Teater Cicak

Cerpen oleh Robbyan Abel Ramdhon

Ilustrasi oleh Fauzi Brilliawan M

Albert dan Jong naik ke kasur dengan gerakan yang super hati-hati. Keringat mereka langsung tercetak di seprai biru, membuat seprai itu tampak seperti langit di hari terakhir musim hujan. Di balik selimut setipis kertas, Jong menempelkan pipinya di dada kiri Albert. Dia bisa merasakan jantung Albert berdegup kuat dari balik kulit dadanya, bagaikan pintu tripleks yang diketuk secara berlebihan.

Perlahan-lahan jantung itu menurunkan tensi ketukannya, menandakan adrenalin setelah bercinta mulai mereda.

            “Di sini gelap,” kata Jong.

            “Persis hidupku sebelum kenal kamu,” kata Albert, menyeringai dalam kegelapan selimut. Percaya rayuannya adalah pukulan telak.

            Albert sebelum mengenal Jong adalah seorang atlet bola profesional. Bahkan bisa dibilang, dia adalah pemain berbakat yang cukup diandalkan dalam tim. Staminanya bagai stamina kuda, kakinya juga bagaikan kaki kuda. Dia merupakan pemain yang gesit dan tangguh. Belum lagi kemampuan analisisnya yang punya tingkat akurasi nyaris selalu tepat. Selama menjaga gawang untuk timnya, hampir dalam seratus pertandingan, Albert hanya kebobolan gol sedikitnya cuma enam kali. Jong tak pernah bosan mendengar cerita tentang masa lalu pacarnya itu. Tiap kali Albert bercerita, Jong membayangkan sedang berada di tribun terdepan lapangan untuk mendukungnya.

            “Aku sering membayangkan, bohlam itu menjelma menara Eiffel, dan cicak-cicak yang berada di sekitarnya adalah orang-orang yang mencari teman bercinta,” kata Albert setelah menurunkan selimut ke dada. Telunjuknya mengikuti gerakan seekor cicak pucat yang menempel di langit-langit kamar, dekat bohlam bercahaya lemah.

            “Kenapa cicak berkumpul di sekitar bohlam?” tanya Jong.

            Albert memiringkan kepalanya, seolah menumpahkan jawaban yang menempel di dinding kepala, ke otaknya. “Mungkin karena di sana banyak serangga seperti nyamuk atau semacamnya itu. Ya, aku sering lihat banyak serangga mencari sumber penerangan padahal mestinya, mereka tahu di situ bahaya. Tapi mereka tetap melakukannya, entah untuk apa.” katanya, seraya mengelus punggung Jong. Punggung Jong halus, juga lebar. Di bagian dekat pinggangnya, ada dua, atau tiga, lipatan lemak yang tersusun rapi.

            “Pernah lihat kunang-kunang?” tanya Jong. Suaranya yang lirih membawa angin lembut dari bibirnya. Angin lembut yang mengelus puting susu Albert.

            “Tidak pernah lihat, tapi pernah baca cerita pendek tentang kunang-kunang.”

            “Bagus?”

            “Jelek. Jelek sekali.”

            Jong tidak memberi tanggapan. Tenaga yang dihabiskan untuk bercinta membuat otaknya malas berpikir. Dan ia tahu, Albert juga menghabiskan tenaga dua kali lipat lebih banyak darinya – sebab dialah yang mengendalikan permainan seks mereka. Selama ini, Albert memang selalu menjawab semua pertanyaan-pertanyaan Jong. Sekalipun kebanyakan pertanyaan tidak penting. Cinta cenderung membuat manusia merasa superior, dan selalu mati-matian ingin terlihat pintar di hadapan orang yang dicintai. Albert merasa demikian, dan Jong mendukungnya agar tetap menjaga perasaan superior itu. Tetapi kali ini, Jong cuma ingin bicara yang ringan-ringan saja, yang tidak butuh banyak tenaga untuk berpikir.

            “Ada yang datang lagi,” kata Jong, menunjuk cicak pucat lain. Ia menaruh kepalanya di samping kepala Albert. Albert menggeser kepalanya sedikit. Bantal yang mereka jadikan sandaran nyaris kehilangan esensi karena tidak empuk sama sekali. Tipis, bagaikan dua lapis kain berbentuk persegi yang dijahit menjadi pembungkus angin.

            “Mau main teater cicak?” tanya Albert.

            “Teater cicak?”

            “Aku berperan sebagai cicak yang itu, yang ekornya bercabang, dan kamu berperan sebagai cicak yang satunya, yang kelihatan normal. Kita berdialog seolah-olah menjadi mereka.” Albert menunjuk dua cicak pucat yang menempel di sekitar bohlam. Cicak-cicak itu kebetulan sedang berhadap-hadapan bagaikan sibuk berdebat.

Jong mengangguk sambil tetap bersandar di bantal. Merapikan poni supaya tak menghalangi pandangannya. Lalu memulai dialog sebagai salah satu cicak yang menempel di sekitar bohlam.

            “Selamat malam, cowok tampan. Mau main denganku?”

            Jong cekikikan. Geli mendengar suaranya sendiri yang dibuat-buat supaya terkesan aneh. “Giliranmu,” kata Jong, dengan suara normal.

Albert memerankan cicak yang satunya, menjawab:

“Buka harga berapa?”

“Tak terhingga, sih. Aku pelacur mahal.”

“Berarti kita tidak usah main. Aku tidak punya uang sebanyak tak terhingga itu.”

Mereka tertawa. Jong melipat bibirnya ke dalam mulut, lalu cepat-cepat menyumpal mulut Albert dengan telapak tangannya. “Nanti ketahuan sipir.” Albert mengangguk dalam sekapan itu. Tetapi matanya berair karena menahan tawa.

“Sudah?” tanya Jong.

“Sudah,” jawab Albert. Dia menghelas napas.

“Oke, lanjut. Giliranku.” Jong mengernyit, melipat tangannya ke dada. “Kalau begitu jangan bayar pakai uang, dong…”

            Albert diam, mengerti bahwa dialog Jong belum selesai.

            “Bayar pakai pengabdian,” kata Jong, menuntaskan dialognya sebagai cicak perempuan.

            “Pengabdian…” Albert mengulang dialog Jong, seakan memikirkan jawaban atas penawaran itu. Ia memiringkan kepala lagi, sambil melihat pendar cahaya yang menari di sekitar bohlam. “Kamu fasis,” jawab Albert. Suaranya terdengar lebih berat ketimbang suara buatan Jong.

            “Aku suka jadi fasis,” kata Jong.

            “Untung kamu cantik, Nona. Ekormu seperti bulan sabit. Matamu yang lebar itu mengingatkanku pada danau yang berada di sebuah puncak gunung,” kata Albert. Dia memang kebetulan mengingat danau di sebuah puncak gunung. Saat masih aktif di tim sepak bola, Albert dan teman-temannya pernah melatih stamina dengan berlari sampai ke puncak gunung yang ada danaunya itu.

            “Terima kasih pujiannya. Tapi kamu bukan orang yang pertama mengatakan aku cantik. Dan kamu beruntung, aku juga tidak menilai kualitas cowok dari caranya merayu.”

            “Lantas dengan apa?”

            “Dengan langsung membuktikannya di siini–” Jong menyusupkan tangannya ke dalam selimut. Meremas pelir Albert. “Pistol ajaib.”

            “Pistol yang bukan punya polisi?”

            “Ehm.”

            “Bagaimana hasilnya setelah kamu membuktikan secara langsung?” tanya Albert, menahan serangan nyeri di bagian bawah tubuhnya.

            “Tidak begitu buruk. Kebanyakan cowok di kelab malam tempatku bekerja dulu tak punya kemampuan seluar-biasa kamu. Seolah-olah burung mereka ikut lunglai ketika mabuk.”

            Albert diam. Menimbang-nimbang apakah dia perlu melakukan protes atas banyaknya intervensi pengarang pada tokoh cicak yang sedang dibangun dalam cerita. Kepada teman pengarangnya yang melakukan intervensi itu: “Kenapa banyak melibatkan pengalaman personal?”kata Albert, menyepak tangan Jong dari pelirnya.

            “Memangnya tidak boleh?”

            “Tidak boleh. Karena tidak ada urusannya dengan cerita yang sedang kita buat.”

            “Hukum Chekhov?”tanya Jong. Tanpa nada tanya. Dulu Jong banyak baca buku, termasuk karya-karya Chekhov. Ia punya banyak waktu sebelum dapat pelanggan. Sekali menunggu, Jong biasanya punya waktu sampai lebih dari dua jam. Bagi pelacur gay seperti dia, dua jam sudah terbilang cepat. Sedangkan jika pelacur perempuan, sudah menunggu sampai dua jam tapi belum dapat pelanggan, sudah pasti itu adalah petaka dan sebaiknya bunuh diri saja. Demikianlah yang sering diucapkan Jong kepada pelacur gay junior yang butuh motivasi. “Kok kamu pintar, sih?”kata Jong, menyambung pertanyaan.

            “Siapa itu Chekhov? Dan apa hubungannya dengan kepintaranku?

            “Dia orang pintar, sama seperti kamu. Tapi kamu sepertinya lebih pintar dari dia.”

            Mereka tertawa kecil. Memiringkan badan sampai berhadap-hadapan. Lalu berciuman begitu saja. Seolah-olah suasana sedang mengharuskan mereka melakukan itu.

            “Omong-omong, kita sudah melenceng jauh dari cerita teater cicak,” kata Jong, bicara di depan bibir Albert. Jaraknya kurang dari seinci.

            Albert menengok langit-langit, tergambar reaksi aneh di wajahnya. Jong mengikuti arah pandangan Albert. Mereka melihat ada cicak ketiga, memasuki panggung.

            “Bagaimana ini?” tanya Jong.

            “Apa boleh buat, salah satu dari kita harus merangkap jadi orang ketiga. Biar bagaimanapun, teater cicak harus berlanjut.”

            Berperan sebagai cicak ketiga: “Kalau tidak mampu bayar, biar Nona ini bersamaku saja,” kata Jong. Suaranya tidak jauh berbeda dengan saat ia memerankan cicak sebelumnya. Tetapi ia menambah kesan sinis pada karakter cicak ketiga ini.

            “Tadi itu kamu berperan sebagai tokoh cicak ketiga?”

            “Tidak boleh?”

            Albert tidak berkata lagi. Dia menghirup udara dari mulutnya. Lalu memulai dialog.

            “Sebentar, Bung. Bung ini siapa? Kulit kepala Bung sepertinya sedikit cidera. Lebih baik diobati dulu, baru datang ke sini.”

“Kita bisa bermain bertiga, bersama-sama, kalau kalian tidak keberatan?” kata Jong. Memerankan cicak perempuan, bagai melerai pertengkaran antara dua cicak lelaki untuk membatalkan ledakan konflik di antara mereka.

            “Memangnya bisa?” tanya Albert. Memerankan cicak laki-laki yang pertama.

            “Aku pernah melakukannya bersama para cicak di kamar penjara yang lain. Kami main bertiga. Kadang bisa lebih kalau lagi nekat. Apalagi, sipir juga mau bungkam kalau diajak ikut bermain.”

            “Aku sering mendengar kabar tentang kehebatan permainanmu, Nona!” kata Jong lagi. Menanggapi cicak perempuan yang diperankannya melalui cicak laki-laki yang diperankannya.

            “Kamu sungguh pernah melakukan itu? Bahkan dengan sipir?” tanya Albert. Suaranya sempat tertahan di tenggorokan, namun berhasil dilepas dengan suara normal, dengan sedikit mengusung percikan amarah.

            “Ehm. Pernah, sebelum kenal kamu.”

Suara Jong mengandung keraguan.

            Albert memalingkan badannya, membelakangi Jong. Caranya membalikkan badan yang kasar, tanpa berhati-hati, mengakibatkan ranjang besi yang mereka gunakan menguarkan bunyi “krek” secara berurutan,seperti gerakan suara yang mengikuti efek domino. Suara-suara itu pergi menyelinap satu-persatu, keluar melalui celah yang terbuka di bawah pintu kamar. Setelah berhasil keluar, mereka lantas disapu angin dan menggelinding di lorong penjara yang sepi. Mungkin beberapa tahanan yang belum tidur, atau juga sedang bercinta dengan pasangan­ mereka, menyadari kehadiran suara-suara yang melintas. Penjara yang mereka tempati terdiri dari kamar-kamar dengan gagang pintu yang hanya berada di bagian muka. Masing-masing gembok yang digunakan untuk mengunci pintu-pintu kamar penjara nyaris tak pernah dipakai. Mungkin sama sekali tak pernah dipakai. Dalam bangunan penjara bertingkat itu, cuma ada satu pintu yang menjadi jalan masuk menuju gedung penjara, dan satu gerbang yang menjadi jalan masuk menuju area penjara. Area dalam hal ini bisa juga dipahami sebagai lapangan gersang yang sering dipakai para tahanan untuk berolahraga. Hanya dua jalan masuk itulah yang dijaga secara ketat. Ditambah satu panoptikon yang lumayan aktif mengawasi tahanan pada waktu-waktu kerja para sipir. Menjelang malam, para petugas penjara berangsur-angsur pulang. Kecuali dua orang yang bertugas menjaga pintu masuk utama dan dua orang yang menjaga gerbang masuk utama, dan dua orang lagi berpatroli pada waktu-waktu tertentu di dalam gedung penjara. Total ada enam petugas yang aktif berjaga pada malam hari. Dan kemungkinan, dua petugas yang berpatroli di dalam gedung sudah mendengar bunyi “krek” yang timbul dari gerakan kasar Albert saat membalik badan.

            Albert memandangi lantai di sekitar ranjang besi, seakan melihat sisa-sisa keringat mereka yang menguap saat bercinta di bawah. Jong memainkan telunjuk di punggung Albert, mengikuti garis tato yang menggambarkan wajah seorang atlet bola terkenal; René Higuita. Kiper asal Kolombia yang dijuluki Si Gila karena aksi-aksinya memang seringkali tidak wajar, setidaknya demikianlah penilaian banyak orang. Scorpion Kick, salah satu aksinya yang paling fenomenal. Ketika bola melambung ke gawangnya dari sepakan pemain asal Inggris Jamie Redknapp, Si Gila seolah tanpa berpikir, langsung melompat dengan posisi seperti akan tersungkur, dengan kaki ditarik melengkung bagai ekor kalajengking. Singkatnya, bola pun mengenai ekor kalajengking itu dan memantul menjauhi gawang. Kadang-kadang, Albert menggunakan gaya Scorpion Kick saat bercinta dengan Jong. Tetapi tidak ada bola yang perlu dipantulkan. Dia hanya menahan tubuhnya dengan menjadikan tubuh Jong sebagai poros tumpuan. Sementara “pistolnya” tenggelam di lubang pantat Jong. Scorpion Kick yang mengambang. Seperti sedang berada di atas daun teratai pada permukaan danau yang tenang.

            “Ayo, main scorpion kick, sekali lagi. Sebelum sipir datang membawaku kembali ke kamar,” kata Jong. Telunjuknya masih bermain-main di punggung Albert.

            “Besok pagi aku sudah dibebaskan dari status tahanan, ini adalah malam terakhir kita. Tetapi apakah perpisahan perlu semenyakitkan ini?”

            “Perpisahan memang menyakitkan, Sayang,” kata Jong. Meminjam suara tokoh cicak perempuan yang ia perankan.

            “Aku tidak akan membiarkanmu bermain dengan orang lain lagi!”

            “Bagaimana caranya, sedangkan besok kamu sudah tidak ada di sini.” Meski ada kata “bagaimana”, sesungguhnya kalimat Jong tidak bernada. Suaranya terdengar netral. Tidak terdengar seperti pernyataan atau pertanyaan.

            Albert merangkak ke lantai. Seperti kalajengking yang bergerak hati-hati di tengah gurun pasir. Jong mengikutinya, dengan cara yang sama. Kini ada dua kalajengking yang hendak melakukan pertarungan sengit. Jong menyadari pertarungan itu adalah pertarungan terakhir sebelum Albert meninggalkannya. Kesadaran itu membawa ingatannya pada kenangan saat mereka pertama kali berjumpa. Jong lebih dulu menjadi penghuni penjara. Ia ditahan karena menggigit pelir seorang pelanggan sampai tercerabut karena alasan balas dendam. Kabarnya, pelanggan itu telah membius salah satu junior Jong sampai overdosis dan memperkosanya dengan keji sampai meninggal. Ketika dapat kesempatan balas dendam, Jong pun langsung melakukannya tanpa banyak pikir. Sementara itu, Albert ditahan karena membunuh pacarnya yang ketahuan selingkuh. Dalam surat kabar yang beredar, tertulis bahwa Albert menggantung leher pacarnya di balkon apartemen yang mereka tempati bersama. Kabar tentang kejahatan Albert tersebar di penjara di hari pertamanya menjadi tahanan. Jong yang sudah menjadi senior tahanan pembunuhan, memperkenalkannya pada laku-laku kehidupan di penjara. Hingga mereka menjadi akrab. Lebih dari akrab.

            Jong dibawa kembali ke kamarnya oleh dua sipir yang berpatroli pada waktu menjelang dini hari. Mereka masuk saat Albert melakukan scorpion kick di atas tubuh Jong yang sedang menungging seperti penggaris segitiga. Kedua sipir itu tidak berkomentar apa pun. Wajah mereka justru menunjukkan ekspresi iba kepada keduanya, dengan guratan kantuk akibat berjaga malam.

Menjelang subuh, Albert membuka pintu kamarnya dan mengendap-endap menaiki tangga, hendak menuju kamar Jong. Adegan perpisahan yang romantis terbayang di kepalanya seiring langkahnya berayun. Namun saat tiba di lorong penjara menuju dekat kamar Jong, langkah Albert mendadak terhenti saat mendengar suara desahan yang sensual keluar dari celah bagian bawah pintu kamar Jong, melintas, melewati Albert begitu saja, menggelinding di sepanjang lorong penjara di belakangnya. Albert kembali mengayuh langkahnya. Ketika akhirnya berdiri di depan pintu kamar Jong yang tertutup, kepala Albert sudah dipenuhi dialog-dialog teater cicak dan bayangan permainan seks gaya scorpion kick. “Tokoh cicak ketiga segera memasuki panggung,” katanya.***

Biodata Penulis:

Robbyan Abel Ramdhon, adalah cerpenis sekaligus esais asal Lombok, Nusa Tenggara Barat. Tulisan-tulisannya terbit di berbagai media, baik cetak dan digital. Belakangan salah satu cerpennya menjadi juara pertama dalam sayembara cerpen nasional Walhi. Sehari-hari bergiat di Komunitas Akarpohon Mataram.

Leave a Comment

Your email address will not be published.