Tengkorak: Sebuah Fiksi Sains Sosial dalam Kisah Menuju Kiamat


Oleh: Aldinza Muhammad

Tak banyak film fiksi sains lokal yang tampil di layar lebar, dan di antara yang sedikit itu, hanya segelintir yang menawarkan cerita segar. Tengkorak (2016), film kolosal yang dikerjakan selama lebih dari 2 tahun, menyuguhkan narasi yang sedikit banyak menantang kemapanan plot fiksi sains Hollywood. Sains tak hanya disuguhkan dalam bentuk kecanggihan teknologi yang penuh kerlap kerlip lampu indicator komputer atau kehadiran eksistensi biologis baru akibat eksperimen di sebuah laboratorium super rahasia, melainkan sains disuguhkan sebagai sebentuk gejolak sosial masyarakat suatu negeri, hal-hal yang terjadi di sekitar kita, dan jika kita mau merenung sedikit lebih lama, itulah sains sosial. Maka saya tak segan menyebut Tengkorak sebagai film fiksi sains sosial.

Dimulai dari tembakan dari pesawat kamera yang menyorot pegunungan di daerah bantul pasca gempa bumi yang meluluh-lantakkan Yogyakarta pada 2006, elemen misteri dihidangkan besar-besar dengan menunjukkan wujud tengkorak sebesar gunung. Dari sinilah segalanya bermula. Gempa traumatik bagi sebagian besar masyarakat Yogyakarta yang sungguhan terjadi pada 2006 itu meruntuhkan bebatuan di wilayah pegunungan Bantul, dan menguak apa yang bersemayam di dalamnya: Tengkorak raksasa.

Alih-alih berkutat membicarakan keberadaan tengkorak atau eksplorasi teknologi, film ini justru sarat menyorot gejolak masyarakat atas kehadiran wujud menggemparkan itu. Lengkap dengan penghadiran apparatus negara, baik media maupun senjata, dalam usahanya mengendalikan keadaan dan menguasai pengetahuan. Dalam pandangan Focaoult, pengetahuan merupakan reduksi wacana yang terstruktur, dan kebenaran  adalah wacana yang dominan dalam sebuah struktur masyarakat (Focault, 2002). Dominasi wacana oleh pemerintah melalui media, dan menguburan wacana pembanding menggunakan senjata, mempertebal nuansa relasi kuasa yang terjadi antara pemerintah dan rakyat sipil dalam film ini. Dibentuknya Tim Kamboja yang berisi masyarakat sipil untuk menghabisi sipil demi tujuan tersebut, tentu bisa ditelusur jauh ke sejarah Indonesia, yang merupakan latar tempat dari film ini. Saat-saat ketika ordo Soeharto berkuasa dan mengaktifkan “Pam Swakarsa” hingga “Petrus”. Film ini menunjukkan dengan akrab, setidaknya pada penonton Indonesia, bahwa pemerintah, tak segan menumpahkan darah dan mengadu sipil demi menjaga kekuasaan atas kebenaran.

Yos, tokoh utama dalam film ini, yang merupakan anggota Tim Kamboja mengkhianati kelompoknya demi seorang wanita yang secara tak sengaja menjadi kurir informasi dari mata-mata CIA, Prof. Philip, yang juga bekerja sebagai tim peneliti Situs Tengkorak. Semenjak penghianatan Yos, film bergerak cepat, mengikuti alur plot, yang setidaknya akan kita kira sama belaka dengan plot film Hollywood: dua tokoh utama lari kejar-kejaran oleh otoritas antagonis dan berakhir menyelamatkan dunia. Namun, sebagaimana yang dikatakan penulis sebelumnya, film ini sedikit banyak menantang kemapanan plot Hollywood. Yos dibikin mati di paruh pertama film akibat granat. Dan sang kurir, Ani, kemudian berganti partner dengan seorang pensiunan tentara -sosok yang mengajak Yos bergabung dengan Tim Kamboja- melanjutkan petualangan untuk menguak apa yang sebenarnya terjadi di Situs Tengkorak.

Sepanjang film berjalan, kita akan didudukkan sebagai orang awam yang tak pernah tahu apa yang berada di balik Situs Tengkorak, bahkan melengkapi itu, kita dibombardir informasi dari cuplikan-cuplikan media dan ucapan-ucapan para tokoh dan ahli yang salin berlawanan. Hal ini membuat kita sadar bahwa, sebagai masyarakat sipil nan awam, realitas kita dibentuk oleh media. Gejolak masyarakat juga disulut oleh informasi yang ditebar media. Dan tiba-tiba kita sampai pada keputusan pemerintah Indonesia meledakkan situs tersebut dengan ongkos ganti pelunasan hutang dan grant sebanyak 28 miliar dollar dari IMF. Masyarakat sipil ditampilkan sebagai gemuruh ramai yang tak memberikan arah signifikan pada perkembangan plot film (setidaknya sebelum film memasuki babak akhir). Plot tetap digerakkan oleh tangan-tangan di belakang layar, dan kita hanya mengerti sesuatu dari ucapan-ucapan singkat di media atau rilisan normatif pemerintah.

Beberapa scene dengan gamblang menceritakan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang reaktif. Pada menit ke 74 digambarkan sekelompok orang membentuk sekte penyembah tengkorak, di menit 77 digambarkan orang-orang yang panic dan berbondong-bondong mengungsi meninggalkan Yogyakarta, di menit 78 digambarkan demonstrasi besar-besaran di beberapa titik di kota-kota besar di Indonesia. Gejolak-gejolak sosial akibat kemunculan tengkorak raksasa ini yang lebih sering ditampilkan sepanjang film, mengukuhkan bahwa film ini berusaha memperlihatkan sains sosial juga bekerja dalam tiap kehadiran sains eksakta.

Semiotika Kiamat

Sebagai penonton yang diposisikan sebagai penduduk sipil dan awam, kita tak dibiarkan menanggung penasaran begitu saja. Sutradara, Yusron Fuadi, mencicil petunjuk tentang misteri utama dari film ini, yakni tengkorak raksasa itu sendiri, tidak melalui dialog melainkan melalui simbol-simbol yang jika dikumpulkan hingga menjelang akhir film, akan menggoda kita untuk menebak-tebak. Pada menit 21, secara sengaja kita disuguhkan gambar instalasi kaki raksasa dan yang menyusul setelahnya adalah pajangan sepeda pinggir jalan dengan terompet raksasa yang membuatnya tampak tak seimbang. Selain itu, pada menit 99, menjelang babak penguakan misteri film, ditampilkan patung malaikat. 

Sampai film berakhir, tak satu pun kita mendengar dialog yang mengatakan apa yang bersemayam di Situs Tengkorak. Tapi, dengan mengumpulkan petunjuk-petunjuk itu, didukung penyampaian pesan melalui visual dan audio (non dialog), kita bisa mengira-kira bahwa Situs Tengkorak adalah malaikat peniup terompet akhir zaman, yang dalam kepercayaan agama Islam, disebut sebagai Israfil. 

Kematian yang dipilih

Pada babak akhir film, ketika misteri tengkorak telah terpecahkan oleh Ani, dengan bantuan seorang penulis, kita mulai dipertontonkan fenomena dengan nuansa yang berbeda dari babak-babak sebelumnya. Begitu masuk pada babak akhir, tensi konflik seketika turun. Keributan dan gejolak yang ramai di babak-babak sebelumnya seolah mendingin seiring dengan dipecahkannya misteri Situs Tengkorak oleh  Ani. Ani yang kemudian bergegas menyampaikan temuannya pada pihak pemerintah berhasil meyakinkan pemerintah untuk mempertimbangkan kembali keputusan mereka meledakkan Situs Tengkorak.

Pemerintah mengambil keputusan untuk melakukan voting cepat menggunakan jaringan telepon seluler. Dan di sini kita bisa melihat, pada akhirnya, ketika keadaan telah demikian menghimpit, pemerintah memberikan otoritasnya pada rakyat sipil untuk menentukan pilihan. Dan rakyat yang selama film berjalan tak pernah atau terlambat mengetahui informasi secara transparan dari pemerintah, akhirnya mengambil keputusan yang salah, yang berujung pada akhir hidup , dengan penerimaan yang getir di akhir film.

Daftar Pustaka

Michel Foucault, Power/Knowledge: Wacana Kuasa/Pengetahuan, (Yogyakarta: Bintang Budaya, 2002), Hlm. 175.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *