Saya, Jawa, dan Islam: Menelusuri Kembali Ruh Islam Jawa di Tengah Arus Perubahan

Judul Buku: Saya, Jawa dan Islam

Pengarang: Irfan Afifi

Penerbit: Tanda Baca

Tahun: 2019

Ulasan Oleh Bahiroh Adilah

Perjalanan saya membaca buku ini dimulai ketika pertama kali melihat judulnya, Saya, Jawa, dan Islam. Lalu saya terdiam sejenak, Jawa dan Islam adalah identitas saya dan saya merasa tidak tahu apa-apa tentang keduanya. Kembali saya tersadar bahwa ternyata selama ini belum benar-benar mentas dari jebakan existential crisis atau apalah itu.

Tidak hanya tentang ketidaktahuan tentang Jawa dan Islam, Irfan Afifi mengajak saya untuk menyelami sejarah tentang bagaimana Jawa dan Islam saling terkait atau saling berhadap-hadapan. Melalui buku ini, Irfan Afifi pun mengalami pergulatan diri untuk menelusuri identitas Jawa dan Islam dalam dirinya, yang akhirnya membawa saya dalam ‘perjalanan’ mengenali identitas yang sejak lahir melekat dalam diri saya sendiri.

Membaca buku ini membuat saya tersadar akan corak masyarakat Indonesia yang sejatinya lekat dengan adat dan tradisi dari berbagai suku dan budaya. Tapi mengapa corak adat dan tradisi tersebut terasa semakin menipis, bahkan nyaris hilang di masyarakat saat ini, yang kemudian oleh Irfan Afifi berusaha diurai dan dijabarkan menjadi tiga bab. Ketiga bab dalam buku ini membawa narasi utama tentang bagaimana kolonialisme dan modernitas memberikan dampak signifikan terhadap pengikisan adat dan tradisi di masyarakat saat ini, lebih spesifik lagi dalam konteks masyarakat Jawa Islam.

Melalui tulisannya, Irfan Afifi pun mengalami kebingungan dalam menelusuri dan mengurai sejarah bagaimana keterhubungan Jawa dengan Islam pertama kali melalui naskah-naskah Jawa kuno. Berbagai kajian yang ditemukan menarasikan wacana Jawa Islam yang serupa, yakni menyebutnya dengan Islam Sinkretik, hasil percampuran unsur-unsur lokal Jawa, keyakinan-keyakinan sebelumnya, dan Islam. Definisi tersebut yang terus menerus diproduksi ulang oleh kolonial dalam memandang keber-Islam-an masyarakat Jawa. Istilah “sinkretik” dalam Islam Sinkretik mengandung asumsi negatif terhadap Islam, mereka menganggap Islam sebagai sesuatu ‘yang lain’, ‘asing’, ‘tidak Jawa’, seolah-olah berusaha menciptakan imaji akan “Jawa asli” atau “Jawa esensial” yang belum terkontaminasi oleh unsur ‘asing’ bernama Islam. Dari situlah Irfan Afifi membaca keengganan mata kolonial dalam melihat Islam, serta berusaha menyangkal adanya keterhubungan Jawa dengan Islam. 

Lebih dalam lagi, buku ini tentu saja membahas tentang bagaimana karakter Islam Jawa yang kita kenal dengan Islam kejawen ini menubuh di masyarakat Jawa. Tentu juga kita mengenal para Wali Songo yang melakukan dakwahnya melalui seni, adat, dan tradisi wayang. Nilai-nilai Islam yang dibawa pun mengarah pada sufisme dengan tasawuf­-nya. Banyak pula ditemukan istilah suluk dan ngelmu dalam tulisan di buku ini, yang menjadi inti atau ruh dari Islam kejawen (tasawuf). Tentang perjalanan (suluk), menjadi lelaku atau laku manusia seutuhnya. 

Melalui penelusurannya dari banyak kajian, Irfan Afifi menemukan apa yang disebut dengan sangkan paraning dumadi, yang artinya asal dan tujuan hidup. Dalam praktiknya, kita mengenal dengan istilah ngelmu, ngelmu iku kelakone kanthi laku” (Serat Wedhatama), yang berarti perjalanan kita dalam belajar/menguasai ilmu itu dicapai dengan laku (olah diri). Makna ngelmu, suluk, dan laku di teks Serat Wedhatama sejatinya lebih dalam dan luas daripada itu. Kesemuanya diurai menjadi tahapan-tahapan suluk dalam mencapai yang disebut dengan laku, yakni berkaitan dengan syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat, dan buku ini akan sangat membantu untuk lebih memahami ajaran tasawuf Islam kejawen lebih dalam.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, suluk dan ngelmu merupakan sebuah upaya untuk menubuhkan identitas Islam dan Jawa melalui perjalanan yang spiritual. Sehingga dalam keberlangsungan hidupnya, manusia diajak dalam perjalanan menuju ke-“dalam”, karena pada akhirnya, ilmu lahir tidak untuk diri sendiri, melainkan ia merupakan jejak dari “proses” diri kita menjadi manusia. Lebih sederhananya, kita mengenalnya dengan sebutan olah karsa, cipta, jiwa, dan rasa.

Ajaran sufistik Islam tersebutlah yang kemudian melebur dalam adat dan tradisi masyarakat Jawa. Mungkin kita tidak asing dengan acara-acara selametan seperti tingkeban (selametan 7 bulan kandungan), tanam ari-ari bayi, selapanan (selametan ketika bayi genap berumur 35hari), ketika ada pernikahan dan juga kematian. Tradisi tersebut merupakan bagian dari perjalanan (suluk) kita sebagai manusia dalam mengungkapkan rasa syukur, duka, bahagia, dengan melibatkan ruang-ruang sosial dalam masyarakat adat Jawa. Masyarakat Jawa pun memiliki tradisi seni berupa wayang, yang dibawa oleh para wali dan lekat dengan nilai-nilai esoteris Islam. 

Membaca buku ini membawa saya mengenal kembali lebih dalam ajaran-ajaran yang sempat dekat semasa kecil dan tak lagi dirasakan saat ini. Ada perasaan yang familiar ketika membaca tulisan Irfan Afifi yang menggambarkan kehidupan dalam ruang-ruang masyarakat Islam kejawen. Ingatan-ingatan masa kecil yang terasa lebih sejuk dan tentram. Berada di ruang kecil yang rukun dan bagaimana masyarakat dulu melangsungkan kehidupannya begitu sederhana sekaligus spiritual, tanpa mengabaikan ruang-ruang sosial kolektif yang erat. Terjalin keseimbangan yang harmonis, antara hubungan diri dengan ruang ‘dalam’ (diri) dan ruang ‘luar’ (sosial). 

Berbeda dengan corak kehidupan masyarakat saat ini, setiap orang cenderung menarik diri dari masyarakat, yang kemudian mencerabut tradisi ruang-ruang kolektif di dalam masyarakatnya sendiri. Saya sebagai bagian dari Generasi Z, yang juga sempat merantau di kota besar metropolitan Surabaya, tak bisa dipungkiri telah menjadi individu ‘modern’. Ketika kembali ke desa asal, saya pun cenderung menarik diri dari kehidupan masyarakat desa. Ada penolakan yang cukup besar dengan ruang ‘luar’, begitupula ruang ‘dalam’ yang juga jarang sekali disentuh oleh diri saya sendiri. 

Sama halnya dengan corak Islam yang terus berubah hingga saat ini. Seperti yang dijabarkan di atas, corak Islam kejawen dulu lebih menekankan pada tauhid, bercirikan sufisme (tasawuf) dan hal-hal di wilayah esoteris Islam. Sedangkan corak Islam saat ini cenderung berfokus pada hal-hal di wilayah eksoteris saja. Hanya menekankan pada aspek syariat, sehingga terkesan hanya terbatas pada persoalan hitam dan putih. Corak saat ini justru lebih puritan, melakukan ofensif terhadap tradisi. Sebagian masyarakat lebih suka memantik perbedaan, menyerang segala usaha penubuhan Islam Nusantara dalam bentuk tradisi yang dilakukan para wali melalui seni wayang, dan dianggap sebagai bidah yang mendekatkan pada kemusyrikan. 

Berangkat dari kolonialisme yang sama, terdapat satu lagi pembahasan dalam buku ini yang saya rasa penting untuk diperbincangkan, yaitu subbab tentang bagaimana menjadi perempuan menurut perspektif masyarakat adat Jawa Islam. Membaca kembali paham orientalisme, “Selama Timur diamati dan dibicarakan lewat satu optik pengetahuan yang dikembangkan di Barat, maka tidak akan ada pertukaran pengetahuan. Barat akan selalu berada di atas dan Timur berada di bawah”, (Edward Said, Orientalism, 1995). Bahwa narasi feminisme saat ini terlalu riuh dengan narasi progresif ala Barat yang cenderung mengerdilkan unsur tradisi dari suatu masyarakat. Adat, tradisi, budaya, dan agama dianggap sebagai ancaman utama tertindasnya perempuan. Wacana pascakolonial semacam itu yang terus dikembangkan dan akhirnya menjadi narasi utama. 

Arus modernitas yang cukup gencar membuat adanya pergeseran definisi dalam masyarakat adat. Peran ibu rumah tangga dianggap sebagai domestifikasi semata yang menjadi akibat dari bayang-bayang hegemoni patriarkis, dan ketika perempuan mampu berperan di luar rumah, seketika mereka berhasil ter-emansipasi-kan dari ketertindasan. Sedangkan perspektif masyarakat adat, khususnya Jawa Islam, peran domestik perempuan merupakan peran sosial yang penting. Keluarga merupakan bagian dari unit sosial dalam ruang masyarakat yang lebih luas, peran domestik dalam keluarga menjadi sangat penting untuk memperteguh dan menjaga keselarasan harmoni dalam keberlangsungan hidup masyarakat adat. 

Seperti yang telah dibahas sebelumnya mengenai suluk, ngelmu, dan laku, ruh masyarakat adat Jawa Islam tidak bisa dipersempit dengan takaran pandangan Barat akan bagaimana seorang perempuan—lebih lagi seorang manusia, menjalankan hidupnya atas tumpuan dan tujuan tertentu. Dengan keseluruhan konteks dalam buku ini, saya pun merasa lebih memahami sekaligus merasa terasingkan dari ke-Islam-an dan ke-Jawa-an saya sendiri, seperti kehilangan identitas di tengah arus perubahan yang pesat. Buku ini membuat saya sampai pada perenungan tentang bagaimana seharusnya saya kembali menegaskan darimana saya berasal dan akan mengarah kemana, bagaimana menemukan kembali keterhubungan kita sebagai manusia, bagaimana mengembalikan ruang-ruang tradisi untuk merawat hidup bersama-sama. Serta merujuk kembali ke pertanyaan besar dalam buku ini, haruskah sebuah masyarakat dikembangkan mengikuti suatu gagasan yang tidak cocok dengan bentuk nyata masyarakat tersebut?

Leave a Comment

Your email address will not be published.