mulutnya, mengaburkan pupil matanya yang memantulkan siluet kehidupan kota abad 20 yang bergerak cepat. Pemuda #52 sedang memikirkan beberapa orang di kepalanya, salah satunya adalah Orhan Pamuk, dan salah satu yang lain adalah Kyoko.

Kyoko Matsureda adalah penulis kesayangan di penerbitan tempatnya bekerja. Novel terbarunya, “Gadis Motherboard”, terjual lebih dari satu juta kopi dalam bentuk fisik dan bentuk elektroniknya terunduh lebih dari 10 juta kali dan terus bertambah. Pencapaian yang luar biasa untuk seorang penulis, tak diragukan lagi, dan apalagi Kyoko adalah perempuan, pikirnya. Bagaimana menulis novel yang bagus, bagaimana menulis novel yang bagus, tidak, bagaimana menulis novel yang dipuja banyak orang, kalimat-kalimat itu ia gumamkan pada dirinya sendiri sambil melamun. 

Pak Aran, kepala editor di penerbitan tempat ia bekerja, pernah bilang padanya, novel-novel Kyoko disukai banyak orang karena temponya cepat dan mudah dipahami, selain itu, selalu ada misteri yang perlu untuk dikejar kebenarannya oleh pembaca. Misteri adalah umpan terbaik untuk rasa ingin tahu pembaca. Dan pembaca sekarang tidak suka ceramah yang bertele-tele atau tidak peduli dengan perspektifmu tentang sesuatu, mereka butuh persepektifnya terartikulasikan dengan baik dalam bentuk kalimat atau adegan, karena kebanyakan mereka tidak mampu melakukannya, maka dari itu, penulislah yang akan melakukannya, dan penulis yang berhasil melakukannya, ia laris. Pemuda #52 mengingat-ingat nasihat dari kepala editornya.

Pemuda #52 mengamati seorang gadis yang berjalan dengan penutup telinga di sebuah titik pandang. Dari kejauhan, ia tampak berjalan merunduk sambil memainkan ponsel pintar. Itu mengingatkannya pada satu adegan di novel “Gadis Motherboard”, di mana seorang gadis dengan telinga buatan hidup bahagia tanpa mengalami konflik apapun sampai cerita tamat. Telinga buatan itu dapat diatur supaya memblokir suara tertentu atau mengencangkan suara tertentu tergantung selera pemiliknya. Ide yang relevan dengan peradaban yang kian berisik, gumamnya pada diri sendiri. Di saat yang bersamaan, ia sendiri juga merasa aneh, kenapa ia malah mengingat bagian minor dari novel kandidat penghargaan itu. 

Secara keseluruhan, “Gadis Motherboard” bercerita tentang hari-hari seorang gadis hikikomori yang berubah semenjak ia membongkar isi komputernya yang tiba-tiba suka berbunyi berisik. Di dalam kotak mesin komputernya, si gadis menemukan secarik kertas yang diapit dua potong jari manusia nyaris busuk. Alih-alih histeris, gadis itu mencabut carik kertas itu dengan tenang dan membukanya. Ia kenal sekali dengan kertas macam itu, karena ia hobi bermain game. Dan untuk itu, petualangan si gadis dimulai, ia menyimpan potongan jari nyaris busuk di kotak kacamata miliknya, dan setelah lima belas bulan mengurung diri, akhirnya ia keluar dari apartemennya sambil mencangklong tas kulit bergantungan kunci kepala kucing warna kuning, dan mendapati penduduk Jepang tersisa 100 orang, “Bagaimanapun, aku bukan tipe orang yang bisa punya 100 teman.” Itu adalah dialog pertama dalam pembukaan novel itu.

“Sudah lama menunggu?” sebuah sapaan yang memecah lamunan pemuda #52.

“A, Kyoko chan!” Perempuan itu mengenakan sweater kuning pucat kedodoran dengan rok selutut berwarna krem, kedua tangannya ia sembunyikan di balik badannya. 

“Melamun di pinggir jalan,” kata Kyoko, “Kupikir kau tipe penulis yang tidak seperti itu.” 

“Heheh,” pemuda #52 terkekeh.

“Jangan begitulah,” hibur Kyoko, “kau tahu, Orhan Pamuk, kan?”

Tentu, aku sedang memikirkannya bersamaan dengan memikirkanmu barusan, kata Pemuda #52 dalam hati.

“Iya, iya, aku tau.” Jawab pemuda #52 “Ia melamun juga.”

“Benar, kata Pak Aran, belakangan kau sedang mempelajari Pamuk?”

Pemuda #52 hanya menjawabnya dalam hati. Dari yang ia tahu, Orhan Pamuk adalah penulis yang sabar, dan mensyaratkan pembaca-pembacanya harus sabar, cerita digiring dengan amat perlahan menuju konklusi, sungguh berbeda dengan novel-novel Kyoko yang cepat dan tidak bertele-tele, namun penuh misteri menggiurkan. Tanpa sadar pemuda #52 mendorong dirinya sendiri dan mengajak Kyoko berjalan tanpa ajakan verbal.

“Kau tahu,” kata Pemuda #52, “menurutku, yang luar biasa dari Orhan Pamuk adalah kesabarannya dalam menulis. Selama 30 tahun masa kepenulisannya, ia hanya menghasilkan 7 novel panjang, bayangkan, hanya 7, coba bandingkan dengan penulis generasi kita, setahun bisa menyelesaikan 2 novel, itu membuatku gila, dan tidak sedikit juga yang hasilnya lumayan, novelmu misalnya, malah sedang di puncak-puncaknya. Padahal, seperti semut, menulis novel harusnya seperti melakukan perjalanan dengan perlahan-lahan dan sabar. Pattience makes a novelis, novelist. Sesuatu yang sepertinya sudah tidak kutemui di era kepenulisan saat ini.” Pemuda #52 berhenti berbicara untuk menghisap pipa elektriknya.

“Aku sepakat,” sahut Kyoko, ia berjalan seperti gadis kecil yang melompat dari satu batu ke batu lainnya dengan tangan terkait di belakang pantat, “Bukan berarti aku, atau penulis di generasi kita kehilangan kesabaran dalam menulis, tapi karena memang zamannya telah meniscayakan kecepatan. Anggap saja begini, dalam menceritakan landskap kehidupan Kesultanan Ottoman, tentu Pamuk harus menyesuaikan dengan teknologi pada zaman itu. Untuk membuat satu miniature kecil saja prosesnya bisa bertahun-tahun bahkan melibatkan puluhan orang dan atau bahkan memakan korban jiwa? Untuk mencapai hal kecil, prosesnya masih rumit dan berbelit-belit.” Pemuda #52 teringat novel Orhan Pamuk yang berjudul “Benim Adım Kırmızı.”

“Sedang kita hidup di era yang sama sekali berbeda,” lanjut Kyoko, jalannya kian cepat, lompatan di tiap langkahnya kian jauh, mendahului pemuda #52, “Anggap saja tulisan-tulisan Pamuk sebagai bentuk artifak teknologi era itu, maka tak kaget jika menulis novel mensyaratkan kesabaran dalam bercerita, karena teknologi saat itu belum memungkinkan kecepatan seperti yang bisa dicapai teknologi saat ini. Kau baca Virilio? Kecepatan yang dimungkinkan teknologi membuat segala hal menjadi lebih cepat, segala hal, bahkan aku bisa bilang, hal itu berlaku secara leksikal, sampai ke degub jantung manusia abad ini, semua lebih cepat!” Kyoko membuka kaitan tangan di belakang badannya dan membentangkan tangannya sambil memutar-mutar badan. Sekilas, pemuda #52 bisa melihat perempuan itu kehilangan dua jarinya di tangan kiri. Tiba-tiba pemuda #52 merasa ada uap di tenggorokannya yang tercekat.

“Pamuk mungkin hebat, ia meraih nobel atau apalah,” Kyoko melanjutkan, ia kembali menyembunyikan tanggannya di balik badan dan kini berjalan mundur perlahan sambil menatap wajah pemuda #52, “Tapi Pamuk adalah penulis masa lalu, ia hidup dengan teknologi masa lalu, ia menulis dengan cara masa lalu, apakah kau tidak melihat cerita-cerita Pamuk seperti melihat Nintendo generasi pertama? Hahaha!” Kyoko tertawa dengan cara yang membuat pemuda #52 merasa terancam. “Hei, Abang penulis,” lanjut Kyoko, sembari membalik badannya dan mengurangi kecepatan jalannya, mereka kini kembali sejajar, “Apa kau pikir dengan mengurung diri seperti Pamuk, kau bisa menulis hal bagus?” 

Pemuda #52 menjawab dengan ludah yang ditelan. Ia mulai merasa bertemu Kyoko adalah kesalahan. Seorang kenalannya yang adalah seorang pengajar jurusan psikologi klinis di salah satu perguruan tinggi Kansai pernah bilang padanya bahwa beberapa orang bisa cukup gila untuk memotong tubuhnya sendiri demi mendapatkan adrenalin dalam melakukan pekerjaan-pekerjaannya. Van Gogh adalah contoh terkenal untuk itu. Dan meski sekilas, ia cukup yakin, Kyoko tidak memiliki jari telunjuk dan tengah di tangan kirinya.

“Aktivitas sehari-hari, atau sebut saja aktivitas rumahan, bisa membunuh insting imajinasi kita, seorang novelis memerlukan untuk menarik diri dari semua aktivitas harian itu, untuk menjadi iblis atau dewa yang mengamati dari suatu jarak tertentu.” 

“Dan karena itu, kau mengurung diri di gudang bawah tanah?” tanya Kyoko dengan nada mengolok, “Pak Aran memberitahuku, kau masih saja mengiriminya naskah-naskah payah. Aku jadi penasaran, apa saja yang kau lakukan di gudang bawah tanah itu, berapa kali kau masturbasi, ei?” Kyoko menyeringai genit, mendekatkan wajahnya.

Suara kereta peluru memecah udara. Tanpa sadar, mereka telah berjalan sampai dekat jalur Yamanote.

“Kyoko chan, kalau kau sendiri, gimana caramu menulis?”

Kyoko menarik diri, dan kembali menjadi gadis kecil yang melompat-lompat dari satu batu ke batu lain. “Ngomong-ngomong,” Kyoko mulai berbicara kembali, “kau tidak salah lihat kok, jari tangan kiriku hilang dua biji.”

“Hilang?”

“Hilang bukan kata yang tepat, sih.” Kyoko mengangkat telapak tangan kirinya ke hadapan wajahnya sendiri. “aku agak sulit masturbasi dengan tangan seperti ini, kau tahu.” 

Pemuda #52 hanya diam dan mengikuti ritme lompatan-lompatan Kyoko.

“Kalau dipikir-pikir, ini pertama kali kita bertemu, ya?” 

Memang benar, itu adalah pertemuan pertama mereka. Begitu keluar dari tempat pengasingannya, pemuda #52 tak bisa lepas dari rasa frustasi atas tulisan-tulisannya yang kurang memuaskan. Maka, ia menelpon Pak Aran dan meminta agar dipertemukan dengan Kyoko. Kalau mungkin, aku ingin bicara dengannya, syukur-syukur aku bisa sedikit belajar, katanya di akhir telepon.

“Masturbasi itu penting buat penulis.” Kyoko mengoceh lagi, “Pada dasarnya menulis adalah kegiatan masturbasi, kau bersenang-senang sendiri, loyo-loyo sendiri, dan kalau orang-orang suka, ekses dari masturbasimu jadi laku, deh.”

Seiring waktu, pemuda #52 merasa Kyoko semakin menjauh dari jangkauannya. Tidak secara fisik, namun secara metafisik. Setiap kali ia melompat, pemuda #52 merasa semakin didorong oleh ketergesa-gesaan untuk mengejarnya, dan itu tak bisa ia pahami. Tapi bagaimanapun, Kyoko seperti memiliki sihir yang membuat dirinya ingin mengikuti kemanapun perempuan itu pergi. 

“Hei, apa hal paling keji yang pernah kau lakukan?”

“Ma-maaf?”

“Perang, Amerika versus China, kau tahu, di sebagian besar negara Asia mulai menggunakan bahasa China sebagai bahasa kedua. Itu suatu hal, tapi hal lain lagi, kau tahu, Jepang memproduksi senjata dan robot perang habis-habisan di Yokohama, untuk siapa? Untuk Amerika! Negara yang menghujani Jepang dengan napalm beberapa dekade lalu! Hahaha! Dunia sedang menuju akhir, Abang penulis, no peace!” Kyoko mengepalkan tangan kirinya, berusaha membuat simbol victory, namun dengan jarinya yang hilang itu, Kyoko lebih tampak menunjukkan simbol there is no victory.

“No piisu!”

Pemuda #52 kembali terpikir  cerita di “Gadis Motherboard.” Pikiran bahwa dua jari yang tiba-tiba menyangkut di dalam kotak mesin komputer si tokoh utama adalah metafora kembalinya peace yang hilang, dan atau 100 orang penduduk Jepang adalah sisa populasi setelah perang terjadi. Jadi Kyoko memikirkan ini saat menulis? Tanya pemuda #52 dalam hati.

“Abang penulis,” Kata Kyoko lagi, “Kau belum menjawabku, apa hal paling keji yang pernah kau lakukan?” Kali ini Kyoko tiba-tiba berhenti berjalan, kakinya merapat, tungkak sepatu bertemu tungkak sepatu, tangannya kembali ia sembunyikan di balik badan,  kepalanya sedikit meneleng. 

Tanpa sadar mereka telah sampai di Taman Ikebukuro Nishi-guchi. Cahaya Fluoresent yang bertabrakan tampak lebih tenang di sini, begitupun mobil-mobil dan lalu-lalang manusia, bahkan bisa dikatakan, pemuda #52 tiba-tiba merasa sekitarnya menjadi lenggang dan sepi.

“Hal keji?” Pemuda #52 berbalik, respon alami karena Kyoko yang tiba-tiba berhenti dan jadi tertinggal di belakangnya. “Maksudmu, seperti mencuri atau meniru tulisan ora-“

“Seperti membunuh penulis lain.”

Lagi-lagi tubuh pemuda #52 mengeluarkan uap yang berhenti di tenggorokannya, dan membuatnya tercekat. Pemuda #52 merasakan nada ancaman dari kalimat Kyoko barusan. Instingnya sebagai seorang penulis yang terbiasa dengan cerita-cerita membuatnya yakin bahwa ia harus buru-buru memisahkan diri dengan perempuan itu. Namun, tubuh dan kepalanya yang terbiasa merangkai kalimat itu, seperti membeku semenjak beberapa saat lalu, mungkin karena ia menghormati dan mengidolakan Kyoko diam-diam. Dan pertemuannya malam ini mengukuhkan hal tersebut. Ada bagian dari dalam dirinya yang ingin ikut dan dikuasai oleh Kyoko.

“Hiihihi,” Kyoko terkekeh, disusul sunggung senyum, “Tidak perlu terburu-buru, Abang penulis!” Kyoko kembali menjadi gadis kecil yang langkahnya melompat, ia mendekati pemuda #52 dan menggandeng tangannya.” Kita bisa mulai dengan memotong beberapa hal. Pada dasarnya, membunuh adalah memotong, memotong sirkulasi metabolism makhluk hidup. Alatnya bisa macam-macam, mulai dari pisau sampai ekstrak tanaman. Kau tahu, di taman ini ada satu dua rimbunan daun yang jika didestilasi dengan benar bisa menghasilkan ramuan yang menyenangkan?”

Pemuda #52 mulai kehilangan keutuhan dirinya. Mengurung diri selama berbulan-bulan di tempat gelap tanpa mengasilkan sesuatu yang luar biasa sudah membuat dirinya nyaris habis, dan kini kehadiran Kyoko seperti melahap keberadaan pemuda #52 yang kecil. 

Pemuda #52 mendengar bunyi gong kuil. Kuil mana yang membunyikan gong di waktu begini, pikirnya. Ia pun sempat berpikir dan menyapu ingatannya tentang kuil terdekat, dan yang bisa ia ingat hanya Kuil Gokokuji yang cukup jauh lokasinya dari tempat mereka berada saat itu. Kuil Gokokuji membawa serta ingatan pemuda #52 tentang ibunya, bagaimana ia, yang waktu itu masih berumur enam tahun, berlari mengejar kumbang-kumbang di musim panas, dan secara tak sengaja menjatuhkan salah satu nisan yang berjajar di depan Nio-Mon. Ia takut bukan main, ia takut dikutuk atau dikerjar roh leluhur yang marah. Ia berlari kembali ke arah ibunya, dan ia bisa melihat di kejauhan kaki ibunya yang panjang, bersebelahan dengan kaki laki-laki asing, dan kedua pasang kaki-kaki itu, berjalan menjauh dan terus menjauhinya.

“Ibu…” bisik Pemuda #52.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *