Sapiens: Menelusuri Sejarah Peradaban Manusia


Judul : Sapiens

Penulis : Yuval Noah Harari 

Penerbit : KPG

Tahun : 2019

Ulasan oleh: Faiza Nur Sabrina


Apa pendapat anda mengenai pelajaran sejarah? Jika anda ditanyai seperti itu mungkin ingatan anda akan langsung terbang ke masa-masa sekolah, dimana pelajaran sejarah terasa sangat membosankan dan menuntut banyak hafalan. Namun itu mungkin karena orang belum menemukan buku yang tepat untuk bersenang-senang dengan sejarah. Bagi saya pribadi – setidaknya sampai saat ini – tidak ada buku sejarah yang lebih blak-blakan dan terus terang seperti yang ditulis oleh Yuval Noah Harari dalam Sapiens. Sapiens ibarat Oase yang membuat pelajaran sejarah bisa sangat menarik dan menggugah. 

Sapiens terdiri dari empat bab utama; Revolusi Kognitif, Revolusi Pertanian, Pemersatuan Umat Manusia dan Revolusi Sains. Di setiap bab terdapat sub-sub bab yang akan membawa pembaca menelusuri sejarah umat manusia sejak peristiwa Ledakan Besar hingga perjalanannya menjadi spesies paling unggul di muka bumi – kalau bukan yang paling merusak. Pada bab pertama Revolusi Kognitif, Harari membuka pembahasannya di seputar evolusi manusia. Harari menyebutkan bahwa spesies manusia sesungguhnya sangat beragam di berbagai belahan dunia; Homo Neanderthal, Homo Rudolfensis, Homo Erectus, Homo Wajakensis dan sebagainya,  termasuk Homo Sapiens, yang berarti manusia bijak. Kondisi dimana Homo Sapiens menjadi satu-satunya spesies manusia yang bertahan dianggap ganjil. Mengapa spesies manusia lainnya bisa punah dan hanya menyisakan kita? Dari situ Harari bergerak menuju pertanyaan-pertanyaan lain seperti apa yang membedakan Sapiens dengan hewan-hewan lainnya? Mengapa Sapiens bisa begitu unggul dan mencapai puncak tangga rantai makanan dengan cepat padahal sebelumnya tak berdaya menghadapi serangan bison dan singa? Apakah sapiens melakukan pembunuhan massal terhadap spesies manusia lainnya? Menurut Harari, salah satu faktor penentu kesuksesan Sapiens adalah adanya revolusi kognitif yang berlangsung di otak Sapiens, yaitu bahasa dan kemampuan sosial yang luar biasa. Hal tersebut mampu membuat Sapiens mengorganisir dirinya lebih baik daripada hewan lainnya.

Pada masa-masa awal kehidupan manusia, kebanyakan nenek moyang kita adalah para pemburu-pengumpul; mereka berpindah-pindah tempat tinggal dan memakan apapun yang mereka temui di suatu daerah. Namun penyimpangan mulai terjadi dan mengubah keseluruhan sejarah umat manusia. Pada bab Revolusi Pertanian, Harari menyebutkan bahwa sejak 10.000 tahun lalu, Sapiens mulai memanipulasi kehidupan segelintir spesies hewan dan tumbuhan. Domestikasi gandum dan sapi terjadi di berbagai penjuru dunia dan menghasilkan apa yang disebut sebagai Revolusi Pertanian. Manusia kemudian menjadi petani dan hidup menetap. Dari situ Harari beranggapan bahwa sesungguhnya tumbuhan dan hewan itulah yang mendomestikasi manusia, bukan sebaliknya. Meskipun dianggap sebagai momentum kemajuan berpikir manusia, namun Harari beranggapan bahwa revolusi pertanian tak lain adalah tipuan terbesar dalam sejarah. Revolusi pertanian juga menandakan suatu bencana mengerikan khususnya bagi kawanan ternak. Sapi dan ayam misalnya, evolusi mereka sangat berhasil, namun itu lebih-lebih karena manusia mengurung mereka dalam kandang dan mengembangbiakkannya untuk dikonsumsi manusia. Di samping itu, Revolusi Pertanian juga berdampak pada munculnya kota-kota besar dan jejaring-jejaring komersial baru. Manusia mulai membangun tatanan khayalan yang memungkinkan mereka bekerja dengan lebih efektif dan lebih baik. Dari situ lahirlah sistem tulisan, angka, hukum-hukum, birokrasi hingga hubungan-hubungan sosial yang timpang. 

Setelah Revolusi Pertanian, kehidupan manusia berkembang lebih besar dan jauh lebih kompleks. Kebutuhan untuk bekerja sama secara efektif di antara manusia menciptakan apa yang disebut sebagai kebudayaan. Kebudayaan, menurut Harari, adalah tatanan khayalan yang dibangun untuk mempersatukan umat manusia. Dengan kebudayaan, manusia dapat berperilaku dan meyakini nilai, norma serta kepercayaan yang sama. Di bagian ke-3 Pemersatuan Umat Manusia ini, Harari menjelaskan pokok-pokok mengenai apa yang membuat manusia bisa bersatu meskipun mereka saling asing. Harari mengajukan tiga faktor utama; Uang, Imperium dan Agama. Kemunculan uang sebagai alat tukar universal telah menciptakan sistem kesaling-percayaan, toleransi serta fondasi bagi manusia yang saling asing untuk bekerja sama. Di samping uang, ribuan kebudayaan kecil manusia yang kini berangsur-angsur menjadi masyarakat global juga dibentuk oleh tangan besi imperialisme. Visi imperial yang berambisi menaklukkan berbagai wilayah telah menyatukan kebudayaan-kebudayaan kecil menjadi satu kebudayaan besar Imperialisme. Di satu sisi, agama pun turut memainkan peran penting dalam upaya pemersatuan umat manusia. Menurut Harari, peran krusial agama dalam sejarah adalah memberikan legitimasi adimanusiawi terhadap struktur-struktur yang rapuh dan membantu menegaskan bahwa hukum-hukum manusia bukanlah hasil olah pikir manusia, melainkan diperintahkan oleh otoritas mutlak yang mahakuasa. Sifat universal agama mampu mempersatukan wilayah yang luas dengan beraneka ragam kelompok manusia dibawah naungannya. Bersama, ketiganya membentuk masyarakat global yang dimiliki manusia saat ini. 

Proses jalannya sejarah tak berhenti sampai di situ. Revolusi selanjutnya yaitu Revolusi Sains, telah membantu manusia memperoleh kekuatan-kekuatan baru yang diinvestasikan pada penelitian sains. Sains menjadi pemain baru dalam tradisi pengetahuan manusia, yang memungkinkan manusia mendapatkan kekuasaan lewat penemuan-penemuan baru. Dari sini manusia mulai berpikir tentang gagasan kemajuan serta penaklukan. Penemuan ketidaktahuan dalam tradisi sains membuat manusia bergerak maju dengan berpegang teguh pada harapan akan masa depan. Namun seperti sebelum-sebelumnya, sains modern tak luput dari kekuasaan. Kemurnian sains sebagai suatu metode penelitian modern masih meninggalkan lubang besar. Harari menyebutkan bahwa sepanjang sejarah, manusia mengumpulkan banyak sekali hasil-hasil pengamatan empiris, namun arti penting dari pengamatan tersebut biasanya terbatas. Lubang tersebut kemudian diisi oleh kekuatan-kekuatan politik dan ekonomi. Inilah yang membuat sains tak dapat dilepaskan dari imperialisme dan kapitalisme. 

Revolusi sains tak pelak telah mengubah banyak aspek dalam kehidupan sosial, politik bahkan psikologis, dan mengalineasi manusia (hampir) sepenuhnya dari lingkungan alam dan keluarganya. Tujuan-tujuan manusia pun berubah, tak lagi sesederhana berburu dan mendapatkan makanan seperti yang dilakukan oleh nenek moyang, namun lebih-lebih memburu kekuatan-kekuatan adimanusia yang tidak terbatas. Harari kemudian mengaitkannya dengan konsep kebahagiaan, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti apakah dengan sains dan segala revolusinya membuat hidup manusia lebih bahagia? Apakah kekuatan dan kekayaan yang telah dikumpulkan manusia sepanjang sejarah telah mewujudkan suatu kepuasan baru dan membuka kebahagiaan yang tak habis-habisnya bagi manusia kelak? Apakah dengan segala pengetahuan yang kita miliki dapat menjadikan dunia sebagai tempat tinggal yang lebih baik? Apakah orang-orang modern lebih bahagia dibandingkan leluhurnya yang hidup ratusan ribu tahun lalu? 

Pada bagian penutup buku ini, Harari mengemukakan suatu pandangan yang menarik, yaitu tentang periode tamatnya Homo sapiens. Pada bagian awal buku, diceritakan bahwa sapiens hanyalah salah satu spesies makhluk hidup yang berada dalam permainan biologis – seleksi alam. Sebagai suatu bentuk kehidupan yang juga taat terhadap hukum-hukum alam selama lebih dari empat miliar tahun, kini sapiens berusaha untuk keluar dari batasan tersebut. Pada abad ke-21, Sapiens mulai mematahkan hukum-hukum seleksi alam dan menggantinya dengan hukum-hukum desain cerdas. Kejayaan seleksi alam makin terancam ketika Sapiens mulai menciptakan organisme-organisme baru yang tidak pernah dan tidak akan pernah bisa dihasilkan oleh alam. Sebut saja rekayasa biologis yang berlangsung di laboratorium-laboratorium seluruh dunia, yang menciptakan dan menggabungkan gen serta sel hewan, mengotak-atiknya hingga tercipta suatu bentuk organisme baru yang dibuat sesuai dengan keinginan. Rencana membangkitkan kembali mamut dan manusia neandertal pun sudah terdengar sangat ambisius – bahkan cenderung arogan – karena dengan begitu manusia mencoba untuk mengambil alih kekuasaan Tuhan dalam hal penciptaan dan juga perusakan. Kehidupan bionik yang menjadikan Sapiens sebagai makhluk siborg juga telah merubah hukum-hukum kehidupan, yang sama sekali baru, yang tidak perlu melibatkan evolusi alam yang terbatas. Proyek-proyek tersebut pada akhirnya mengarahkan kita pada satu pertanyaan riil yang harus dihadapi: “kita ingin menginginkan apa?”. Apalagi, terlepas dari segala hal-hal menakjubkan yang dilakukan, manusia tetap tak yakin tentang tujuan yang ingin mereka capai, dan lebih parah lagi manusia tak pernah merasa puas. Manusia yang akan segera mengambil alih kemampuan Tuhan ini, tidakkah akan menjadi lebih berbahaya, karena sifatnya yang selalu tidak puas, tidak bertanggung jawab dan tidak tahu apa yang diinginkan? 

Setelah saya menamatkan halaman terakhir, saya masih cukup gemetar dibuatnya, mengetahui bahwa Harari telah membuka dan mendobrak seluruh pengetahuan manusia tentang dirinya sendiri – tentang pengetahuan-pengetahuan polos yang selama ini kita miliki terhadap sejarah umat manusia. Tidak ada yang selalu putih dan selalu hitam, tak ada yang selalu baik dan selalu buruk, disitulah Harari selalu menekankan, bahwa sejarah sejatinya dapat berjalan ke arah-arah tertentu, dan semuanya tergantung kita, kemana kita akan mengarahkan nahkoda kapal sejarah kita: menuju kebahagiaan atau kehancuran. 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *