Selesaikan dengan Marie Kondo


Oleh: Aldinza Muhammad

Aku punya cerita tentang kabar baik dan kabar buruk. Dan karena sepertinya lebih banyak cerita tentang kabar buruk, akan kuceritakan bagian kabar baik lebih dulu. Kabar baiknya adalah sudah dua minggu aku tak melakukan seks dengan Jodi. Maksudku, bukan berarti aku sudah tak mencintai Jodi atau Jodi pemain yang buruk. Ia, jika hebat adalah berlebihan, bisa kukatakan lumayan di atas ranjang. Setidaknya ia tahu kalau seks bukan hanya soal memasukan sesuatu ke dalam sesuatu. Cukup. Sampai situ saja kabar baiknya, selanjutnya adalah kabar buruk, dan bersiaplah, karena ini agak panjang.

Kabar buruknya adalah penyebab dari perpisahan kami. itu dimulai pada suatu pagi di hari senin. Aku terbangun dengan terburu-buru karena malam harinya kebanyakan minum dengan Jodi di ruang tamu. Aku tertidur di Sofa dan Jodi entah tidur di mana. Yang jelas, ruang tamu yang berantakan adalah satu-satunya yang menyambutku pagi itu. Aku berjalan ke kamar mandi sambil menahan kesadaran, mencuci muka, dan menatap cermin sebentar. Betapa kacau diriku waktu itu. Tapi kekacauan apapun yang terjadi padaku atau pada ruang tamuku, bosku tak akan peduli dan artinya aku harus segera mandi, tidak, aku tak perlu mandi, cukup mencuci rambut, muka, gosok gigi, dan menyemprotkan parfum di sekujur tubuh, berganti pakaian, memoles singkat bibirku dengan lipstick yang tinggal sepanjang ruas jari telunjuk (aku tak percaya aku masih bisa tertawa kecil karena benda itu sudah lebih mirip crayon warna patah). Semua kukerjakan dengan singkat dan cepat. Sesuatu yang menjadi keahlianku. Keahlian yang harus kumiliki sebagai konsekuensi dari bakatku yang lain: sulit mengatur waktu.

Di tengah perjalanan ke kantor, barulah aku ingat pada Jodi yang tak kelihatan sama sekali. Aku mengambil ponsel dari saku blazer, menelponnya. Tak diangkat. Aku meninggalkan pesan untuk membereskan rumah karena bagaimanapun kekacauan itu separuh adalah ulahnya juga, dan separuh bagianku, kupikir sudah kubayar dengan bekerja. Jodi, jika tak bisa dikatakan pengangguran, adalah seorang penulis lepas. Dan pekerjaan apapun yang diiringi kata ‘lepas’ di belakangnya adalah pekerjaan dengan penghasilan mengenaskan. Sesuatu yang sama sekali tak bisa disebut profesi, setidaknya itu menurutku. Tapi aku tak pernah bilang hal itu padanya.

Aku pulang pukul tujuh malam dengan tubuh lengket. Bekerja, bagaimanapun, memang sangat melelahkan. Dan menyenangkan jika kau bisa berbagi kelelahan dan saling menghibur dengan seseorang, setidaknya itu yang kupikirkan dan menjadi salah satu alasanku menikah dengan Jodi.

Apartemen kami murah dan sempit dan tak banyak yang bisa kau lakukan di tempat tinggal yang ‘murah’ dan ‘sempit’ selain mengotorinya atau syukur-syukur tidak membakarnya tanpa sadar karena pasanganmu punya hobi luar biasa, menjentikkan abu rokok ke sembarang tempat kecuali asbak. Untuk urusan itu, Jodi sudah berkali-kali kuperingatkan dan menanyakannya, apa ia benar-benar ingin membakar kami berdua? Jawabannya sungguh sesuatu. Katanya, aku akan bersamamu meski itu menuju kegelapan abadi, atau menuju panas api, atau menuju gigil es. Aku tahu ia baru saja mengutip Dante. Ia agak gila dan aku mencintainya. Tapi malam itu adalah batasku.

Aku masuk dan mendapati kondisi apartemen tak berubah. Malah, semakin menyedihkan dengan bau alcohol yang menguap karena panas ruangan. Aku memanggil-manggil Jodi dan mendapati ia di kamar sambil membuka sebuah buku berjudul The Life-Changing Magic of Tidying Up, Marie Kondo. Aku tak tahu harus marah atau tertawa. Kutanyakan padanya, kenapa ia tak membersihkan kekacauan di ruang tamu dan jawabannya sungguh tidak lucu. Bersih-bersih bukan tujuan. Tujuannya adalah menciptakan gaya hidup yang benar-benar kau inginkan, jawabnya. Aku meledak sambil berteriak, gaya hidup kepalamu! atau kalimat semacam itu. Melihatku berang, ia bangkit dan berusaha merangkulku atau apalah aku sudah tidak peduli. Aku pergi keluar sambil sedikit membanting pintu.

Jodi, dengan segala kelakukannya, memang kadang menggemaskan dan merupakan teman ngobrol yang hebat. Dan kukatakan dengan jelas saja, mungkin cuma itu kelebihannya. Aku masuk ke sebuah restoran cepat saji dan memesan kentang goreng. Sambil duduk di sisi dekat jendela aku melihat jalan.

Jika dipikir-pikir, semenjak tinggal bersamanya, aku jadi tahu Jodi adalah orang yang menarik. Dan hanya itu, seorang laki-laki dengan cara pikir menarik. Hanya itu. Ia nyaris tak pernah melakukan sesuatu dengan benar. Ia tak pernah melakukan sesuatu yang benar-benar untukku. Maksudku, sesuatu seperti membantu pekerjaanku atau hadiah. Mungkin ia menganggapku hanya sebagai teman mengobrol di tengah keasyikannya dengan pikirannya sendiri. Aku melihat pantulan samar wajahku di jendela. Aku menangis.

Dan begitulah, setelah malam itu,  aku tak pulang dan meminjam apartemen Clara, adikku, yang pergi keluar kota untuk sementara. Aku mengirimi Jodi pesan sebelum aku memutuskan untuk tinggal di tempat Clara. Intinya, kukatakan kalau aku capek dan mau menyendiri. Beruntung Clara pergi dengan meninggalkan baju yang cukup. Aku bisa bekerja seperti biasa. Dan kehidupan mulai tampak berjalan seperti biasa setelah dua minggu berlalu. Dan selama dua minggu, tak ada pesan balasan dari Jodi.

Suatu malam, aku memutuskan untuk mengendap-endap pulang. Itu kira-kira pukul satu dini hari. Kuharap Jodi sudah tidur dan kami bisa menghindari pertengkaran yang mungkin terjadi. Aku membuka pintu apartemen dengan halus dan perlahan. Bau aneh melolos lembut. Yang kumaksud aneh di sini adalah bau wangi. Sesuatu yang aneh mengingat bagaimana Jodi memberlakukan tempat tinggal kami selama ini. Dan keanehan itu semakin nyata ketika aku mendapati ruang tamu yang begitu rapi. Tak ada barang-barang yang tak perlu. Semua perabot seperti berada di tempatnya dengan benar. Aku berjalan, dengan berjinjit, mengitari ruangan, menakjubi apa yang kulihat. Seperti bukan tempat tinggal kami saja. Lalu ponselku, yang lupa kusetel dalam mode senyap, mengeluarkan bunyi dan itu membuatku kaget. Jantungku seperti mau melompat. Aku meraih ponselku dan memegangnya erat seolah berusaha membungkamnya. Di layar, muncul notifikasi pesan dari Jodi. Isinya, pulanglah, aku minta maaf, aku ada kejutan. Aku mengitarkan pandangan. Sejauh ini Jodi  belum terlihat. Mungkin ia di kamar.

Pintu kamar tertutup tapi tak dikunci. Aku mendorongnya dengan sangat hati-hati. Dan dari celah yang terbuka sedikit, aku melihat Jodi sedang menata kasur kami sambil beberapa kali menyemprotkan parfum ke sepreinya. Ada vas bunga berisi mawar di meja tempat lampu tidur. Dan sebuah kotak. Aku mengirup nafas dalam-dalam, mundur, dan keluar apartemen tanpa terdeteksi.

Setelah sampai di luar apartemen, aku menunggu beberapa saat, lalu berpura-pura mengetuk pintu. Tak lama, Jodi keluar dengan wajah lesu yang kurindukan. Ia mempersilahkanku masuk. Aku tak mengatakan apapun dan masuk. Keheningan mengambil alih ruang di antara kami. tapi tak lama, ia berkata, aku minta maaf.

Dari mana ide semua ini? Tanyaku tanpa menatap wajahnya. Jodi menunjuk sebuah buku yang tergeletak di meja ruang tamu, The Life-Changing Magic of Tidying Up, Marie Kondo. Aku tersenyum. Lalu rasa iseng mendorongku bertanya lagi, dan?

Kemudian ia menarikku halus ke dalam kamar, mengambil kotak kecil yang tadi kuperhatikan. Memberikannya padaku dengan wajah malu yang menggemaskan. Isinya adalah kalung yang tidak terlalu buruk. Uang dari mana? Tanyaku sambil berusaha keras menahan senyum. Pinjam teman, katanya. Ya ampun, siapa yang mau bayar? Tanyaku. Ia menggaruk bagian belakang kepalanya lalu berkata, selain menulis, ia akan membantu pekerjaanku mulai sekarang. Sampai pada tahap itu, aku sudah tak bisa menahan senyum dan kusuruh ia memelukku.  Jadi intinya aku yang harus bayar nih? Kataku dari balik lehernya. Sebelum ia menjawab kukatakan, boleh saja, tapi kau harus cuci piring, bersih-bersih rumah, dan memijatku sekali-kali. Intinya, aku akan jadi pembantumu kan? Katanya. Ya, setidaknya sampai kalung ini lunas.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *